By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
Reading: Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
SeARCH
Have an existing account? Sign In
Follow US
ArtikelOpini

Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang

Last updated: 2 November 2022 2:54 pm
Rizkyana Maghfiroh
Published: 2 November 2022
Share
SHARE
perdebatan di media sosial
Ilustrasi berdebat. (Pixabay)

Perdebatan di media sosial kian marak terjadi oleh warganet dari berbagai kalangan. Bahkan, dari banyaknya perdebatan yang muncul itu, tak jarang bermula dari sebuah celetukan ringan yang kemudian berakhir menjadi perdebatan panjang.

Orang-orang di media sosial menyebutnya sebagai kaum open minded dan kaum mind blowing. Hendrik Lim mendefinisikan open minded sebagai sikap yang terbuka dan berani berbagi. Sementara mind blowing dimaknai sebagai kaum yang memiliki pandangan berbeda terhadap sesuatu dan cenderung memiliki pandagan yang lebih baru.

Pertikaian antara kaum open minded dengan kaum mind blowing banyak terjadi ketika dua kaum tersebut saling mengukuhkan diri sebagai orang yang paling benar. Bahkan, dalam hal sekecil apapun.

Dari pengertian yang diberikan oleh Hendrik Lim, kita mungkin sepakat bahwa pikiran dan pandangan mereka terhadap suatu permasalahan berdasarkan logika dan pikiran terbuka. Akan tetapi, ada semacam oknum—meminjam istilah hukum—yang kemudian menyulut api pertikaian. Mereka dengan bangga mengakui diri sebagi kaum paling terbuka secara pikiran, padahal kebalikannya.

Bahkan, celetukan ringan pun bisa berakhir menjadi perdebatan panjang yang justru merugikan banyak pihak. Dari pertikaian tersebut, jelas ada sebuah kesalahpahaman pemikiran yang diusung oleh masing-masing kubu sebagai bentuk dari cacat logika.

Cacat Logika sebagai Pemicu Perdebatan di Media Sosial

Browne dan Keely (2007) mendefinisikan cacat logika sebagai kesalahan berlogika yang berasal dari asumsi keliru, sebagai cara untuk mengelabuhi orang lain menggunakan nalar yang menyesatkan dan seolah mendukung suatu kesimpulan secara logis.

Beberapa cacat logika yang sering terjadi, baik di media sosial maupun kehidupan sehari-hari antara lain menyerang orang yang memiliki pendapat berbeda (ad hominem); mengungkit masa lalunya (to quoque); menilai lawan dengan argumen yang tidak sesuai—biasanya dengan kata “baperan” (strawman); latah mengikuti opini yang sedang trending atau yang dilontarkan orang terkenal (appeal to popularity or authority); mencocokkan dua isu berdasarkan pendapat pribadi atau cocoklogi (false cause).

Ada juga yang membenarkan pendapat yang sudah ada sejak lama padahal belum tentu benar (bandwagon); hanya menyajikan dua sudut pandang (false dichotomy)—yang bukan A, pasti B; mengabaikan opini atau informasi yang tidak sesuai dengan pendapatnya (cherry picking); skeptis pada hal-hal yang tidak diketahui cara kerjanya (personal insecurity); dan meminta orang lain menunjukkan bukti bahwa pemikirannya keliru (burden of proof)—padahal seharusnya dia yang membuktikan kebenaran pendapatnya.

Dari pertikaian tersebut, dapat dipahami bahwa orang-orang akan selalu meneguhkan idealisme mereka sebagai orang paling benar, meskipun dalam kenyataannya apa yang dilakukan adalah sebuah kesalahan.

Kita juga tidak bisa memberikan stigma negatif kepada kedua belah pihak yang sama-sama mengaku paling benar. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kemudian kita menjadi pihak yang tak terlibat dari pertikaian-pertikaian tidak penting di media sosial.

Penulis: Rizkyana Maghfiroh

Refleksi Agar Diri Merasa Pantas Untuk Dicintai
Inner Child: Luka Trauma Masa Kecil dan Cara Menanggapinya
Perihal Orang Bodoh yang Tidak Mau Mengakui Kebodohannya
Yang Melejit dan Hilang Seketika di Pilpres 2019
6 Rekomendasi Model Sepatu Bagi Mahasiswa
TAGGED:cacat logikamedia sosial
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
war tiket haji, kebijakan haji indonesia, antrean haji indonesia, kota haji, kemenhaj, jamaah haji indonesia
ArtikelOpini

Problematika Wacana “War” Tiket Haji di Indonesia

Makrufiyah
26 April 2026
UIN Walisongo Bebaskan UKT Semester Genap 2025/2026 bagi Mahasiswa Terdampak Banjir dan Longsor di Sumatera
Merespon Isu Politik Sebagai Lelucon, HMJ Ilmu Politik Adakan Stand Up Comedy Competition
Dekan FITK Tekankan Guru Pamong Tumbuhkan Profesionalisme Mengajar
DEMA UIN Walisongo Desak Rektorat untuk Bentuk Satgas PPKS
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?