By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Buah Simalakama Social Media
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Film

Buah Simalakama Social Media

Last updated: 23 Juni 2024 7:54 pm
Muhammad Fathur Rohman
Published: 23 Juni 2024
Share
SHARE
Social media, The Social Dilemma, Film The social dilemma, Resensi The social dilemma, Dampak sosial media, Bahaya media sosial
Tangkapan layar film The Social Dilemma (Dok. Khusus).

Ibarat makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Begitulah kiranya ungkapan yang sesuai dengan kehadiran social media. Social media atau media sosial memang memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia, seperti halnya membangun relasi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, mencari pendonor darah, hingga menemukan anggota keluarga yang hilang. Namun, ironisnya media sosial justru cenderung mengambil alih kehidupan manusia.

Dalam filmnya The Social Dilemma ini, Jeff Orlowski mengupas berbagai sisi gelap media sosial di balik kebermanfaatan yang selama ini kita ketahui. Tak tanggung-tanggung, dirinya juga mendatangkan beberapa narasumber terpercaya, mulai dari mantan Former Google Design Ethicist, Tristan Haris; mantan Facebook Engineer, Justin Rosenstein; mantan Experience Design Consultant Google, Joe Toscano; mantan President of Pinterest, Tim Kendall, hingga Former Executive Twitter, Jeff Seibert.

Film ini dimulai dengan sebuah prolog dari narasumber mengenai tanggapannya atas kehadiran media sosial. Mereka juga turut berbagi sederet kisah yang dialaminya selama bekerja di perusahaan besar Silicon Valley. Perusahaan besar ini kerap menggali data pribadi pengguna media sosial dalam jumlah besar untuk kepentingan komersial. Sampai-samapi istilah “If you’re not paying for the product then you are the product” pun digencarkan dalam film ini. Pasalnya, media sosial memang sengaja dirancang agar kita nyaman dan terpaku untuk terus menatap layar. Dari sinilah perusahaan media sosial memperoleh untung karena mereka dibayar oleh para pengiklan melalui berbagai layanan media sosial yang selama ini kita anggap gratis.

Meskipun berbentuk dokumenter, film The Social Dilemma juga dipadukan dengan selingan drama sederhana sehingga penonton tidak cepat bosan dengan penjelasan para narasumber. Drama dalam film dapat membantu penonton memahami lebih dalam mengenai dampak sosial media yang mengerikan. Namun, sayang cerita yang dibangun kurang dapat menceritakan penjelasan narasumber yang terbilang kompleks. Masalah yang dibahas mencakup penyelewengan media sosial, kesehatan mental, isu kapitalisme, perang budaya, hingga polarisasi politik. Sedangkan, isu dalam drama cenderung berkutat pada kondisi anggota keluarga yang tak bisa terlepas dari genggaman media sosial.

Drama dalam film bercerita mengenai kehidupan keluarga yang tak bisa lepas dari genggaman media sosial. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ayah, ibu, Cass (anak pertama), James Marshall (anak kedua), dan Isla (anak terakhir). Salah satu, kejadian tersebut adalah kejadian di saat Isla terlalu fokus pada media sosialnya hingga tak mendengar saat dipanggil dan diminta ibunya untuk menyiapkan meja makan. Kakak perempuannya, Cass pun menegur ibunya karena telah memberikan ponsel anaknya yang baru berusia 11 tahun. Namun, ibunya mengelak dengan dalih banyak teman Isla yang juga memiliki ponsel di usia yang sama.

Suatu ketika ibunya tersadar akan pentingnya membatasi penggunaan media sosial bagi anak. Dengan kesadaran tersebut, ibunya pun membuat peraturan agar saat makan bersama tidak ada satu orang pun yang boleh memegang ponsel. Setiap ponsel dalam keluarga itu dikumpulkan dan dikunci dalam kotak kosong oleh sang ibu. Isla pun dibuat gelisah dengan peraturan baru tersebut. Dirinya tak sabar ingin segera membuka ponselnya kembali saat mendengar notifikasi dari media sosialnya. Hingga akhirnya, Isla mencungkil kotak tadi dengan paksa.

Kejadian lain dialami oleh adik Cass, James Marshall yang selalu memerhatikan ponselnya saat jam kuliah; menunggu notifikasi yang belum jelas kapan dan dari siapa datangnya. Beberapa menit kemudian, dirinya ditandai di surat elektronik (surel) oleh temannya, Ben Rebecca. Notifikasi pun muncul di layar ponsel James dan dengan segera ia memeriksa notifikasi tersebut, meski dosennya sedang memberikan penjelasan perkuliahan. James juga berkomentar pada akunnya yang menandainya, “setidaknya salah satu dari kita tampak bagus”. Saat dibalas oleh Rebecca, informasi pada surel sengaja ditunjukkan bahwa Rebecca sedang mengetik agar James tak menutup layar surel. Begitu pun saat Rebecca hanya membalas komentar James dengan sebuah stiker, muncul saran stiker di ponsel James yang siap untuk membalas pesan Rebecca.

