By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan, Apakah itu Toxic Productivity?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan, Apakah itu Toxic Productivity?

Last updated: 29 Juli 2022 8:33 pm
Nur Aeni Safira
Published: 29 Juli 2022
Share
SHARE
Toxic Productivity
Ilustrasi Toxic Productivity: Pixabay

“Selagi muda carilah pengalaman sebanyak-banyaknya.”

Pernyataan ini selalu digaungkan kepada anak muda di manapun. Mereka yang percaya, akan berlomba-lomba mencari pengalaman untuk mengisi masa muda mereka. Didukung kemudahan teknologi untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti webinar, volunteer, maupun magang. Tidak hanya satu kegiatan, mereka juga bisa mengikuti lebih dari lima dalam satu waktu. Namun, ternyata terlalu bersemangat melakukan berbagai pekerjaan berlebihan bisa membuat terjebak dalam toxic productivity.

Psikolog klinis dari Inggris, Dr. Julie Smith mengatakan toxic productivity merupakan sebuah obsesi mengembangkan diri dan merasa bersalah apabila tidak bisa melakukan banyak hal. Toxic productivity muncul dari kebiasaan yang menjunjung tinggi produktivitas. Melihat
pencapaian dan aktivitas orang lain yang sangat banyak membuat kita seolah tertinggal jauh.

Dalam dunia perkuliahan, mahasiswa tidak luput dari toxic productivity demi mengejar nilai IPK atau kesuksesan sebuah acara organisasi. Bahkan demi produktivitas yang tinggi mereka merelakan waktu tidurnya yang menyebabkan kesehatan menurun. Media sosial sempat ramai dengan postingan yang menyinggung kebiasaan mahasiswa dalam mengejar tugas, “Nugas sewajarnya kalo sakit terus mati kan keluarga yang sedih…”

Secara psikologis, toxic productivity yang dialami oleh seseorang dapat menyebabkan burnout
dan mereka cenderung hanya melihat apa yang belum mereka lakukan bukan apa yang sudah
ia kerjakan. Di samping itu, hal ini juga bisa memengaruhi hubungan sosial seseorang.

Sebagai pembuktian diri

Tuntutan akademik dan pemikiran “aku harus produktif” membuat seseorang tidak bisa beristirahat. Namun, mereka seringkali membagikan momen yang mereka lakukan di media sosial sebagai eksistensi diri. Berbagai respon positif maupun negatif tidak bisa terhindarkan. Respon positif yang sering diterima biasanya berupa kalimat pujian dan menanyakan bagaimana cara mencapai hal serupa. Di sisi lain, ia sering diberi slogan seperti si ambis, caper, si paling sibuk, dan sebagainya

Lalu apa kebiasaan yang termasuk toxic productivity? Bekerja berlebihan dan mengabaikan sekitar, menanamkan ekspektasi tidak realistis kepada diri sendiri, dan merasa kesulitan beristirahat. Terkadang tanpa sadar membuat kita melupakan sampai mana batas diri sendiri. Mindset yang sudah tertanam dalam diri mereka seolah sulit diganggu gugat oleh siapapun termasuk lingkungan sekitarnya.

Adapun beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi toxic productivity seperti menanamkan ekspektasi realistis, tahu akan batas kemampuan diri, dan menentukan prioritas apa yang hendak dilakukan. Perlu apresiasi terhadap diri sendiri agar tidak menuntun diri sendiri untuk bekerja berlebihan.

Apakah salah menambah pengalaman? Tentunya tidak, setiap orang berhak melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Seseorang harus mampu memahami kemampuan dan batas dirinya sendiri. Jika diibaratkan seperti meletakkan tanda baca kita harus cermat dan tepat, di mana tanda koma sebagai penentu jeda dan titik sebagai pemberhentian. Jika suatu kalimat dipaksakan akan menjadi kemubaziran dan tidak tepat.

Penulis: Nur Aeni Safira

Yang Terjadi Saat Anak dan Orangtua Bergosip
5 Hal yang Patut Dicoba Mahasiswa Baru Agar Kuliah Tak Sia-Sia
Youtube dan Konten Sampah di Dalamnya
Belajar Kualitas, Komitmen, dan Fokus dari Perang Badar
Yang Harus Dilakukan ketika Merasa Salah Jurusan
TAGGED:Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatantoxic productivity
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
September Hitam, Tragedi September Hitam, Pelanggaran HAM, Pelanggaran HAM Indonesia, Kasus HAM
Kolom

September Hitam, Melawan dengan Merawat Ingatan

Hikam Abdillah
23 September 2025
Awal Tahun 2017, MPI Menyambut Tamu dari Pamekasan Madura
Buntut Masalah Visit UKM PBAK UIN Walisongo; Pengrusakan hingga Bantahan Mobilisasi Massa
Jika itu Puisi
Janjinya Pada Orang Tua Hantarkan Anisa Jadi Wisudawan Terbaik FITK
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan, Apakah itu Toxic Productivity?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan, Apakah itu Toxic Productivity?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?