
Amanat.id- Mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi (TI) Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Nuurun Najmi Qonita berhasil menggaet predikat skripsi terbaik pada wisuda sarjana ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Skripsinya berjudul “Chatbot Digital Forensik Menggunakan LLM Deepseek, dan NER untuk Investigasi Bukti Elektronik Otomatis” ia dapati dari kegemarannya menonton film bergenre kriminal.
“Dulu saya peminat film dengan genre crime, sehingga sering melihat proses detektif itu menganalisis bukti fisik maupun digital. Nah, dari situ saya tertarik untuk mendalami digital forensik,” tuturnya.
Dalam skripsinya, ia membahas mengenai inovasi yang dapat membantu para investigator dalam menganalisis bukti-bukti digital.
“Chatbot digital forensik bisa membantu pekerjaan para detektif secara lebih akurat dan mempersingkat waktu,” tuturnya.
Ia menjelaskan cara kerja Chatbot tersebut dengan menghubungkan aplikasi Telegram yang diintegrasikan dengan Large Language Model (LLM) Deepseek dan Name Entity Recognition (NER).
“Untuk chatbot-nya sendiri menggunakan Telegram sebagai interface-nya, kemudian diintegrasikan dengan LLM Deepseek, dan NER atau Name Entity Recognition,” ujar perempuan yang akrab disapa Oniq.
Pada chatbot digital forensik buatannya disediakan menu-menu yang membantu pengguna melakukan analisis bukti.
“Ketika user membuka chatbot digital forensik ke Telegram, nanti terdapat menu-menu yang disediakan untuk melakukan analisis. Bisa untuk mendeteksi sistem log, lokasi, dan semacamnya,” jelasnya.
Oniq menyebutkan cara kerja chatbot buatannya cukup dengan memasukkan bukti berupa gambar.
“User dapat memasukkan barang bukti berupa gambar, lalu untuk output-nya sendiri akan muncul metadata berupa tipe HP atau device yang digunakan, waktu, dan lokasi pengambilan,” ucapnya.
Perempuan asal Kudus itu sempat merasa kesulitan sebab keterbatasan data set yang sebagian tidak dibuka untuk publik.
“Kesulitannya ada di keterbatasan data set. Karena berhubungan dengan pihak kepolisian, jadi tidak semuanya open source atau dibuka untuk publik,” paparnya.
Ia juga menyadari jika chatbot buatannya masih memiliki kekurangan dalam hal akurasi.
“Untuk chatbot yang saya bikin sendiri masih kurang akurat untuk mendeteksi semisal ada manipulasi foto,” ucapnya.
Oniq sangat bersyukur mendapatkan dosen pembimbing yang mau ikut andil dalam penelitiannya.
“Saat bimbingan tidak ada kendala. Alhamdulillah saya dapat dosen pembimbing yang bisa merangkul dan ikut andil dalam riset juga,” tuturnya.
Menurut oniq, dalam berusaha tidak masalah untuk istirahat ketika mulai lelah.
“Ketika sedang berjuang, jeda sebentar itu tidak apa-apa. Itu wajar,” tutupnya.
Reporter: Nijam Alfatul Khasna



