By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Minimnya Sensitivitas Jadi Alasan Buruknya Komunikasi Pemerintah Menurut Dosen Kebijakan Publik UIN Walisongo
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Dosen Kebijakan Publik, Dosen UIN Walisongo, UIN Walisongo, Komunikasi Buruk, Pemerintahan Prabowo
Ilustrasi seorang Menteri sedang konferensi pers dengan media (Amanat/Tazaka).
Nasional

Minimnya Sensitivitas Jadi Alasan Buruknya Komunikasi Pemerintah Menurut Dosen Kebijakan Publik UIN Walisongo

Last updated: 25 Juni 2025 11:33 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 24 Juni 2025
Share
SHARE
Dosen Kebijakan Publik, Dosen UIN Walisongo, UIN Walisongo, Komunikasi Buruk, Pemerintahan Prabowo
Ilustrasi seorang menteri sedang konferensi pers dengan media (Amanat/Tazaka).

Amanat.id– Gaya komunikasi Pemerintahan Prabowo saat ini kerap menjadi sorotan masyarakat karena dianggap buruk, tidak responsif, dan sering menimbulkan kesalahpahaman, Senin (23/6/2025).

Misalkan pada pernyataan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang menghubungkan celana jeans dengan masalah kesehatan dan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi yang menanggapi ancaman terhadap jurnalis salah satu media nasional yang dikirimi kepala babi dengan gurauan.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Kebijakan Publik Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Muhammad mengatakan krisis kepercayaan masyarakat justru timbul akibat komunikasi dari pejabat pemerintah yang lemah.

“Saya melihat koordinasi kebijakan di kementerian level kabinet yang lemah, banyak pernyataan yang keluar dari pejabat publik seperti menteri tidak terkontrol dan terkoordinasi,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Jumat (20/6).

Ia juga menyampaikan banyak pejabat publik yang tidak sensitif terhadap suatu isu di masyarakat dan menanggapinya dengan gurauan.

“Banyak pejabat publik yang tidak sensitif terhadap suatu isu, di mana banyak masyarakat merasa relate terhadap suatu isu kemudian tersinggung atas pernyataan-pernyataan yang ditanggapi dengan guyon,” tuturnya.

Buruknya komunikasi dari pejabat publik tersebut akhirnya menimbulkan banyak spekulasi di masyarakat.

“Ini menunjukkan banyak hal, seperti kapasitas kebijakan dan bentuk pemecahan masalah yang bisa diselesaikan secara komprehensif atau tidak,” lanjutnya.

Muhammad menuturkan justru kebijakan yang dibatalkan atau diklarifikasi oleh lembaga lain termasuk hal yang wajar.

“Dari segi kebijakan, saya melihat beberapa kebijakan yang kemudian diklarifikasi atau dibantah kementerian lain bahkan presiden, itu merupakan pola yang wajar di pemerintahan manapun,” ucapnya.

Menurutnya hal tersebut bisa terjadi karena rendahnya sifat sensitif dan koordinasi pejabat publik antar kementerian atau lembaga.

“Menurut saya, faktornya adalah tidak sensitifnya pejabat publik, kurangnya koordinasi kabinet yang seolah tumpang tindih antar kementerian atau lembaga pemerintah yang menyebabkan perlu dipertanyakannya kapasitas kebijakan tersebut,” ucapnya.

Ia juga mengatakan butuh bukti dan fakta yang jelas untuk menyimpulkan buruknya komunikasi pejabat publik disebabkan oleh kesengajaan atau konspirasi semata.

“Saya sebagai akademisi tidak bisa melihat kebijakan publik melalui klaim atau model konspirasi alias analisis harus sesuai fakta. Untuk konspirasi atau kesengajaan tidak bisa kita sebutkan kalau tidak ada bukti pendukung, sedangkan bukti pendukungnya sulit untuk dicari,” ujarnya.

Rendahnya sifat sensitif

Muhammad mengatakan kurangnya sifat sensitif pejabat publik terhadap masyarakat dapat disebabkan karena kecenderungan pemerintah yang otoritatif.

“Alasan nyelenehnya pernyataan dan belum mumpuninya kapasitas kebijakan bisa terjadi salah satunya karena kecenderungan pemerintah yang semakin otoritatif, artinya mereka kembali kepada model-model feodal zaman dulu,” terangnya.

Lanjutnya, pejabat publik sering tidak melibatkan masyarakat dalam membentuk sebuah kebijakan.

“Seringkali rakyat hanya diberitahu saat keputusan sudah final, secara administratif pejabat bisa mengklaim bahwa mereka sudah melakukan konspirasi publik, dan banyak hal lewat partisipatif,” ujarnya.

Pola tersebut, sambungnya, sah secara administratif, tetapi menimbulkan persoalan secara subtansif.

“Secara administratif, hal itu sah-sah saja karena sudah ada representatif dari publik, tapi apakah secara substansif sudah benar? Nah, itu yang perlu dikritisi,” tuturnya.

Ia menuturkan hal tersebut menyebabkan terbentuknya jarak antara pejabat publik dengan masyarakat.

“Pejabat publik merasa mempunyai kuasa lebih atas rakyat, sehingga bisa dilihat bersama seringkali mereka merasa di atas awan dan melihat isu masyarakat ‘ah biasa saja’ atau terkesan otoritatif,” lugasnya.

Muhammad menuturkan jika pemerintah terus bersikap otoratif, maka masyarakat semakin anti-pemerintah bahkan skeptis.

“Otoritatif jauh lebih mudah daripada partisipatif, maka ketika pemerintah terlihat semakin otoritatif, efeknya ya masyarakat bisa jadi semakin anti pemerintah bahkan skeptis terhadap pemerintah,” jelasnya

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Walisongo, Rizal (bukan nama sebenarnya) mengatakan ada kesamaan pola ketika pemerintah menginstruksikan sebuah kebijakan untuk masyarakat.

“Ketika membuat kebijakan kemudian isu tersebut naik dan belum tuntas, pasti akan ditutupi dengan isu berikutnya tanpa akhir yang jelas. Saya yakin hal tersebut sudah terkonstruksi untuk membentuk masyarakat yang bodoh dan dungu terhadap pemerintah,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa komunikasi yang dilakukan pemerintah juga bersifat defensif yang akhirnya menimbulkan sentimen publik.

“Komunikasi yang dilakukan pemerintah dalam merespon suatu hal seringkali bersifat defensif, seperti menyalahkan dan mengecilkan pihak lain. Hal tersebut kemudian menimbulkan sentimen, mendorong kontroversi, dan akhirnya menjadikan kegaduhan publik,” ujarnya.

Rizal menuturkan seharusnya pemerintah menanggapi dengan komunikasi yang empati dan responsif.

“Alih-alih defensif yang justru menurunkan kepercayaan masyarakat, seharusnya pemerintah merespon dengan komunikasi yang empati dan responsif serta merangkul semua pihak,” pungkasnya.

Reporter: Dinda Alfiani
Editor: Azkiya S.A.

Berkeliling Kampus Tak Perlu Lelah, UIN Walisongo Sediakan Golf Car
UIN Walisongo Resmi Luluskan 515 Mahasiswa pada Wisuda Periode November 2025
FPK UIN Walisongo, Pelopor Jurnal Psikologi Bereputasi Internasional di Indonesia
Resmi Lepas 558 Mahasiswa, UIN Walisongo Gelar Wisuda November 2024
HMJ Tasawuf dan Psikoterapi Adakan Senam Kecerdasan
TAGGED:dosen kebijakan publikDosen uin walisongokomunikasi burukpemerintahan prabowouin walisongo
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Penyuluhan perkawinan oleh kkn uin walisongo
KKNUIN Walisongo

Minimalisasi Perceraian, Mahasiswa KKN Gandeng KUA Banyumanik Adakan Penyuluhan Perkawinan

Ita Erviana
17 Juli 2022
Merasa Pertemanan Sudah Tidak Sehat? Kenali 7 Ciri Toxic Friend Berikut
Musabaqoh Ghina Al Araby Meriahkan Miladiyah PBA yang ke-25
Persiapan Singkat, Kolaborasi Tim FUPK dan FITK Raih Juara I Lomba Debat Bahasa Arab
Biaya Pemilu Mahal? 14 Februari 2024 Tetap Dilaksanakan
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Minimnya Sensitivitas Jadi Alasan Buruknya Komunikasi Pemerintah Menurut Dosen Kebijakan Publik UIN Walisongo
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Minimnya Sensitivitas Jadi Alasan Buruknya Komunikasi Pemerintah Menurut Dosen Kebijakan Publik UIN Walisongo
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?