
Amanat.id- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda Doktor (S3) Ke-42, Magister (S2) Ke-67, Sarjana (S1) Ke-100 periode Mei 2026 di Gedung Auditorium II kampus 3, Sabtu (28/5/2026).
Rektor UIN Walisongo, Musahadi mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan yang berhasil menyelesaikan studi mereka baik jenjang S1,S2, dan S3.
“Siapapun tahu bahwa kuliah itu tidak selalu mulus, banyak tantangan dan hambatan. Tapi saudara-saudara membuktikan bahwa hari ini bisa melewati semua tantangan, hambatan, challenge, dan kendala tersebut,” titahnya.
Musahadi menyampaikan bahwa situasi yang terjadi di era saat ini membuat individu harus siap dengan risiko yang ada.
“Saya memohon maaf karena saat ini situasi ekonomi, geopolitik yang ada membuat kita harus menghadapi risikonya, termasuk kemungkinan lapangan kerja lebih sulit,” katanya.
Dari risiko yang ada, menurut Musahadi, membuat individu memiliki kemampuan untuk bertahan.
“Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang lahir dalam keadaan sulit justru memiliki kekuatan dan kemampuan untuk bertahan. Sehingga yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan kreativitas dan gagasan yang efektif,” terangnya.
Ia juga menyampaikan kepada wisudawan untuk membekali diri menghadapi kondisi dan tantangan di masa mendatang.
“Mengingat kondisi dunia yang penuh tantangan, jadilah orang yang kuat, tidak mudah stres, gali potensi diri kemudian kuatkan hati, jiwa, dan raga dalam menghadapi tantangan apapun di masa yang akan datang,” ucapnya.
Dengan membekali diri, lanjutnya, individu memiliki peluang untuk bertahan dalam suatu keadaan yang sulit.
“Orang yang memiliki kreativitas, gagasan, serta ruang inovasi yang memadai memiliki peluang untuk memenangkan berbagai keadaan. Sehingga saya harap wisudawan harus strong menghadapi struggle yang ada. Tidak harus selalu bekerja menjadi pegawai atau karyawan perusahaan. Apapun peluang yang ada manfaatkan sebaik-baiknya,” sambungnya.
Musahadi menegaskan bahwa proses pembelajaran di UIN Walisongo tidak hanya mengejar aspek kognitif, tetapi juga menanamkan kekuatan spiritual Walisongo.
“Salah satu distingsinya adalah kita memiliki spirit Walisongo yang luar biasa, yang memegang spiritualitas Walisongo harus juga memiliki kekuatan lahir dan batin untuk berhadapan dengan situasinya dengan situasi apapun,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan wisudawan akan pentingnya memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kelulusan ini bukan sekadar mengandalkan gelar yang diraih, tetapi dampak nyatanya. Buat apa bergelar sarjana jika tak bermanfaat untuk umat manusia,” pungkasnya.
Reporter: Desi Permatasari


