Kaji Pola Asuh Otoriter, Aninda Ma’rufatus Tsaniyah Raih Gelar Wisudawan Terbaik FPK

Aninda Ma'rufatus Tsaniyah mengulas pengaruh pola asuh orang tua terhadap kondisi psikologis perempuan sehingga berhasil meraih predikat wisudawan terbaik FPK

4 Min Read
Potret Aninda Ma’rufatus Tsaniyah, peraih predikat wisudawan terbaik FPK dengan selempang kelulusannya. Sabtu (7/11/2026). (Dok. Khusus)
aninda ma'rufatus tsaniyah, wisudawan terbaik fpk, wisuda periode november, wisuda uin walisongo, wisuda ke-102
Potret Aninda Ma’rufatus Tsaniyah, peraih predikat wisudawan terbaik FPK dengan selempang kelulusannya. Sabtu (7/11/2026). (Dok. Khusus)

Amanat.id- Aninda Ma’rufatus Tsaniyah, mahasiswa Program Studi (prodi) Psikologi berhasil meraih predikat mahasiswa terbaik Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) pada wisuda ke-102 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo yang digelar di Gedung Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/11/2026).

Aninda meraih predikat Summa Cumlaude dengan tugas akhir berupa skripsi berjudul “Pengaruh Pola Asuh Otoriter dan Harga Diri Terhadap Fear of Intimacy pada Perempuan Dewasa Awal di Kota Semarang”.

Pemilihan judul tersebut dilatarbelakangi tingginya tuntutan ekspektasi sosial terkait hubungan pernikahan pada tahapan perkembangan dewasa muda, khususnya perempuan.

“Di bidang Psikologi, terdapat tugas perkembangan Intimacy vs. Isolation, yang menuntut individu untuk dapat membangun hubungan kedekatan tanpa kehilangan jati diri dengan lawan jenis maupun sesama jenis,” jelasnya.

Aninda menyoroti hambatan psikologi seperti fear of intimacy (ketakutan terhadap keintiman) pada perempuan, yang disebabkan oleh pola asuh orang tua otoriter seperti pola asuh yang kaku, menuntut kepatuhan mutlak, dan minim kehangatan. Pola asuh tersebut memicu turunnya harga diri seseorang.

“Hal tersebut dikaitkan dengan pola asuh orang tua otoriter, yakni pola asuh yang cenderung dikatakan negatif karena kurang adanya kepekaan dan banyaknya tuntutan dari orang tua. Hal itu dapat menjadi pemicu rendahnya harga diri karena kebutuhan emosional yang belum tercukupi,” paparnya.

Ia menyebutkan alasan disorotnya perempuan dalam isu tersebut, yakni tuntutan ekspektasi perempuan yang cenderung lebih tinggi dari pada laki-laki.

“Saya mengkhususkan untuk perempuan karena tuntutan ekspektasi sosialnya cenderung lebih tinggi daripada laki-laki untuk suatu hubungan. Sedangkan menurut penelitian terdahulu, laki-laki memiliki rasa resiliensi (ketahanan) yang lebih tinggi daripada perempuan,” ucapnya.

Ia menceritakan bahwa pencarian responden menjadi tantangan terbesarnya dalam menyusun skripsi. Selain itu, ia harus mengeliminasi beberapa individu yang mengisi form dengan asal-asalan.

“Saya harus mencari 5% responden di Semarang, kurang lebih sekitar 314 responden. Sebelumnya saya sudah mendapatkan 400 responden, tetapi harus disaring. Sehingga jumlah responden final menjadi 385 orang dalam waktu satu bulan,” terangnya.

Ia menjelaskan strategi belajar yang diterapkannya yaitu penyusunan skala prioritas dengan teratur.

“Saya tidak bisa mengerjakan tugas mendekati tenggat waktu, sehingga saya selalu menyusun planner di awal semester setelah pembagian tugas dan mengerjakannya dengan konsisten,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebuah kunci dari strategi pengelolaan waktu yang baik adalah konsisten pada progres.

“Strategi yang saya terapkan dalam manajemen waktu yaitu dengan fokus dan konsisten terhadap progres setiap minggunya,” katanya.

Adinda mengaku bahwa ia hanya fokus pada kegiatan yang berkaitan dengan studinya.

“Saya tidak aktif organisasi, sehingga saya memang fokus berkaitan dengan perkuliahan. Dalam jurusan saya, terdapat pengabdian seperti di panti sosial anak berkebutuhan khusus,” akunya.

Ia merasa bersyukur karena berada di lingkungan yang positif.

“Alhamdulillah, saya mempunyai banyak teman yang supportif di kampus. Untuk semester akhir, saya sarankan agar tidak mengerjakan skripsi sendirian karena hal itu berpengaruh pada kesehatan mental kita,” ujarnya.

Adinda berpesan kepada para mahasiswa agar selalu konsisten dalam belajar dan mengerjakan tugas.

“Kuliah harus konsisten belajar dan menyusun skala prioritas dengan teliti. Hal terpenting dalam mengerjakan tugas yaitu berusaha semaksimal mungkin dan dikerjakan dengan sepenuh hati,” tuturnya.

Reporter: Defina Naila Izza

Editor: Nur Rofiqoh Nabila

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.