
Amanat.id- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo melakukan Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di area depan Gerbang Kampus 3, Selasa (20/10/2026).
Kepala Subbagian (Kasubag) Umum UIN Walisongo, Mahmudi menjelaskan penertiban PKL bertujuan untuk upaya estetika UIN Walisongo.
“Kami ingin mengembalikan wibawa dan estetika kampus. Jangan sampai PTKIN terbesar di Jawa Tengah justru terlihat kumuh karena aktivitas dagang tanpa izin yang tidak bertanggung jawab,” tegas Mahmudi.
Mahmudi meluruskan bahwa kebijakan penertiban tersebut bukan bentuk penolakan terhadap keberadaan para pedagang, melainkan murni demi menata kembali kawasan UIN Walisongo.
“Intinya, penertiban ini bukan untuk menghalangi orang cari rezeki, tapi agar kawasan gerbang yang menjadi ‘wajah’ UIN ini kembali bersih dan rapi,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa alasan penertiban PKL juga menjaga kebersihan UIN Walisongo yang dikeluhkan kotor dan kumuh.
“Selama ini mereka berdagang secara ilegal dan menyisakan sampah yang mengotori area gerbang. Kampus jadi terlihat kumuh karena sisa dagangan dibuang sembarangan,” tambahnya.
Mahmudi menegaskan bahwa para pedagang berjualan secara ilegal serta meninggalkan sampah sehingga dianggap tidak menghormati kampus.
“Selama ini berdagang tanpa permisi. Sudah tidak izin, menyisakan sampah lagi. Bahkan kencing seenaknya. Kita seperti diinjak-injak terang-terangan,” tuturnya.
Tak hanya menyayangkan sikap pedagang, Mahmudi juga menyentil minimnya kepedulian dan sikap kritis mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan kampus.
“Saya heran mahasiswa tidak ada kesadaran soal kebersihan kampus. Ormawa kalau membuat event tidak pernah ada divisi kebersihan. Mengapa? se-tidak peduli itu dengan kebersihan kampusnya sendiri?” cecarnya.
Jelita (bukan nama sebenarnya), salah satu pedagang es buah sekaligus mahasiswa UIN Walisongo menuturkan sejak lapaknya digeser dari area depan gerbang, pendapatan harian dagangannya menurun drastis.
“Pendapatan anjlok, separuhnya saja tidak ada. Jadi yang sisa terpaksa dijual keliling lagi buat cari pembeli,” ujarnya saat diwawancarai tim Amanat.id, Senin (12/10).
Ia menambahkan, usaha es buah yang ditekuni ibunya sejak 2020 tersebut kini terpaksa mangkal di bahu jalan raya yang tidak strategis.
“Setelah pergi dari area kampus, saya terpaksa berjualan di bahu jalan raya,” tambahnya.
Salah satu pedagang sempolan, To juga mengeluhkan pengurangan pendapatan semenjak berpindah tempat jualan.
“Pendapatan saya anjlok, bahkan kemarin sampai tidak balik modal,” tuturnya.
To mengatakan lebih memilih mengurangi jumlah porsi dagangan harian agar tidak rugi.
“Saya memilih porsi jualannya dikurangi agar tidak makin rugi,” katanya.
Ia dan beberapa pedagang lain telah melakukan audiensi dengan pihak Rektorat UIN Walisongo pada Sabtu, (17/10/2026).
“Setelah penggusuran, kami dapat kesempatan menemui pihak rektorat untuk mencari solusi pada tanggal 17 Oktober lalu,” titahnya (20/10).
Ia mengungkapkan pihak kampus menawarkan opsi relokasi ke area bawah masjid Kampus 3 UIN Walisongo dengan sistem sewa lahan.
“Kampus akhirnya memberi solusi untuk memindahkan kami ke lahan bawah Masjid 3, tapi sistemnya bayar sewa lahan tahunan per meter. Dan sekalian didata siapa saja pedagang yang akan pindah ke area bawah masjid,” tambahnya.
Namun, menurut To, solusi tersebut dinilai memberatkan, mengingat adanya jadwal kalender hari libur kampus.
“Saat mahasiswa libur, otomatis kami tidak ada pemasukan sama sekali, tapi tetap harus bayar sewa penuh,” ucapnya.
Salah satu mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Salwa menyambut positif pemandangan baru di area Gerbang Kampus 3 UIN Walisongo yang menurutnya jauh lebih tertata.
“Sekarang area depan gerbang kelihatan lebih luas, bersih, dan rapi. Lalu lintas kendaraan masuk-keluar kampus juga tidak tersendat lagi,” tutur Salwa.
Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), Rizka Aminatul menyayangkan hilangnya akses jajan di sekitar Gerbang Kampus 3 UIN Walisongo.
“Biasanya tiap habis selesai kelas sore pasti jajan dulu di depan kampus 3. Sekarang jadi malas jajan karena lokasinya pindah ke pinggir jalan raya, jalannya lumayan jauh, ribet, dan banyak kendaraan lewat jadi berasa kurang aman,” ujarnya.
Reporter: Amrina Rosyada (Cakruma SKM Amanat 2026)
Editor: Anisa Atun Maryam

