
Amanat.id- Muhammad Muhaimin Thohri, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Falak berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) pada Wisuda ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang digelar di Gedung Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Mahasiswa kelahiran Batam tersebut mengangkat skripsi bertema mathla’ dengan judul “Analisis Konsep Mathla’ dalam Kitab Al-Ma’ayir Al-Fiqhiyyah wal Falakiyyah fi I’dadi At-Taqawim Al-Hijriyyah”.
Pemilihan topik tersebut dilatarbelakangi oleh polemik rukyatul hilal Ramadan tahun sebelumnya yang hanya terlihat di wilayah Aceh.
“Skripsi saya membahas konsep dalam kitab al-ma’ayir yang berkaitan dengan awal Ramadhan tahun kemarin yang hanya terlihat di Aceh. Apakah nantinya akan berlaku untuk regional Indonesia atau hanya berlaku untuk wilayah Aceh saja, jadi skripsi saya ngambil tentang mathla’,” jelasnya.
Thohri juga tidak menyangka menjadi perwakilan sambutan wisudawan yang mana ia ditunjuk secara mendadak.
“Hari Kamis pagi baru diberi tahu untuk mengisi sambutan, sorenya harus setor teks. Jadi buat teksnya hanya beberapa jam saja,” katanya.
Thohri mengaku pencapaian tersebut tidak pernah menjadi target utamanya sejak awal menempuh perkuliahan.
“Alhamdulillah bersyukur bisa sampai di tahap ini dan mendapatkan penghargaan wisudawan terbaik. Dari awal sebenarnya tidak menargetkan apa-apa, hanya diniatkan untuk belajar dengan baik dan melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Pada awal berkuliah, Thohri mengaku sempat merasa pesimis dan ragu dengan pilihan jurusannya.
“Awal-awal kuliah merasa salah jurusan. Saya lulusan keagamaan, tiba-tiba harus masuk Ilmu Falak. Jujur sebenarnya basic saya bukan di perhitungan atau astronomi, tapi lambat laun saya sadar selagi kita berusaha insya Allah dipermudah,” tuturnya.
Selain unggul secara akademik, Thohri juga aktif dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan.
“Untuk organisasi sendiri itu ada Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh (JQH), Binnora, Orda RPMRS, dan CSSMoRA yang komunitas penerima beasiswa,” jawabnya.
Seiring dengan aktivitas organisasinya, Thohri turut menorehkan berbagai prestasi di tingkat nasional.
“Alhamdulillah Saya sering menjuarai lomba Musabaqah Syarhil Qur’an, Musabaqah Fahmil Qur’an, Karya Tulis Ilmiah, serta lomba Da’i tingkat nasional. Selain itu, saya juga meraih terbaik I kategori Olimpiade 20 Tahun dalam program Beasiswa Santri Berprestasi Vision Future Kementerian Agama Republik Indonesia,” tuturnya.
Thohri mengaku tidak memiliki trik khusus dalam mengatur waktu. Namun, ia terbiasa menuliskan target yang harus dicapai serta menetapkan timeline untuk setiap tugas.
“Tips dan trik jujur gak ada ya, tapi saya membuat timeline selama berkuliah S1 itu mau ngapain aja dan menuliskan tenggat waktu. Misal lomba, materi ini harus sudah dikuasai dalam tenggat waktu tertentu,” titahnya.
Ia mengatakan faktor terbesar dalam perjalanan akademiknya adalah dukungan keluarga.
“Alhamdulillah keluarga besar saya baik dari pihak ayah maupun ibu selalu mendukung penuh apa pun yang saya jalani,” ucapnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa UIN Walisongo agar mampu membagi waktu secara seimbang antara perkuliahan dan organisasi.
“Bagi saya perkuliahan dan organisasi keduanya sama-sama penting dan tidak perlu saling ditinggalkan. Sehingga jalanilah keduanya dengan manajemen waktu yang baik,” katanya.
Bagi Thohri, kegagalan bukanlah akhir selama seseorang tidak berhenti berusaha.
“Kita belum gagal selama kita belum berhenti, dan ketika kita berusaha itu merupakan suatu proses. Setiap proses perlu fokus dan istiqamah dalam berjuang,” tutupnya.
Reporter: Safinatul Mahsunah
Editor: Irbah Fatin



