By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Ilustrasi: mahasiswa gelisah dengan nilai IP (Dokumen Internet)
Esai

Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati

Last updated: 16 Januari 2019 2:22 am
Rima Dian Pramesti
Published: 16 Januari 2019
Share
SHARE
Ilustrasi: Mahasiswa gelisah memikirkan IP (Dok. Internet)

Setiap libur semester datang, itu berarti saat yang sama ketika yudisium tiba. Tiap mahasiswa pasti penasaran dengan Indeks Prestasi (IP) yang diperolehnya, begitu juga dengan mahasiswa UIN Walisongo hari ini. Mereka tengah meributkan IP yang diperoleh dari hasil kuliah selama satu semester.

Apalagi mahasiswa semester satu. IP pertama seolah awal dari segalanya. Kebanyakan dari mereka sangat mengidam-idamkan nilai tinggi, seperti IP itu harga mati. Hmmm

Yaa… Perasaan senang pasti hinggap jika kita mendapat nilai “A”. Lalu, kita akan mengunggah status Whatsapp tangkapan layar soal transkrip nilai dengan gaya rendah hati. Sebaliknya, jika IP kita jeblok, dengan nada tegar yang dibuat-buat kita akan menulis status, “IP bukan segalanya.” atau, “yang penting adalah proses mendapatkannya.”

Tidak munafik, kegelisahan itu terjadi juga pada penulis, ketika mengetahui mendapatkan nilai yang rendah. Saya pura-pura tegar. Alih-alih menghibur diri dengan menonton televisi, tidak sengaja yang muncul adalah FTV Indosiar. Dalam sebuah adegan diperlihatkan seorang anak menangis lantaran dagangan layang-layangnya tidak laku. Lalu, tokoh ibu menghibur dengan mengatakan, “yang penting kamu sudah berusaha nak.” Dan, saya cukup terhibur mendengar itu.

Pertanyaanya adalah, apakah IP memang sepenting itu, jadi penentu bahagia dan duka mahasiswa?

Kalau dikatakan IP itu penting, tentu jawabannya “iya”. IP merupakan alat ukur pemahaman mahasiswa terhadap suatu mata kuliah yang diambil (idealnya). Jika, mahasiswa tidak mempunyi IP, tentu ia tidak bisa lulus dan mendapat gelar sarjana.

Lalu, dalam dunia kerja, selain asal perguruan tinggi dan program studi yang kita ambil, hal utama yang dilihat perusahaan atau instansi tertentu adalah IPK yang kita dapat.

IP juga merupakan bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua, bukti pada mereka kalau kita niat kuliah. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya kuliah dengan baik. Bahkan, beberapa orang tua mungkin bangga dengan anaknya yang ber IP tinggi, sehingga bisa dipamerkan di depan tetangga.

Tapi apakah kita kuliah hanya untuk mencari IP? Coba renungkan lagi.

Allah SWT dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11, berfirman;

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ingat ya, orang yang beriman dan berilmu, bukan orang yang ber-IP. Ilmu pengetahuan lebih berharga dibanding nilai, percuma IP tinggi namun tidak mencerminkan apapun selain angka.

Yang dibutuhkan mahasiswa saat ini bukan hanya sekedar IP yang tinggi, tapi juga pengalaman, dan soft skill yang didapatkan selama berproses. Makanya, mengikuti organisasi di kampus untuk mengembangkan potensi yang kamu punya itu akan berpengaruh banyak setelah lulus nanti. Ingat, kesuksesan bukan hanya diukur dari angka saja, tapi potensi apa yang kita miliki untuk dikembangkan ke depan.

Tapi, bukan berarti nilai tinggi itu tidak penting. Maksudnya, jangan hanya terfokus pada nilai. Bayangkan, jika kamu sudah melakukan berbagai cara, mulai dari yang jujur sampai yang nakal untuk mendapatkan IP tinggi, tapi hasilnya malah tidak sesuai dengan ekspektasi? Kecewa, sakit hati, dan menyalahkan diri sendiri, kemudian punya anggapan bahwa diri sendiri sangat bodoh, masa depan tidak jelas.

Bukan begitu. Jika saja kamu tahu, Presiden kita Joko Widodo saat kuliah di jurusan Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu mendapatkan IPK 3,05. Tidak percaya? Coba saja kamu cari di Google, akan banyak sekali tulisan yang membahas soal IPK beliau. Jadi tidak usah terlalu gelisah jika IPK kita tidak terlalu tinggi, nikmatilah masa kuliah yang penuh cerita, derita, dan bahagia ini.

Jadilah mahasiswa yang berhati lapang dan berbahagia. Katakanlah pada diri kamu, “Yang penting saya sudah berusaha! Masih banyak hal baik yang saya dapatkan. Seperti pengalaman, ilmu pengetahuan, teman-teman, dan pendewasaan”.

Karena munafik jika bilang IP tidak penting sama sekali. Tapi, naif juga menggantungkan masa depanmu hanya pada angka-angka mati bukan?


Penulis: Rima Dian Pramesti

Fenomena Adult Tantrum pada Orang Dewasa
Menilik Gaya Hidup Mahasiswa Proletar vs Mahasiswa Borjuis
DEMA UIN Walisongo Gelar Aksi Tolak Perppu Ciptaker Bersama Beberapa Lembaga
Kematian
Mahasiswi UIN Walisongo Unjuk Gigi, Meriahkan Acara Earth Hour
TAGGED:ipk bukan segalanyaipk mahasiswamahasiswa uin walisongo
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Lifestyle

3 Gaya Kepemimpinan Yang Dapat Ditiru Mahasiswa

Redaksi SKM Amanat
1 Juni 2022
Imam Taufiq: Wisudawan Terbaik Akan Mendapat Apresiasi Beasiswa Penuh dari Kampus
Gelar Acara Sholawat, Dema FITK Kemas dengan Ngaji Kebangsaan
Nur Khoirin Jelaskan 3 Peran Hukum bagi Masyarakat
Kepala PPM UIN Walisongo Himbau Mahasiswa Harus Bangun Integritas
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?