
Amanat.id– Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang telah menyelenggarakan Debat Calon ketua dan wakil ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) yang bertempat di Landmark Kampus 3, UIN Walisongo Semarang, Rabu (25/12/2025).
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Marwan mengatakan munculnya calon tunggal tidak lepas dari timeline Pemilwa 2025 yang terlalu singkat.
“Kalau dilihat dari timeline memang sangat mepet. Dari birokrasi semuanya mendadak karena ada batas waktu yang harus segera diselesaikan,” katanya saat diwawancarai Tim Amanat.id, (22/12).
Ia mengaku prihatin atas munculnya calon tunggal DEMA Universitas yang menandakan turunnya demokrasi di lingkup UIN Walisongo.
“Saya sangat prihatin pada kemerosotan demokrasi yang ada di UIN Walisongo sekarang. Hal ini direalisasikan dengan hanya ada satu paslon yang mencalonkan diri sekelas DEMA-U,” ujarnya.
Marwan mengatakan timeline pemberkasan yang singkat menyulitkan partai mahasiswa dalam menyiapkan dan melengkapi persyaratan pencalonan.
“Pemberkasan itu cuma diberi waktu satu hari. Mau tidak mau, kalau partai ingin mencalonkan kadernya, semua berkas harus langsung lengkap di hari itu,” sambungnya.
Serupa dengan pendapat Marwan, Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH), Muhammad Zaki Indra mengatakan bahwa KPM merancang timeline Pemilwa 2025 secara tidak logis.
“Karena KPM memiliki tugas untuk melaksanakan Pemilwa, perancangan timeline pemberkasan hanya satu hari itu menurut saya tidak logis,” ucapnya saat diwawancarai Tim Amanat.id, (24/12).
Zaki menambahkan jika adanya kotak kosong adalah bentuk demokrasi yang tidak sehat dalam kampus.
“Saya kira kotak kosong itu mencerminkan demokrasi yang tidak sehat di dalam kampus. Karena pemilihan tanpa adanya pilihan itu merupakan bentuk demokrasi yang gagal,” tambahnya.
Berbeda pandangan dengan Zaki dan Marwan, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), Muhammad Adika Arifin mengatakan bahwa adanya kotak kosong merupakan bentuk demokrasi yang sah.
“Bagiku sah-sah saja calonnya tunggal dan lawannya kotak kosong. Memilih kotak kosong itu bentuk ekspresi mahasiswa, setidaknya masih menghargai proses demokrasi di kampus,” paparnya saat diwawancarai Tim Amanat.id (24/12).
Menanggapi Adanya calon tunggal pada Pemilwa 2025, Adika mengatakan hal tersebut merupakan representasi turunnya daya kompetitif mahasiswa.
“Jika banyak terdapat calon tunggal dalam Pemilwa kali ini, dari situ terlihat bahwa daya kompetitif mahasiswa yang menurun,” ujarnya.
Ketua KPM, Akhmad Maskuri mengatakan calon DEMA UIN Walisongo 2025 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu hanya ada satu kandidat.
“Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kandidat DEMA-U 2025 itu hanya satu pasangan. Ketua dan wakilnya saja,” ujarnya.
Menurutnya hal tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dalam proses pemberkasan pencalonan.
“Karena mahasiswa semester tujuh dan delapan fokusnya sudah berbeda. Juga proses pemberkasan pengajuan calon DEMA yang panjang, dinamikanya banyak, dan berkas pencalonannya cukup rumit,” sambungnya.
Meski hanya diikuti oleh satu pasangan calon, Maskuri menegaskan tetap menjaga prinsip demokrasi dengan menghadirkan kotak kosong sebagai pilihan.
“Walaupun tidak ada lawan calon, pemilihan nanti tetap ada kotak kosong dan tetap diuji oleh panelis serta audiens,” jelasnya.
Maskuri mengaku Pemilwa 2025 mengalami banyak tantangan, diantaranya tahapan Pemilwa yang harus dilaksanakan secara padat tanpa jeda.
“Biasanya setelah Ujian Akhir Semester (UAS) sudah tidak ada aktivitas. Tapi sekarang jadwalnya padat tanpa jeda. Hari ini debat, besok langsung pemilihan. Sejauh ini kendala teknis tidak ada, cuma timeline pengerjaannya sedikit mundur ke akhir Desember,” tutupnya.
Reporter: Ahmad Dawud Khairudin
Editor: Melini Rizki