Kompleksitas Media Sosial

Media sosial memiliki sisi gelap yang cukup kompleks, tak sekadar berimbas sisi candu bagi seseorang. Kekompleksitasan tersebut terlihat dari dampak yang ditimbulkan ke berbagai dimensi, seperti halnya kesehatan mental, isu kapitalisme, perang budaya, hingga polarisasi politik. Kekompleksitasan tersebut memang sempat disinggung dalam selingan drama di film The Sosial Dilemma ini. Akan tetapi, Jeff Orlowski tak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kompleksitas tersebut. Kekompleksitasan ini hanya disebut secara singkat pada potongan-potongan berita yang di-highlight dan menjadi bagian dari skenario drama.

Di antara potongan berita tersebut menyebutkan bahwa terdapat keterkaitan antara penggunaan media sosial dengan kesehatan mental, adanya puluhan juta warga Amerika yang sangat kecanduan dengan alat elektronik mereka, mudahnya berita hoax tersebar di berbagai belahan dunia, munculnya Dismorfia Snapchat (keinginan kaum muda untuk operasi plastik agar wajahnya mirip dengan artis kegemarannya), bergantinya era informasi menuju era disinformasi, terkikisnya struktur sosial dilihat dari cara kerja masyarakat, hingga adanya kapitalisme pengawasan yang membentuk politik dan budaya dalam cara yang tak banyak orang pahami.

Pada bagian akhir film, Jeff Orlowski memberikan sajian tips dalam mengatasi kecanduan media sosial melalui para narasumber yang hadir. Beberapa tips tersebut yang dapat dilakukan adalah mematikan notifikasi dan menghapus semua media sosial yang mendistraksi, memilih menggunakan Qwant daripada Google karena tidak menyimpan riwayat pencarian yang dikhawatirkan memunculkan rekomendasi pencarian, menggunakan fitur ekstensi di Chrome agar tidak muncul umpan klik (rekomendasi), tidak asal meng-klik tautan, iklan, maupun rekomendasi, hingga memeriksa fakta, mempertimbangkan sumber, dan melakukan riset sebelum meyakini suatu informasi yang kita peroleh.

Film The Social Dilemma telah memperoleh penghargaan “Impact Film Award” di ajang Boulder International Film Festival tahun 2020. Dilansir dari situs IMDb, setidaknya film ini memperoleh rating 7.6/10 dari 90.000 ratings. Secara keseluruhan, film ini sangat menarik dan relevan menjadi tontonan di era disrupsi saat ini, khususnya bagi kalangan digital native. Selain itu, analisis dalam film mengenai sisi mengerikan dari media sosial disampaikan secara padat, jelas, dan mendalam. Akan tetapi, jalan cerita yang dibangun dalam drama kurang dapat menggambarkan penjelasan dari narasumber.

Judul: The Social Dilemma
Sutradara: Jeff Orlowski
Produksi: Larissa Rhodes
Penulis: David Coombe, Vickie Curtis, Jeff Orlowski
Pemeran: Tristan Harris, Aza Raskin, Justin Rosenstein, Shoshana Zuboff, Jaron Laneir, Skyler Gisondo, Kara Hayward, Vincent Kartheiseir, Anna Lembke
Durasi: 1 Jam 3 menit
Tanggal Rilis: 9 September 2020
Resentator: Muhammad Fathur Rohman

 

Mencari Sulaiman, Film Indie Berkoreo Fighting Sekelas Film Layar Lebar
[Resensi Film] Dewasa Belum Tentu Paham Seks Education
Cerita Hidup Seorang Penipu Ulung
Bapakism, Warisan Era Orde Baru
[Resensi Film] ‘Mukti utowo Mati’
TAGGED:bahaya media sosialdampak sosial mediafilm the social dilemmaresensi the social dilemmasocial mediathe social dilemma
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Mahfud Junaedi, Guru Besar FPI, UIN Walisongo
Sosok

Perjuangan Mahfud Junaedi Capai Gelar Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam

Redaksi SKM Amanat
30 September 2023
PBAK 2023 UIN Walisongo Hadirkan Najwa Shihab sebagai Bintang Tamu
Mahasiswa UIN Walisongo Tolak JKN
FST UIN Walisongo Buka Pemesanan Matkul Semester Gasal, Simak Selengkapnya di Sini!
Masjid Tertua Ketiga di Semarang, Berdiri Kukuh Mercusuar Peninggalan Belanda
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Buah Simalakama Social Media
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Buah Simalakama Social Media
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?