
Amanat.id- Mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo melaksanakan aksi orasi pada hari kedua pelaksanakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di depan landmark, Rabu (19/8/2026).
Mahasiswa baru FTIK menyampaikan tiga isu utama dalam aksi tersebut:
1. Menuntut berbagai persoalan yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia mulai dari akses, infrastruktur, komersialisasi, serta kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam dunia pendidikan
2. Menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan kriminalisasi terhdap aktivis, mahasiswa, jurnalis, pembela Hak Asasi Manusia (HAM), serta masyarakat dalam menyuarakan hak konstitusinya.
3. Mendesak pemerintah untuk menghentikan perampasan wilayah serta menjamin hak-hak masyarakat adat.
Koordinator lapangan aksi tersebut, Muslih Afina menyebutkan tiga isu utama tersebut merupakan tuntutan yang perlu disuarakan karena melenceng dari koridor demokrasi.
“Kami menilai persoalan tersebut sudah melenceng dari koridor demokrasi serta kepentingan rakyat sehingga kami harus segera menyuarakannya agar persoalan tersebut tidak membusuk semakin lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan aksi tersebut merupakan simbol kegelisahan terhadap berbagai isu yang terjadi.
“Aksi ini merupakan simbol akumulasi kegelisahan kami terhadap berbagai isu yang terjadi, dari isu lama yang sangat lambat penanganannya hingga persoalan baru akibat ketidaktegasan pemerintah,” ungkapnya.
Dirinya berharap pemerintah mampu menindaklanjuti persoalan yang terjadi di masyarakat.
“Pastinya kami ingin suara kami bukan hanya sekadar didengar, tapi pemerintah juga harus mampu menanggapi berbagai persoalan tersebut secara terbuka dan transparan,” lanjutnya.
Muslih mengatakan bahwa aksi tersebut juga bagian dari pengenalan kepada maba akan tanggung jawab moralnya sebagai mahasiswa.
“Ini juga merupakan bentuk pengenalan dan pengingat mengenai tanggung jawab kita sebagai mahasiswa dan kaum berpendidikan untuk selalu tanggap terhadap berbagai persoalan yang hadir di negeri ini,” pungkasnya.
Mahasiswa baru Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Reza Dwi Aditnya mendukung adanya pelaksanaan aksi tersebut.
“Sebagai mahasiswa baru FTIK, kami juga mempertanyakan kesejahteraan guru, apalagi orientasi kami sebagai mahasiswa Tarbiyah adalah sebagai guru,” ujarnya.
Reza juga mempertanyakan hak-hak guru yang ada di Indonesia.
“Dengan keadaan yang seperti ini apakah layak bagi seorang guru yang mencerdaskan bangsa, seorang pahlawan tanpa tanda jasa diperlakukan sedemikian rupa hak-haknya?” terangnya.
Bagi Reza, pemimpin negeri seharusnya mampu memahami kepentingan masyarakat.
“Saya menentang kebijakan yang tumpul dan tidak mementingkan pendidikan di Indonesia. Sudah seharusnya para pemimpin negeri lebih memahami hal tersebut,” tuturnya.
Senada dengan Reza, mahasiswa Prodi PAI lainnya, Mohammad Dimas Ardiansyah turut menanggapi aksi tersebut dengan terbuka.
“Sebagai mahasiswa baru, saya menanggapi aksi tersebut dengan sikap terbuka dan positif,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa dengan adanya aksi tersebut membuatnya sadar bahwa mahasiswa harus pedli dengan lingkungan sekitar.
“Aksi ini memberikan impresi kepada saya bahwa dinamika mahasiswa di kampus ini sangat hidup. Saya sadar menjadi mahasiswa tidak hanya soal belajar di kelas, tapi juga tentang peduli pada lingkungan sekitar,” tutupnya.
Reporter: Dinda Alfiani


