
Kehidupan mahasiswa merupakan transisi dari masa sekolah menengah ke perguruan tinggi. Banyak perubahan yang akan dialami, salah satunya adalah pola pikir. Pola pikir yang dimiliki saat masa sekolah menengah tentu akan mengalami eskalasi seiring dengan proses penyerapan beragam informasi.
Mahasiswa dengan penyematan kata “maha” di depan kata “siswa” menunjukkan bahwa perjalanannya akan lebih berat dibanding bangku sekolah. Mahasiswa dituntut untuk bisa menyeimbangkan akademik dan non-akademik, dituntut agar bisa peka terhadap situasi setelah lulus dari bangku perkuliahan.
Bagaimana jadinya jika mahasiswa hanya fokus pada akademik dan abai dengan non-akademik? Lantas jika demikian, tidak ada bedanya antara siswa dan mahasiswa. Karena yang menjadi pembeda keduanya terletak pada kapabilitas dalam menyelaraskan kemampuan akademik dan non-akademik secara beriringan.
Keseimbangan Pengetahuan dan Keterampilan
Lumrahnya, tenaga kerja membutuhkan 82% soft skill dan 18% hard skill. Hal tersebut sebagaimana diteliti oleh National Association of Colleges and Employers (NACE). Secara eksplisit menunjukkan baik soft skill dan hard skill melengkapi satu sama lain.
Saat memasuki dunia kerja, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hanya menjadi pengantar ke gerbang peralihan antara dunia perkuliahan dan dunia kerja. Karena memang ada persyaratan minimal yang harus dipenuhi agar bisa lolos screening awal pendaftaran kerja. Namun, setelahnya mahasiswa tidak bisa sepenuhnya mengandalkan akademik itu lagi.
Dunia kerja adalah tentang bagaimana mahasiswa bisa mengimplementasikan apa yang didapat selama perkuliahan. Juga dibutuhkan soft skill dan hard skill tertentu agar bisa menyelaraskan diri sebagai karyawan perusahaan.
Soft skill dan hard skill adalah bekal yang bisa dibawa mahasiswa untuk bertahan di dunia kerja. Misalnya, kamu yang statusnya sudah berubah dari mahasiswa menjadi karyawan perusahaan, dihadapkan dengan permasalahan tertentu. Kamu harus memikirkan solusi kreatif agar bisa keluar dari permasalahan tersebut. Di sinilah peran problem solving skill-mu diuji.
Bayangkan jika kamu tidak terbiasa dengan pemecahan masalah, karena hanya fokus meningkatkan nilai akademik saja, bagaimana kamu akan menyelesaikan permasalah real nantinya.
Misalnya lagi, kamu dipercaya untuk memimpin suatu proyek tim karena pimpinan perusahaan percaya pada kepintaranmu. Berbekal kepandaian saja tidak cukup, tentu akan dibutuhkan skill komunikasi dan manajemen tim yang baik agar proyek tersebut bisa terselesaikan.
Itulah mengapa perlunya keseimbangan antara akademik dan non-akademik bagi seorang mahasiswa. Akan sangat bagus jika mahasiswa memiliki akademik yang unggul dibarengi juga dengan kemampuan yang didapat di ranah non-akademik. Maka, merekalah yang bisa bertahan dengan segala kultur dan perubahan di dunia kerja.
Eva Salsabila


