
“Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, kebahagiaan adalah jalannya.”
-Buddha Gautama.
Petikan quotes dari sang Buddha tersebut seakan menampar kita untuk terus menjalani hidup dengan bahagia. Kebahagiaan kerap dijadikan tujuan akhir dalam menjalani kehidupannya. Namun, untuk seorang Buddha, kebahagiaan bukanlah terletak di ujung jalan, melainkan bertebaran sepanjang jalan tersebut.
Sudah banyak orang dengan perspektif yang berbeda-beda memandang kebahagiaan berdasarkan kebutuhannya. Sebagian besar beranggapan bahwa kebahagiaan penting untuk didapatkan, sebagian lainnya menganggap bahwa kebahagiaan hanya tentang bagaimana cara kita memberi makna.
Secara garis besar, pemenuhan rasa bahagia tetap mendapatkan ruang kecil dalam diri setiap manusia. Semua orang akan berusaha keras untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam hubungan ataupun kariernya. Banyak cara dan jalan yang kemudian akan dilakukan seseorang untuk mencapai tujuannya. Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang kemudian tanpa sadar berperilaku seolah malah akan merusak jalan menuju kebahagiaan itu sendiri.
Sebagai mahasiswa, sering kali kita melakukan penolakan atau merusak jalan menuju kebahagiaan yang sebenarnya sangat kita inginkan. Contoh kecil di dalam kelas, ketika sedang berlangsung sesi diskusi dan kita mendapat kesempatan untuk bertanya atau menjawab. Namun, tiba-tiba semuanya kita urungkan karena rasa takut atau malas dalam diri.
“Pengen tanya, tapi udalah biar cepat pulang” atau “Gak jadi nanya deh takut salah”
Secara tidak sadar, kita tengah menjauhkan diri dari berbagai hal positif yang sebetulnya bisa kita peroleh. Dari hal-hal yang kita perbuat ternyata kemudian malah menghalangi tujuan dalam hidup. Sikap itulah yang kemudian disebut sebagai self–sabotage atau sabotase diri.
Sabotase diri adalah perilaku atau pola pikir yang menahan atau mencegah seseorang melakukan apa yang diinginkan untuk mencapai kebahagiaan jangka panjang. Ketika ada sesuatu yang sedang ditargetkan, kita sendiri malah menyabotasenya. Hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk mencapai target. Kemudian, rasa sedih dan kecewa akan datang menghantui.
Banyak perilaku secara tidak sadar sering dilakukan atau bahkan terlanjur terjadi yang termasuk ke dalam bentuk sabotase diri. Contohnya adalah sikap menunda-nunda, membanding-bandingkan, mengkritik diri sendiri, perfeksionisme, mencari ketenangan dengan mengonsumsi obat-obatan, alkohol, dan merokok, atau bahkan melukai sendiri.
Mengakar dari dalam
Dokter Forensik Amerika, Judy Ho dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sabotase diri dapat berasal dari naluri alamiah manusia, untuk mendapatkan imbalan dan menghindari ancaman. Sabotase diri terjadi ketika seseorang lebih memilih untuk menghindari ancaman daripada mendapatkan imbalan. Akan muncul kerelaan seseorang dalam menerima rasa sakit, daripada harus menghadapi konsekuensi yang belum jelas.
Rendah diri juga menjadi penyebab seseorang menyabotase diri sendiri. Seseorang yang rendah diri akan percaya bahwa ia tidak pantas menerima hal-hal baik dalam hidupnya. Jika melabeli diri seperti itu, pada akhirnya ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dalam hidup. Bahayanya lagi, ketika hal tersebut dipercayai hingga dewasa, maka diri akan kehilangan motivasi untuk mencoba sesuatu yang sebenarnya baik untuk masa depan.
Penyebab lain ialah, tidak semua orang siap dengan perubahan. Untuk merasa nyaman, seseorang harus memiliki kendali terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasa takut yang berlebihan justru akan menjebak diri pada zona nyaman.
Self–sabotage cenderung terjadi di luar kesadaran. Maka dari itu, penting untuk menyadari dan mengakui bahwa mungkin ada perilaku yang menghambat jalan untuk mencapai tujuan jangka panjang. Menyelidiki dan bertanya “mengapa kita melakukan hal tersebut?”. Cobalah untuk menanggapi konflik yang terjadi dengan melihat dari sisi yang lebih baik.
Mulailah bertanggung jawab atas tujuan hidup yang diambil serta berhenti menyalahkan sesuatu yang diperbuat. Ingat bahwa kita adalah musuh diri kita sendiri. Oleh karenanya, jangan biarkan diri dan perilaku yang kita perbuat malah merusak jalan menuju kebahagiaan itu sendiri.
Eka Rifnawati


