Belum Ada Penambahan Shuttle, Kabag Umum UIN Walisongo: Fokus Sarana Prioritas

Kabag Umum UIN Walisongo menjelaskan penggunaan shuttle diprioritaskan untuk mahasiswa Ma'had Al-Jamiah serta anggaran kapasitas shuttle difokuskan pembangunan sarana lain

5 Min Read
Beberapa mahasiswa sedang menaiki Shuttle yang berhenti di depan gedung Rektorat UIN Walisongo, Senin (12/10/2026). (Amanat/Zalfa).
Shuttle UIN Walisongo, Ma'had UIN Walisongo, Kabag Umum UIN Walisongo, UIN Walisongo, Fasilitas Kampus
Beberapa mahasiswa sedang menaiki Shuttle yang berhenti di depan gedung Rektorat UIN Walisongo, Senin (12/10/2026). (Amanat/Zalfa).

Amanat.id- Kapasitas shuttle Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dinilai belum sebanding dengan jumlah mahasiswa pengguna harian. Kepadatan penumpang masif kerap terjadi, terutama di jam sibuk perkuliahan, Rabu (14/10/2026).

Salah satu mahasiswa pengguna harian shuttle, Levita Vidiantika menceritakan situasi paling tidak kondusif terjadi saat jeda pergantian kelas.

“Ramainya pengguna shuttle sering terjadi pada waktu pergantian kelas siang,” ujarnya.

Ia menambahkan keterbatasan jumlah armada membuat kondisi pengangkutan riskan bagi keselamatan. Ia mengaku harus rela berdiri dan bergelantungan demi menuju ruang kelas.

“Tiap hari saya pasti bergelantungan saat naik shuttle. Dengan estimasi pengguna mencapai ratusan orang per hari, empat shuttle yang beroperasi masih sangat kurang,” keluhnya.

Di tengah keterbatasan armada, mahasiswa pengguna harian shuttle kerap dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan, di antaranya Thaliya Zuliyani.

“Saat kondisi shuttle penuh, aku terpaksa bergelantungan di shutle kemarin dan hampir jatuh,” ungkap Thaliya.

Selain masalah kapasitas dan keselamatan, lanjutnya, efektivitas koordinasi shuttle melalui grup WhatsApp juga dinilai tidak berjalan optimal.

“Penjemputan sistem via WA tidak efektif. Jarang juga itu dilakukan, karena supirnya juga tidak merespons. Jadi tidak tahu kepastian penjemputannya,” terangnya.

Salah satu supir shuttle, Afif mengatakan dilema yang dihadapi di lapangan. Selain keluhannya terhadap penumpang yang sulit ditertibkan, para supir mengaku belum mendapat ketegasan Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan tertulis dari birokrasi UIN Walisongo.

“Saya sering mengimbau mahasiswa, tapi mereka tetap ngeyel. Saya juga sudah melapor ke pimpinan, tetapi belum ada kebijakan yang jelas,” ungkapnya saat diwawancarai tim Amanat.id, Senin (12/10/26).

Selain masalah kepadatan penumpang, Ia mengaku operasional shuttle pada jam sibuk sering terkendala akibat berkurangnya personel supir yang ditugaskan mengawal kegiatan dinas luar fakultas.

“Kadang sopir reguler harus mengantar kegiatan dinas luar fakultas,” tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Umum UIN Walisongo Muhammad Fathul Imam menegaskan empat armada shuttle yang beroperasi pada dasarnya diprioritaskan bagi santri Ma’had Al-Jami’ah yang dilarang membawa kendaraan pribadi.

“Empat shuttle itu sebenarnya diprioritaskan untuk santri Ma’had yang dihimbau tidak membawa kendaraan. Kalau untuk mahasiswa umum sifatnya sambil lalu. Mahasiswa umum mayoritas membawa sepeda motor sendiri, kecuali yang tinggal di Ma’had,” jelas Fathul saat diwawancarai tim Amanat.id di ruangannya, Rabu (14/10/2026)

Fathul menambahkan bahwa UIN Walisongo saat ini tengah mengedepankan efisiensi anggaran operasional dan memprioritaskan pembangunan sarana yang masih kurang.

“Penambahan armada berarti harus merekrut driver baru dan menyediakan anggaran UMR serta BBM. Saat ini anggaran kampus dimaksimalkan untuk prioritas pembangunan sarana yang masih kurang, seperti perluasan tempat parkir yang sedang dibangun di FTIK,” tuturnya.

Fathul menyatakan UIN Walisongo saat ini memiliki total 10 orang staf pengemudi.

“Kita mempunyai 10 driver. Enam diantaranya untuk keperluan pimpinan, Pak Rektor dan Wakil Rektor,” ujar Fathul.

Namun, jika ada agenda akreditasi atau keperluan mendesak di fakultas, pihak Sarana dan Prasarana (Sarpras) terpaksa menarik driver shuttle yang ada.

“Jika ada keperluan mendesak dari fakultas, misalnya penjemputan asesor akreditasi dan driver pimpinan sedang bertugas, terpaksa salah satu driver shuttle kami tarik. Memang driver shuttle tidak hanya untuk shuttle saja, tetapi juga untuk keperluan kampus yang lebih mendesak,” tambahnya.

Mengenai keselamatan dan aturan batas penumpang, Fathul mengimbau agar mahasiswa dan sopir tetap saling menjaga keselamatan dasar, mengingat shuttle merupakan angkutan khusus internal kampus yang tidak beroperasi di jalan raya publik.

“Ada laporan dari driver, terdapat beberapa mahasiswa yang naik shuttle hanya untuk berkeliling dan tidak mau turun. Ini tentu mengurangi jatah hak tempat duduk bagi mahasiswa lain yang benar-benar membutuhkan,” titahnya.

Penambahan armada shuttle akan dilakukan seiring bertambahnya jumlah mahasiswa ma’had seperti pernyataan Fathul Imam tahun lalu saat diwawancarai oleh tim Amanat.id

“Kemarin kita memang ingin menambah armada shuttle, seiring bertambahnya mahasiswa ma’had bukan mahasiswa secara umum. Tetapi karena santri mahad saat ini hanya 1.300-an, dengan empat armada saya kira masih memadai,” tutupnya.

Reporter: Zalfa Zakya (Cakruma SKM Amanat 2026)
Editor: Adhilni Mizaniyatul Ilmi

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.