
Amanat.id– Dalam Pengenalan Budaya Akademik (PBAK) tahun 2025 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA-U) berencana untuk tidak menggelar Expo Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKM-F), Senin (14/7/2025).
Sebelumnya melalui Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 2212 tahun 2024 mengenai Pedoman Organisasi Kemahasiswaan sendiri, UIN Walisongo secara resmi meleburkan fungsi administrasi UKM-F ke UKM-U. Sehingga keberadaan UKM-F akhirnya menginduk kepada UKM-U dengan kegiatan yang serumpun.
Pada Senin (7/7) lalu, Ketua DEMA UIN Walisongo, Muhammad Mu’tasim Billah mengatakan wacana ditiadakannya Expo UKM-F pada PBAK tahun 2025 masih dalam proses dialog dengan birokrasi.
Menanggapi hal tersebut, salah satu anggota Ushuluddin Sport Club (USC), IH merasa kecewa dengan wacana ditiadakannya Expo untuk UKM-F.
“Saya merasa kecewa mendengar kabar bahwa expo UKM-F akan ditiadakan,” katanya, Minggu (13/7).
Menurutnya hal tersebut membatasi ruang gerak UKM-F dalam perekrutan anggota baru.
“UKM-F seperti tidak diberi ruang untuk merekrut anggota baru, padahal bisa menjadi wadah penjaringan untuk atlet yang berkualitas,” paparnya.
Ia mengaku belum ada informasi mengenai dialog antara DEMA UIN Walisongo dengan birokrasi.
“Sampai sekarang belum ada informasi akan diadakannya dialog antara UKM-F, DEMA-U, dan Wakil Rektor (WR) 3,” akunya.
IH juga mengaku sedang memastikan kejelasan dari permasalahan ditiadakannya Expo UKM-F saat PBAK tahun 2025.
“Bersama dengan Ketua UKM-F yang lain, kami sedang memastikan apakah memang benar exponya ditiadakan. Jika iya mungkin ke depannya akan ada tuntutan-tuntutan yang diajukan,” jelasnya.
Senada dengan IH, Lurah Teater Koin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Miftahul Anantia merasa UKM-F akan dirugikan dengan adanya wacana tersebut.
“Kalau seperti itu, UKM-F akan kekurangan anggota karena mahasiswa baru tidak bisa mengenal organisasi yang mungkin dapat mengembangkan potensi mereka,” ucapnya.
Ia juga mengaku tidak dilibatkan oleh DEMA UIN Walisongo untuk berdialog dengan birokrasi.
“Tidak dilibatkan, mungkin hanya UKM tingkat universitas,” akunya.
Miftahul menuturkan pihaknya sudah membentuk panitia untuk persiapan open recruitment (oprec) nanti.
“Persiapan kami bisa dibilang hampir 50% untuk oprec tahun ini. Panitia juga sudah dibentuk,” ujarnya.
Sekretaris UKM-U Nafila, Khoirun Nisa menilai keputusan ditiadakannya expo bagi UKM-F memang dirasa kurang bijak.
“Keputusan ditiadakannya expo UKM-F kurang bijak karena ada beberapa UKM-F yang tidak ada di UKM-U,” ungkapnya.
Pihaknya juga mengaku bersedia untuk membantu UKM-F dengan jaminan regulasinya jelas.
“Misalkan butuh bantuan tetap kami bantu asal regulasinya jelas,” ucapnya.
Ketua Walisongo English Club (WEC), Annisa Sultan Alfiani memaparkan ditiadakannya expo bagi UKM-F merupakan dampak dari kebijakan merger.
“Jadi ditiadakannya expo UKM-F karena dampak dari kebijakan merger,” tuturnya.
Menurutnya belum ada skema yang jelas mengenai konsep merger UKM-F ke UKM-U.
“Menurut saya ini solusi yang sementara, karena memang dialog antara UKM-F, DEMA-U, dan birokrasi juga belum menemukan solusi yang tepat untuk skema merger,” jelasnya.
Annisa juga mengatakan bahwa wacana ditiadakannya Expo UKM-F tergolong masih belum jelas.
“Kurang bijak karena aturan mergernya saja belum jelas jadi mungkin bisa diperjelas dulu skemanya,” tutupnya.
Reporter: Yumna Amiliatun Nida
Editor: Moehammad Alfarizy


