By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Film] Teori Relativitas Waktu Albert Einstein dalam Panggung Film
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Poster film Interstellar (2014). (www.movieklub.com)
Film

[Resensi Film] Teori Relativitas Waktu Albert Einstein dalam Panggung Film

Last updated: 26 Mei 2022 6:52 pm
Imamul Muqorrobin
Published: 24 Februari 2022
Share
SHARE
Poster film Interstellar (2014). (www.movieklub.com)

INTERSTELLAR adalah salah satu film terbaik garapan Christoper Nolan. Film yang tayang pada 2014 itu berhasil meraih beberapa penghargaan bergengsi, salah satunya adalah Piala Oscar (2015) kategori visual efek terbaik.

Film ini mencoba memberi ruang bagi para penonton untuk berpikir dari segi science. Selian itu, Interstellar juga sebagai rujukan fisika yang kemudian dituliskan dalam sebuah buku fisika modern berjudul The Science of Interstellar yang ditulis oleh Kip Thorne dan dipelajari di beberapa perguruan tinggi di Amerika maupun luar Amerika.

Awal film dibuka dengan kehidupan keluarga kecil yang hidup di belantara ladang jagung. Mereka tinggal di sebuah pondok kecil, kumuh, lingkungan mereka pun sama buruknya dengan penuh debu. Kehidupan keluarga kecil ini terlihat lesu, Cooper seorang mantan astronot yang sudah menduda dengan kesibukan mengurus ladang, Donald (ayah mertua Cooper) pemabuk berat, Murph (anak Cooper) selalu merasa dikejar-kejar hantu, sementara Tom (adik ipar laki-laki Cooper) yang ingin mandiri selalu terkekang aturan keluarga.

Cooper digambarkan sebagai penderita imsomnia yang diganggu oleh mimpi-mimpi buruk tentang misi penerbangan masa lalu yang nyaris merenggut nyawa. Sementara itu, lingkungan keluarga kecil ini tinggal juga dihantui mimpi buruk, wabah penyakit, hama jagung yang ganas, dan badai debu yang berdampak buruk bagi paru-paru.

Manusia perlu mencari planet baru untuk kelangsungan hidup generasi mendatang. Ambisi memecahkan misteri kehidupan di gugus galaksi bintang, NASA berdiskusi dan menentukan keputusan untuk memberangkatkan manusia menuju perjalanan antar bintang.

Cooper, astronot yang jenius sekaligus ambisius dipercaya NASA membawa misi penerbangan luar angkasa, bersama tim dari NASA mereka memikul banyak tugas disertai prosedur tertentu bila harus menghadapi situasi sulit serta tingkat probabilitas kesuksesan misi ini juga sedikit, dalam artian misi penerbangan bisa sukses dan bisa gagal.

Sebelum berangkat Cooper memberikan tanda mata berupa jam kuno bermerk Hamilton kepada putrinya, Murph, sebagai kenang-kenangan jika nanti berjumpa kembali di bumi dengan persepsi waktu dan umur yang berbeda.

Dalam menjalankan misi mulia itu, nyawa Cooper sempat terancam oleh sesama manusia, yakni ketika Cooper datang ke planet Dr. Miller. Cooper membangunkan Dr. Miller dari hibernasi. Namun, Dr. Miller justru ingin merebut pesawat milik Cooper dengan cara membunuh yang pada akhirnya menewaskan Dr. Miller.

Perjalanan dramatis Cooper dan kawan-kawan dimulai hingga sampai pada titik akhir. Cerita film ditutup dengan Cooper dan kawan-kawannya terseret ke dalam lubang hitam dan tiba-tiba terbangun dalam ruang 5 dimensi.

Dalam industri film banyak penulis skenario yang memiliki imajinasi dan kreativitas super tinggi. Namun, sedikit yang mampu mengemasnya menjadi sebuah cerita epik sebaik Christopher Nolan. Ia mampu menulis cerita sederhana untuk film dengan menyematkan materi-materi berat science yang sulit dipahami orang awam.

