
Amanat.id- Mahasiswa baru Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo melakukan aksi membentangkan vandal bertuliskan “Pajak Naik UKT Semakin Naik” saat orasi ilmiah penutupan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 berlangsung, Kamis (20/8/2026).
Koordinator lapangan (Korlap) FSH, David Setiawan mengatakan bahwa aksi tersebut didasari oleh keresahan mahasiswa akan besaran Uang Tunggal Kuliah (UKT) yang semakin tinggi.
“Jika dilihat berdasarkan data, mahasiswa baru UIN Walisongo tahun ini mengalami penurunan, salah satu faktornya karena UKT yang sangat tinggi hingga mahasiswa baru mengalami kesulitan finansial,” ujarnya.
David menjelaskan alasan aksi tersebut dilakukan agar aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan.
“Kami sengaja melakukan aksi ketika Pak Media sedang melakukan orasi, karena beliau merupakan Menteri Kabinet Bayangan yang seharusnya meyuarakan ketidakadilan yang terjadi,” ucapnya.
David berharap bahwa suara mahasiswa dapat tersampaikan dengan baik kepada instansi yang berwenang.
“Karena momennya bertepatan, jadi bisa langsung dilihat oleh Pak Media Wahyudi yang harapannya bisa disampaikan kepada pemerintah dan instansi yang berwenang,” imbuhnya.
Menurut David, aspirasi keresahan UKT mahasiswa sudah berlangsung sejak 2024 hingga saat ini.
“Aspirasi mengenai UKT sudah dilaksanakan sejak 2024, namun nyatanya hingga 2026 ini tidak ada follow up terkait banding UKT bahkan hingga detik ini,” pungkasnya.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum, Sultan Roib Andinabawa turut resah akan besaran UKT yang dirasakan mahasiswa.
“Kalau dilihat memang banyak mahasiswa yang mengalami kenaikan UKT tidak semestinya, apalagi jika dari keluarga tidak mampu dan mendapatkan UKT yang tidak sesuai kapasitasnya,” tuturnya.
Dirinya pun mengaku sempat kaget ketika melihat besaran UKT-nya sendiri.
“Kaget waktu lihat UKT saya dengan nominal yang tidak sedikit,” herannya.
Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum lainnya, Muhamad Ghoza Al-Fatir mengatakan aksi tersebut bagian dari keresahan para mahasiswa.
“Menurut saya aksi tersebut merupakan representasi dari banyaknya aspirasi mahasiswa atas ketidaksesuaian UKT yang terjadi,” tuturnya.
Ia menyayangkan banyak mahasiswa baru yang mendapatkan UKT tidak sesuai.
“Kebijakan dari kampus mengenai pengelolaan dan pengelompokkan UKT ini cukup memberatkan maba dalam menyelesaikan administrasinya di UIN Walisongo, pengajuan surat keterangan tidak mampu sudah, slip gaji orang tua juga tidak terlalu tinggi, namun tetap saja UKT-nya besar,” ucapnya.
Ia berharap UIN Walisongo bisa lebih bijak dalam penetapan UKT mahasiswa.
“Saya harap UIN Walisongo bisa lebih bijak dalam penetapan UKT. Selain itu, pengajuan banding UKT bisa disikapi dengan baik agar sesuai dengan kemampuan finansial mahasiswanya,” ujarnya.
Mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Prodi Teknik Lingkungan, Labib Altaqi mengatakan isu yang diangkat dalam aksi tersebut relevan dengan yang terjadi oleh mahasiswa.
“Menurut saya isu yang diangkat dalam aksi tadi sangat relevan apalagi buat mahasiswa UIN,” ujarnya.
Dirinya turut merasakan ketidaksesuaian besaran UKT yang diterimanya.
“Saya juga merasa tidak sesuai atas besaran UKT yang saya terima dengan data bukti yang sudah saya lampirkan,” tuturnya.
Labib berharap sistem penginputan data yang diisi mahasiswa dengan penetapan UKT harus sesuai.
“Harapan saya untuk sistem penginputan data dan penetapan UKT bisa disesuaikan dengan benar dan ada verifikasi data dari birokrasi,” harapnya.
Reporter: Dinda Alfiani


