
Amanat.id– Debat kandidat Ketua dan Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) molor hingga dua jam, Senin (22/12/2025).
Acara yang semula dijadwalkan pukul 13.00 WIB harus molor sekitar pukul 15,45, menaggapai hal tersebut Ketua KPM UIN Walisongo, Akhmad Maskuri mengatakan kegiatan tersebut bisa mundur karena memerlukan persiapan.
“Rencana kegiatan dilaksanakan pukul satu siang karena diambil setengah harian, pagi untuk debat jurusan dan fakultas dan sore untuk debat universitas, sebenarnya tadi sudah dikonfirmasikan kepada teman-teman bahwa debat dimulai pada pukul 14.30, sedangkan jam 13.00 itu terkait persiapannya,” titahnya.
Kegiatan tersebut bisa mundur, lanjutnya, juga karena terkendala hujan meskipun panelis telah siap untuk memulai kegiatan tersebut.
“Karena melihat cuaca yang sedang hujan, maka acara belum bisa dimulai. Sebenarnya saya tadi sudah dihubungi oleh panelis. Namun, karena masih hujan maka belum bisa dilaksanakan,” katanya.
Ia mengatakan kegiatan debat hanya berlangsung sebentar karena calon Ketua dan Wakil Ketua DEMA UIN Walisongo pada Pemilwa 2025 hanya satu.
“Nanti setelah hujan reda bisa langsung dimulai acaranya, sebenarnya debat sore ini tidak begitu lama karena memang calonnya tidak banyak,” tambahnya.
Maskuri menjelaskan kegiatan debat dilaksanakan secara outdoor karena terkendala batas waktu peminjaman tempat yang diberikan kampus.
“Karena jika dilaksanakan indoor pada sore hari, waktu pelaksanaan menjadi terbatas mengingat hampir seluruh penyewaan ruangan hanya tersedia hingga pukul 16.00. Daripada kegiatan harus dihentikan pada pukul tersebut, panitia memilih outdoor agar acara dapat berlangsung lebih leluasa dan disaksikan oleh lebih banyak mahasiswa,” ujarnya.
Ia menjelaskan minimnya ketersediaan ruangan berkapasitas besar membuat debat lebih memungkinkan dilaksanakan di luar ruangan.
“Untuk pelaksanaan indoor sebenarnya saya sudah berupaya menghubungi beberapa ruangan yang kapasitasnya memadai seperti auditorium I dan auditorium II tapi sudah full semua, bisanya hanya di ruang kelas. Namun, jika di kelas nanti pelaksanaanya akan tidak maksimal sehingga lebih baik dilaksanakan di outdoor,” tuturnya.
Mahasiswa Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI), Bima Ryan Pratama menyampaikan acara tersebut seharusnya bisa dilaksanakan tepat waktu.
“Untuk acara yang sekiranya penting seharusnya dapat dilaksanakan tepat waktu, tidak melebihi 2 jam bahkan hingga hujan seperti ini,” ujarnya.
Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa tertundanya acara berpengaruh pada debat yang menjadi tidak maksimal.
“Kita tetap harus menghargai waktu, terlebih jika keterlambatan tersebut sampai membuat audiens menunggu. Di sisi lain, hal yang paling penting dalam debat adalah isi yang disampaikan. Namun, karena keterbatasan waktu, isinya menjadi lebih sedikit,” terangnya.
Ia juga memberikan masukan kepada panitia untuk bisa mengatur waktu dan tempat dengan baik saat mengadakan kegiatan.
“Lebih strategis dalam mengatur waktu dan tempatnya, untuk mengantisipasi adanya hal yang tak terduga seperti hujan kali ini,” tutupnya.
Reporter: Nur Rofiqoh Nabila
Editor: Romaito