Selain itu, Nolan berhasil membuat penonton merenungkan pesan tentang kemanusiaan yang hendak disampaikan. Manusia kadang bisa sangat mulia, melakukan suatu misi demi keberlansungan hidup spesiesnya, tetapi di satu sisi sangat jahat karena tidak segan untuk membunuh individu atau populasi manusia tertentu.

Sifat jahat manusia muncul ketika naluri bertahan hidupnya terancam. Kemampuan manusia yang tertinggi selain bertahan hidup juga adalah mencintai. Rasa cinta yang belum bisa dihitung secara ilmiah, tetapi bisa dipastikan bahwa ada. Nolan juga mengeksplor perasaan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak mampu hidup tanpa manusia lain yang dikemas dalam pertunjukan film dengan materi science.

Presentasi Teori Rrelativitas Waktu Albert Einstein

Pada dasarnya Interstellar menggambarkan teori-teori tentang konsep relativitas yang dipadukan dengan cerita yang menguras emosi maupun pikiran bagi penonton. Namun, sayang, padatnya cerita yang dibubuhi materi seperti itu justru memberatkan penonton tanpa memutar ulang film tersebut.

Alur cerita dengan scene-scene pendek cukup menyulitkan untuk memahami konsep-konsep fisika. Berlandaskan teori relativitas waktu yang dikemukakan oleh Albert Einstein, dalam Interstellar digambarkan dalam beberapa scene saja. Dalam scene ini Cooper bersama rekan timnya pergi ke suatu planet yang dekat dengan “black hole”. Dalam planet ini jika manusia menetap selama satu jam di planet tersebut sama dengan 7 tahun di bumi.

Itu artinya, wahana kehidupan di gugusan bintang punya konsep waktu berbeda dengan bumi. Einstein beranggapan bahwa “Waktu adalah relatif tergantung pada kecepatan pengamat. Pengamat yang diam di bumi akan merasa waktu berjalan dengan normal. Namun, jika pengamat lain yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan merasa waktu berjalan lebih lambat, inilah yang disebut dengan dilatasi waktu.”

Kesuksesan film yang digaungkan juga tak luput dari kritikan seorang scientis astrofisika, Neil deGrasse Tyson, ia menyebut Interstellar tidak selaras dengan pemahamanya sebagai seorang astro-fisikawan.

“Dalam Interstellar mereka menjelajahi sebuah planet dekat Lubang Hitam. Secara pribadi, saya akan tetap menyingkir sejauh mungkin dari Lubang Hitam sebisa saya,” kata Tyson.

Dalam kasus serupa, Interstellar juga sempat menjadi bahan perdebatan panjang para scientis pada awal tahun 2015 silam. Namun, dari banyaknya penghargaan yang diperoleh dan dijadikan rujukan akademis di berbagai universitas cukup membuktikan bahwa Insterstellar pada akhirnya berhasil diterima dalam dunia industri film dan sumbangsih pengetahuan.

 


Judul Film: Interstellar
Sutradara dan Skenario: Christopher Nolan
Pemeran: Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Michael Caine
Produksi: Legendary Pictures
Rilis: 6 November 2014
Durasi: 169 menit

Resentator: Imamul M.

Kisah Hawa dan Dunia Zombi
Ngeri-Ngeri Sedap: Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga
[Resensi Film] ‘Mukti utowo Mati’
Recall Reformasi Melalui Mockumentary
Bapakism, Warisan Era Orde Baru
TAGGED:film interstellarresensi filmresensi film baratresensi film interstellar
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Meningkatkan Skill Berbahasa Inggris di UKM WEC UIN Walisongo

Rima Dian Pramesti
27 Agustus 2017
Dialog Publik DEMA-FITK, Naungi Organisasi Supaya Punya Prestasi
Kita Bunuh Saja Aku
Jamalul Lail, Penerima Beasiswa Bidikmisi Jadi Wisudawan Terbaik FUHum
Mahasiswa UIN Walisongo Harus Ajukan Keringanan untuk Dapat Pengembalian UKT 50%
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Film] Teori Relativitas Waktu Albert Einstein dalam Panggung Film
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: [Resensi Film] Teori Relativitas Waktu Albert Einstein dalam Panggung Film
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?