
Amanat.id- Mahasiswa kelahiran Wonogiri, Rasya’ Alfirdaus berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik Fakultas Usluhuddin dan Humaniora (FUHUM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93 pada wisuda sarjana ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang di Gedung Prof. TGK. Ismail Yaqub, Sabtu (7/2/2026).
Ia berhasil menyelesaikan studinya selama 3 tahun 5 bulan dengan menerbitkan artikel ilmiah berindex Science and Technology Index (SINTA) 3 berjudul “Makna Qasd As-Sabil dalam Alquran (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu)”.
Rasya memanfaatkan peraturan kampus yang menyatakan mahasiswa dapat lulus melalui publikasi jurnal dengan akreditasi minimal SINTA 3.
“Dalam pedoman tugas akhir di UIN Walisongo, tertera bahwa mahasiswa dapat lulus melalui jalur publikasi artikel ilmiah dengan akreditasi minimal SINTA 3,” ucapnya.
Rasya mengatakan bahwa artikel ilmiah yang diajukan sebagai pengganti skripsi berasal dari mata kuliah Semantik Al-Quran.
“Artikel yang saya buat berasal dari mata kuliah Semantik Al-Qu’ran sebagai pengganti skripsi,” titahnya.
Ia mengatakan bahwa ‘Qasd As-Sabil’ dimaknai sebagai ‘jalan yang lurus’, namun ada beberapa mufassir yang memaknainya dengan kata lain.
“‘Qasd As-Sabil’ itu dimaknai sebagai ‘jalan yang lurus’. Namun, ada beberapa mufassir yang memaknainya dengan kata lain seperti jalan makrifat, jalan yang tidak berbelok, cahaya petunjuk, dan lainnya,” jelasnya.
Dalam penelitiannya, ia ingin membahas relevansi dan asal makna tersebut bisa muncul dari sudut pandang semantik Toshihiko Izutsu.
“Setelah saya kaji dari sudut pandang semantik Toshihiko Izutsu, perbedaan ternyata tidak selamanya dipandang sebagai kontradiksi,” ujarnya.
Rasya memaparkan jika ilmu semantik Toshihiko Izutsu berpendapat bahwa pemaknaan lain bisa muncul akibat dari hubungan sistemik yang memiliki kedekatan makna.
“Semantik Toshihiko Izutsu melihat dan mengkaji bahwa makna tidak hanya dari kata tetapi juga relasi dengan kata-kata lain yang serupa, kemudian dilihat dari sisi historis dan filosofisnya,” ucapnya.
Rasya mengatakan bahwa rintangan terberat dalam proses pengerjaan tugas akhirnya adalah menyeimbangkan perkuliahan dengan kesibukan di pondok pesantren.
“Yang berat dalam proses saya itu ketika harus bisa membagi waktu untuk menyeimbangkan kesibukan pondok pesantren tanpa menganggu perkuliahan,” ungkapnya.
Bagi Rasya, manajemen waktu yang baik merupakan solusi untuk menyeimbangkan kegiatan pesantren dengan berkuliah.
“Solusinya di manajemen waktu. Semua tugas kuliah saya kerjakan di siang hari atau ketika ada waktu luang di kampus agar malam harinya saya bisa fokus di pesantren,” ucapnya.
Rasya menjelaskan dari manajemen waktu dan persiapan, di semester 7 ia sudah mempunyai bekal tugas akhir.
“Ketika semester 7 atau masa skripsi, alih-alih memikirkan penelitian, kita sudah punya bekal untuk diajukan sebagai tugas akhir,” ujarnya.
Rasya berpesan pada mahasiswa UIN Walisongo untuk terus menekuni dan memaksimalkan kuliah seperti artikel dan karya tulis ilmiah yang nantinya dapat diajukan menjadi tugas akhir.
“Tips dari saya untuk para mahasiswa bisa lebih serius lagi dalam mengerjakan tugas selama masa kuliah, karena nantinya akan sangat membantu dan memberikan inspirasi untuk tugas akhir,” tutupnya.
Reporter: Muhammad Maulana
Editor: Dinda A.



