By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Sabotase Diri: Toxic yang Tidak Kita Sadari
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Esai

Sabotase Diri: Toxic yang Tidak Kita Sadari

Last updated: 22 Juni 2024 8:03 pm
Eka Rifnawati
Published: 22 Juni 2024
Share
SHARE
Sabotase diri, Self sabotage, Tips mendapatkan kebahagiaan, Penyebab sabotase diri, Kebahagiaan, Memaknai kebahagiaan
Ilustrasi sabotase diri (istockphoto.com)

“Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, kebahagiaan adalah jalannya.”

-Buddha Gautama.

Petikan quotes dari sang Buddha tersebut seakan menampar kita untuk terus menjalani hidup dengan bahagia. Kebahagiaan kerap dijadikan tujuan akhir dalam menjalani kehidupannya. Namun, untuk seorang Buddha, kebahagiaan bukanlah terletak di ujung jalan, melainkan bertebaran sepanjang jalan tersebut.

Sudah banyak orang dengan perspektif yang berbeda-beda memandang kebahagiaan berdasarkan kebutuhannya. Sebagian besar beranggapan bahwa kebahagiaan penting untuk didapatkan, sebagian lainnya menganggap bahwa kebahagiaan hanya tentang bagaimana cara kita memberi makna.

Secara garis besar, pemenuhan rasa bahagia tetap mendapatkan ruang kecil dalam diri setiap manusia. Semua orang akan berusaha keras untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam hubungan ataupun kariernya. Banyak cara dan jalan yang kemudian akan dilakukan seseorang untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang kemudian tanpa sadar berperilaku seolah malah akan merusak jalan menuju kebahagiaan itu sendiri.

Sebagai mahasiswa, sering kali kita melakukan penolakan atau merusak jalan menuju kebahagiaan yang sebenarnya sangat kita inginkan. Contoh kecil di dalam kelas, ketika sedang berlangsung sesi diskusi dan kita mendapat kesempatan untuk bertanya atau menjawab. Namun, tiba-tiba semuanya kita urungkan karena rasa takut atau malas dalam diri.

“Pengen tanya, tapi udalah biar cepat pulang” atau “Gak jadi nanya deh takut salah”

Secara tidak sadar, kita tengah menjauhkan diri dari berbagai hal positif yang sebetulnya bisa kita peroleh. Dari hal-hal yang kita perbuat ternyata kemudian malah menghalangi tujuan dalam hidup. Sikap itulah yang kemudian disebut sebagai self–sabotage atau sabotase diri.

Sabotase diri adalah perilaku atau pola pikir yang menahan atau mencegah seseorang melakukan apa yang diinginkan untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang. Ketika ada sesuatu yang sedang ditargetkan, kita sendiri malah menyabotasenya. Hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk mencapai target. Kemudian, rasa sedih dan kecewa akan datang menghantui.

Banyak perilaku secara tidak sadar sering dilakukan atau bahkan terlanjur terjadi yang termasuk ke dalam bentuk sabotase diri. Contohnya adalah sikap menunda-nunda, membanding-bandingkan, mengkritik diri sendiri, perfeksionisme, mencari ketenangan dengan mengonsumsi obat-obatan, alkohol, dan merokok, atau bahkan melukai sendiri.

Mengakar dari dalam

Dokter Forensik Amerika, Judy Ho dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sabotase diri dapat berasal dari naluri alamiah manusia, untuk mendapatkan imbalan dan menghindari ancaman. Sabotase diri terjadi ketika seseorang lebih memilih untuk menghindari ancaman daripada mendapatkan imbalan. Akan muncul kerelaan seseorang dalam menerima rasa sakit, daripada harus menghadapi konsekuensi yang belum jelas.

Rendah diri juga menjadi penyebab seseorang menyabotase diri sendiri. Seseorang yang rendah diri akan percaya bahwa ia tidak pantas menerima hal-hal baik dalam hidupnya. Jika melabeli diri seperti itu, pada akhirnya ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dalam hidup. Bahayanya lagi, ketika hal tersebut dipercayai hingga dewasa, maka diri akan kehilangan motivasi untuk mencoba sesuatu yang sebenarnya baik untuk masa depan.

Penyebab lain ialah, tidak semua orang siap dengan perubahan. Untuk merasa nyaman, seseorang harus memiliki kendali terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasa takut yang berlebihan justru akan menjebak diri pada zona nyaman.

Self–sabotage cenderung terjadi di luar kesadaran. Maka dari itu, penting untuk menyadari dan mengakui bahwa mungkin ada perilaku yang menghambat jalan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Menyelidiki dan bertanya “mengapa kita melakukan hal tersebut?”. Cobalah untuk menanggapi konflik yang terjadi dengan melihat dari sisi yang lebih baik.

Mulailah bertanggung jawab atas tujuan hidup yang diambil serta berhenti menyalahkan sesuatu yang diperbuat. Ingat bahwa kita adalah musuh diri kita sendiri. Oleh karenanya, jangan biarkan diri dan perilaku yang kita perbuat malah merusak jalan menuju kebahagiaan itu sendiri.

Eka Rifnawati

Menunggu Sumpah Generasi Ngopi
William Shakespeare dan Hakikat Kehidupan Sebagai Panggung Sandiwara
Lenyapnya Identitas Kearifan Lokal dalam Arus Modernitas
Rokok dalam Lakon Kebudayaan
Pernah Gagal Bukan Berarti Kamu Tidak Bisa Sukses
TAGGED:kebahagiaanmemaknai kebahagiaanpenyebab sabotase dirisabotase diriself sabotagetips mendapatkan kebahagiaan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Dwi Handayana menjelaskan kasus pencemaran air di Indonesia berada ditingkat berat (Tangkapan layar Youtube)
Regional

Dwi Handayana: Kasus Pencemaran Air Di Indonesia Berada ditingkat Berat

Redaksi SKM Amanat
13 Maret 2022
[Refleksi Isra Miraj] Momentum Penilaian Kualitas Salat Kita
Akhir Tak Bahagia
Antologi Puisi SKM Amanat Edisi 2
Wakili Menwa UIN Walisongo, Ismail Juarai Lomba Lintas Alam Tingkat Nasional
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Sabotase Diri: Toxic yang Tidak Kita Sadari
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Sabotase Diri: Toxic yang Tidak Kita Sadari
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?