
Sendok jatuh hati pada piring,
Sejak pertama kali mereka makan bubur bersama.
Garpu meyembunyikan kecemburuannya,
Ia pernah menjadi tangan kanan dalam segala tawa kecil yang dulu tak butuh alasan.
“Piring itu datar!” kata Garpu sinis,
“Dan kamu cuma diperlukan waktu makan manis!”
Sendok mengkilat, bersolek tiap malam,
berharap bisa dipilih saat sarapan.
Di saat si Sumpit datang,
dari rak atas, turun dengan elite.
Piring…. merona,
katanya, “Dia beda… dia dari Jepang!”
Kini di laci sunyi, dua logam bersandar,
sama-sama patah hati, redup.
Mereka sadar, cinta di dapur memang rumit,
apalagi kalau bukan peralatan favorit.
Semarang, 20 April 2025
Rizka Nur Nahida Maramis (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki


