
Amanat.id- Peroleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Shafira Putri Indraswati berhasil meraih gelar wisudawan terbaik pada wisuda ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Dalam perjuangan wisudanya, Safira dapat menyandang predikat Summa Cumlaude dengan skripsi yang berjudul “Ekofeminisme dalam Praktik (Studi Penggerak Perempuan pada Program Eco-Care Komunitas Gerakan Seribu Rupiah [GSR] di Ngaliyan Kota Semarang)”.
Alasan Safira mengambil judul tersebut karena pemikiran ekstistensi perempuan di ranah publik.
“Saya berkipir kenapa perempuan diidentikkan dengan dapur, padahal sebenarnya perempuan juga dapat eksis di ranah publik dan masyarakat, salah satunya melalui komunitas penggerak ini,” ujarnya.
Ia ingin melihat perempuan seringkali kurang dilibatkan dalam mengambil keputusan dan mengambil peran.
“Kita sering mengetahui bahwa perempuan sering kali dikotak-kotakkan. Peran mereka hanya sebatas ruang privat, domestik, dan dinomorduakan di ruang publik,” jelasnya.
Dari penelitian yang dilakukan Shafira, ia mampu mengelaborasi program komunitas yang dilakukannya dengan implementasi nilai-nilai keislaman.
“Perempuan di GSR Eco-care bukan sekadar melakukan aktvitas pelestarian seperti komunitas lingkungan yang lainnya, tetapi mereka juga mampu mengelaborasi penelitian itu sebagai bentuk implementasi dari nilai-nilai keislaman,” tuturnya.
Shafira menjelaskan strategi belajar yang dilakukannya yaitu dengan membuat planning pada kegiatan sehari-hari.
“Karena saya termasuk orang yang terplanning, jadi tiap harinya saya sudah ada kegiatan mau melakukan apa saja, dan hal itu tidak harus berkaitan dengan pendidikan. Bisa juga dengan kegiatan sehari-hari sehingga membuat kita menjadi produktif,” paparnya.
Selain membuat planning, ia juga menyebutkan konsisten merupakan hal yang penting yang harus dilakukan.
“Konsisten merupaan kuncinya, karena kalau tidak konsisten maka hasilnya tidak bisa menjadi stabil,” ucapnya.
Tak hanya itu, Shafira juga mengulang kembali materi-materi yang telah dipelajari sebelum masa ujian berlangsung.
“Terkadang banyak mahasiswa hanya mempelajari materi-materi atau mulai serius saat mempelajarinya di masa ujian datang. Nah, lebih baik mempelajari langsung materi yang sudah didapatkan kembali tanpa menunggu masa ujian,” imbuhnya.
Selain aktif di kelas, ia juga aktif mengikuti organisasi untuk meningkatkan skill di luar akademik.
“Mungkin dengan HMJ bisa meningkatkan komunikasi, public speaking, dan lainnya. Saya mengikuti organisasi yang berkaitan dengan olahraga agar tidak stress,” lanjutnya.
Shafira mengatakan bahwa dukungan emosional yang ia dapati saat menjalani kuliah adalah teman-temannya.
“Sebagai mahasiswa perantauan terkadang merasa sungkan untuk bercerita pada orang tua sehingga support system saya adalah teman-teman. Saya merasa bangga memiliki teman dekat karena memberi semangat dan dukungan,” katanya.
Reporter: Auliya Najwa Hamidah
Editor: Romaito



