
Amanat.id- Forum Mahasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (FORMAKIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Prakarsa Sejati (Prasasti) di Desa Leban, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Sabtu (26/7/2025).
Dengan mengusung tema “Sejuta Aksi Jutaan Mimpi: Menumbuhkan Kepedulian Sosial Lewat Pengabdian,” FORMAKIP menggelar Seminar Literasi Media dan Praktik Terapi Bekam yang bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tasawuf dan Psikoterapi (TP) UIN Walisongo.
Koordinator Seminar Literasi Media, Bagus Darmawan menuturkan seminar ini bertujuan memperkenalkan anak-anak pada pentingnya memilah informasi.
“Seminar ini merupakan bentuk sosialisasi agar anak-anak dapat memahami pentingnya membedakan informasi yang benar dan hoaks, baik dari media cetak maupun digital,” ucap Bagus.
Bagus dan tim juga menerapkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan agar materi mudah diserap oleh anak-anak.
“Kami menggabungkan metode belajar sambil bermain untuk mempermudah pemahaman anak terhadap topik yang dibahas,” tambah Bagus.
Kepala Sekolah MI NU 68 Leban, Binti Wahibus Zainuriyah Riyatul Hamidah mengatakan kegiatan literasi media ini sangat bermanfaat untuk anak didiknya.
“Kegiatan ini sangat membantu siswa untuk lebih kritis dalam menyaring informasi agar tidak mudah percaya pada berita palsu,” tuturnya.
Hamidah juga menyampaikan keresahan orang tua terhadap kebiasaan anak-anak yang lebih sering bermain gawai.
“Beberapa wali murid bahkan mengusulkan agar sekolah mengadakan kegiatan tambahan,seperti ekstrakurikuler supaya anak-anak bisa mengisi waktu dengan aktivitas yang lebih bermanfaat daripada bermain gadget,” ungkapnya
Selain literasi media, FORMAKIP bersama HMJ Tasawuf dan Psikoterapi (TP) UIN Walisongo juga menghadirkan layanan terapi bekam bagi warga.
Perwakilan HMJ TP, Husein Rahmansyah, menjelaskan bekam memiliki manfaat bagi tubuh karena dapat menjadi detoksifikasi.
“Setelah melakukan bekam, tubuh akan terasa lebih ringan dan bugar. Bekam berfungsi sebagai detoksifikasi, yaitu mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh,” jelasnya.
Ia juga memaparkan teknik dan perbedaan dari beberapanya jenis terapi bekam.
“Bekam terdiri dari dua jenis, yakni bekam kering dan bekam basah. Bekam basah digunakan untuk mengeluarkan darah kotor, sedangkan bekam kering lebih bertujuan mengeluarkan gas dari dalam tubuh,” tambah Husein.
Husein menegaskan bahwa praktik bekam tidak bisa dilakukan sembarangan, terutama bagi penderita penyakit tertentu.
“Kami selalu melakukan diagnosis awal kepada calon pasien. Misalnya, jika seseorang menderita diabetes, ia tidak disarankan untuk bekam karena dapat membuat luka yang ada pada tubuhnya tidak dapat menutup dengan sempurna,” ungkapnya.
Demi menjaga higienitas alat, HMJ TP menerapkan prosedur sterilisasi yang ketat.
“Alat bekam selalu kami sterilkan sebelum dan sesudah digunakan dengan alkohol untuk membunuh kuman dan bakteri,” tutupnya
Salah satu warga Desa Leban yang mencoba terapi bekam, Muhammad Nasta’in merasa puas dengan terapi bekam yang diberikan.
“Bekamnya tidak terasa sakit, malah justru membuat tubuh saya terasa lebih ringan dan sehat,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa yang sudah berkunjung dan membantu warga.
“Saya berterima kasih kepada mahasiswa UIN Walisongo yang sudah memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya
Reporter : Meyra Karunia Putri
Editor: Melini Rizki


