
Amanat.id- Di tengah berbagai tantangan yang menghambat penyelesaian studinya, Nabila Khoirotun Nisa berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.85 pada Wisuda ke-102 di Auditorium II Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Sabtu (7/11/2026).
Berangkat dari pengalaman pribadi mendapat desakan segera menikah dari lingkungan terdekat, Nabila menyusun skripsi berjudul “ Memaknai Ketimpangan Gender dalam Kehidupan Wanita Karier: Studi atas Penafsiran Nur Rofiah terhadap Q.S. Al-Ahzab Ayat 33”. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa pandangan patriarkis masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
“Waktu umur 19 tahun, saya pernah dipaksa untuk menikah oleh tetangga. Menurut saya, pemikirannya masih kolot dan perlu diperbaiki. Saya merasa patriarki masih banyak di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.
Selain desakan untuk menikah, Nabila menyoroti ketimpangan pembagian pekerjaan domestik antara perempuan dan laki-laki. Ia mengaitkan kegelisahan tersebut dengan penafsiran Q.S. Al-Ahzab ayat 33 yang kerap dijadikan dasar untuk membatasi aktivitas perempuan di luar rumah.
“Misalnya, anak perempuan disuruh bangun pagi untuk bersih-bersih, lalu anak laki-lakinya dibiarkan bangun kemudian disuguhi makan. Kan terlihat timpang. Kemudian, ketemulah ayat Al-Qur’an yang sering kali dijadikan dasar untuk perempuan tidak boleh keluar rumah. Menurut saya, itu terlalu membatasi ruang perempuan,” jelasnya.
Ia menekankan keadilan gender (gender fairness), yaitu memberikan ruang adil bagi perempuan untuk berkembang tanpa harus menyamakan seluruh aspek kehidupan laki-laki dan perempuan.
“Laki-laki dan perempuan diciptakan memiliki keunikan, kelebihan, dan tanggung jawab masing-masing. Yang penting adalah perempuan punya ruang yang adil untuk berkembang sesuai kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Selama menempuh pendidikan di Prodi IAT, Nabila menghadapi berbagai tantangan akademik. Meski sejak awal antusias memasuki fakultas yang diinginkannya, ia sempat merasa kesulitan mengikuti perkuliahan ketika memasuki semester tiga.
“Awal saya sangat rajin belajar karena merasa masih kurang ilmu. Mulai semester tiga merasa salah jurusan. Tapi alhamdulillah dari pihak keluarga dan teman-teman selalu support,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan skripsi hingga bab 3 dalam dua bulan, ia didiagnosis mengalami infeksi usus besar yang mengharuskan penulisan skripsinya tertunda.
“Saya sempat sakit usus buntu sehingga bed rest lama. Banyak larangan dari dokter mengharuskan saya pulang ke rumah selama dua bulan full dan tidak menyentuh skripsi,” tuturnya.
Setelah melaksanakan sempro pada Maret 2026, ia kembali menunda pengerjaan skripsi karena sang ibu harus menjalani operasi katarak.
“Setelah saya sempat sakit, saya juga harus menemani ibu menjalani operasi katarak. Setelah itu saya mohon izin untuk segera menyelesaikan skripsi kembali,” jelasnya.
Selain berikhtiar secara lahiriah, ia juga menjaga ikhtiar batin melalui salat tahajud dan mengamalkan zikir Ratib Al-Attas serta Ratib Al-Haddad, terutama ketika menghadapi ujian atau situasi yang membuatnya khawatir.
“Saya mengamalkan Ratib Al-Attas dan Ratib Al-Haddad yang diamalkan tiap sebelum ujian atau hari-hari yang dirasa sulit. Saya selalu baca setiap habis Isya,” tuturnya.
Meski tidak pernah mendapat tuntutan khusus mengenai capaian IPK dari orang tuanya, ia tetap memiliki dorongan untuk memberikan hasil terbaik melalui pendidikan.
“Dari kecil tidak pernah dituntut harus mendapat nilai sempurna. Namun saya sadar diri harus rajin belajar. Karena yang bisa saya berikan sebagai hadiah adalah sebuah usaha,” katanya.
Meski telah berusaha maksimal selama perkuliahan, ia mengaku tidak menargetkan predikat wisudawan terbaik, tetapi selalu berusaha mengerjakan apapun dengan maksimal.
“Tidak ada target tertentu. Tapi saya berprinsip mengerjakan suatu hal harus maksimal,” titahnya.
Selain dukungan keluarga, teman-teman juga berperan dalam perjalanan akademiknya.
“Teman-teman kelas yang membantu saya latihan presentasi sebelum sidang, serta berdiskusi soal tugas akhir,” ujarnya.
Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Agama (S.Ag.), Nabila berencana mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Ia juga memiliki keinginan melanjutkan pendidikan magister (S2) bidang Studi Islam di UIN Walisongo.
“Kalau saya pribadi ingin mengejar CPNS. Di satu sisi saya juga ingin lanjut studi S2 Studi Islam di UIN Walisongo,” tuturnya.
Ia menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang berjuang menyelesaikan studi agar tidak menyerah tiap menghadapi kesulitan.
“Jangan malas, terus berjuang. Boleh istirahat yang penting berprogress,” pungkasnya.
Reporter: Melvina Rahma Nandarizqi
Editor: Romaito

