
Amanat.id- Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Al-quran dan Tafsir (IAT), Muhammad Yusuf Pratama dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ushuludin dan Humaniora (FUHUM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dengan IPK 3.87 pada wisuda sarjana ke-98 yang diadakan di Gedung Prof. TGK. Ismail Yaqub, Sabtu (1/11/2025).
Yusuf berhasil lulus selama 3 tahun 5 bulan dan mendapatkan predikat wisudawan terbaik FUHUM setelah menerbitkan artikel ilmiah berindex Science and Technology Index (SINTA) 2.
Alasan Yusuf memilih artikel ilmiah dibandingkan skripsi karena tidak ingin mengalami banyak drama di sisa semesternya.
“Supaya tidak banyak drama di semester akhir,” katanya.
Selain memilih artikel ilmiah, alasan Yusuf untuk lulus cepat karena ingin melanjutkan studi dan menjadi dosen muda.
“Serta keinginan saya untuk menjadi dosen muda,” ucapnya.
Artikel ilmiah berjudul “Living The Quran: Exploring Dala’il A Khairat In Indonesia As A Bridge Between Devotional Tradition And Emotional Experience” yang dibuatnya menjelaskan pengamalan sholawat pada kitab Dala’il A Khairat. Dengan penelitiannya tersebut juga, Yusuf mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87.
Menurut Yusuf pengamalan sholawat dalam kitab Dala’il A Khoirot dapat membuat jiwa seseorang menjadi sejahtera dan saling terhubung antar masyarakat.
“Pengamalan sholawat pada kitab Dala’il A Khairat dapat membuat jiwa menjadi sejahtera serta menghubungkan masyarakat antara satu sama lain,” tuturnya.
Dengan menggunakan pendekatan living Quran, Yusuf mendapatkan isu pembahasan yang baru dari kitab Dala’il A Khairat.
“Dala’il A Khoirot dikaji dengan pendekatan living Quran sehingga dapat ditemukan pembaruan yang belum pernah diteliti,” jelas Yusuf.
Optimis dan pantang menyerah menjadi modal Yusuf dalam mengerjakan artikel. Menurutnya yang sulit dalam pengerjaan tugas akhir adalah keengganan untuk belajar dan mulai menulis.
“Membuat artikel ilmiah jika tahu triknya mudah, yang susah adalah tidak mau belajar dan terus menulis,” ujarnya.
Kendala biaya penerbitan yang mahal hingga hilangnya semangat menulis tiba-tiba menjadi kendala dalam penulisan artikel ilmiah.
“Kendala pertama terkait biaya yang semakin mahal, serta kendala lainnya berupa semangat kepenulisan dan tidak adanya pengarahan cara membuat penelitian yang terstruktur,” ucapnya.
Namun, Yusuf mengaku terbantu dengan biaya melalui kolaborasi dan membantu dosen.
“Sebagian besar dibayarkan dosen, saya hanya bayar sekitar 30% dari biaya total,” tuturnya.
Yusuf berpesan untuk seluruh mahasiswa agar terus berprestasi dan membanggakan bagi keluarga.
“Jadilah orang yang membanggakan dan berprestasi, terutama bagi keluarga,” tutupnya.
Reporter: Anisa Atun Maryam
Editor: Dinda Alfiani



