By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Luka di Balik Hari Raya
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
hari raya, kesenjangan sosial, fenomena kesenjangan sosial, momen hari raya, ketimpangan sosial
Ilustrasi seseorang sedang di meja makan (pixabay.com)
Opini

Luka di Balik Hari Raya

Last updated: 1 April 2025 11:46 am
Febriyanti
Published: 1 April 2025
Share
SHARE
hari raya, kesenjangan sosial, fenomena kesenjangan sosial, momen hari raya, ketimpangan sosial
Ilustrasi seseorang sedang di meja makan (pixabay.com)

Idulfitri merupakan momen yang paling ditunggu oleh seluruh umat islam, orang-orang beramai-ramai mudik ke kampung halaman untuk bertemu dan berkumpul bersama keluarga besar. Momen ini sering dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan kepada sanak saudara. Namun, kenyataannya tidak semua orang menantikan adanya Idulfitri bersama keluarga besar, karena yang terjadi malah sebaliknya. Hari Raya Idulfitri yang seharusnya menjadi suka cita berubah menjadi ajang perbandingan si kaya dan si miskin.

Sering kali mereka yang miskin diperlakukan seperti pekerja rumah tangga, sedangkan yang kaya diperlakukan layaknya tamu penting. Sehingga, momen yang seharusnya dipakai untuk berkumpul dan bersenda gurau, malah menimbulkan kesan tidak mengenakkan karena kesenjangan sosial yang terbentuk antara si kaya dan si miskin.

Konten kreator Sandy Arnof, membagikan video parodi “POV keluarga miskin saat lebaran”. Berawal dari kepala keluarga miskin tidak diajak untuk berbincang dengan yang lainnya, sampai istrinya yang mencuci piring di dapur dan anak mereka tidak dihiraukan oleh keluarga lainnya. Konten ini pun berhasil mendapat atensi netizen, dengan 600 ribu lebih like dan 15 ribu komentar, beberapa di antaranya ikut membagikan pengalaman yang sama.

Salah satunya datang dari akun @meeicaa. Ia menceritakan pengalamannya saat Idulfitri. Orang tuanya hanyalah seorang petani, sedangkan keluarga lainnya memiliki gaji di atas UMR. Ayahnya pun hanya duduk di teras seorang diri, tidak ada satupun keluarga yang menemani. Ibunya pun melakukan pekerjaan rumah tangga lalu menghabiskan waktu dengan berdiam diri di dapur. Saat beranjak dewasa, akun @meeicaa pun baru memahami bahwa perlakuan yang didapat kedua orang tuanya, tak lain tak bukan karena mereka tidak membawa parsel, sedangkan keluarga lainnya membawa.

Fenomena di atas membuktikan adanya kesejangan sosial, di mana si kaya begitu disanjung sebab memiliki harta dan martabat yang tinggi. Sedangkan si miskin yang tidak memiliki apapun, diberikan perlakuan yang berbeda. Umumnya orang-orang akan lebih memerhatikan si kaya karena mereka lebih mudah memberikan segala sesuatu, disbanding si miskin. Hal ini didukung oleh pendapat Karl Marx, ia menganggap terdapat pertentangan kelas yang terjadi akibat perbedaan akses kekuasaan.

Akses yang dimaksud adalah uang yang mampu menciptakan dua kelas, yakni kelas borjuis (pemilik modal) dan proletariat (yang bekerja untuk borjuis). Perbedaan kelas dan ketimpangan sosial bisa menimbulkan konflik dalam keseharian. Bahkan, bisa muncul kelompok yang terkesan menguasai dan ada yang dikuasai.

Realita yang terjadi saat ini sama seperti yang dikatakan Karl Marx. Orang kaya digambarkan sebagai kelas borjuis, sedangkan si miskin menjadi kelas proletariat. Mereka yang memiliki modal akan diperlakukan layaknya raja dan si miskin terlihat seperti pelayannya. Maka tak heran jika mereka yang uangnya banyak, diperlakukan dengan layak daripada si miskin. Tak jarang, kesenjangan ini menimbulkan konflik antar keluarga.

Sejatinya, keluarga adalah tempat untuk berlabuh dan saling percaya. Setiap orang pasti tidak ingin mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari keluarganya sendiri, akibat kesenjangan sosial yang ada. Perbedaan si kaya dan si miskin hanyalah kasta belaka, yang seharusnya ini tidak berlaku dalam suatu keluarga.

Penulis: Febriyanti
Editor: Revina

Skincare dan Upaya Menemukan Kebenaran
Tambah Beban karena Tapera
Student Loan, antara Harapan dan Jebakan
Podcast; Pelan Tapi Pasti
Mengapa Kita Harus Percaya dengan Mulut Politisi?
TAGGED:fenomena kesenjangan sosialhari rayakesenjangan sosialketimpangan sosialmomen hari rayaumat islam
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Ketua FKUB Jawa Tengah, KH Taslim Syahlan. (Doc: Youtube Dema FITK)
Varia Kampus

Ketua FKUB Jawa Tengah Bahas Peran Mahasiswa Dalam Memperkuat Moderasi Beragama

Erlita Mirdza Septyasningrum
21 Februari 2022
UIN Walisongo Buka Seleksi Atlet PORSI II JAWARA hingga 31 Januari 2025
Sempat Down saat Mengerjakan Skripsi, Zain Husain Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik FSH
American Corner Hadirkan Duta Besar USA dalam Acara Public Lecture
Untuk Pertama Kalinya, Forshei Jadi Juara Umum Temu Ilmiah Tingkat Regional
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Luka di Balik Hari Raya
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Luka di Balik Hari Raya
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?