
Amanat.id– Berbeda pada tahun sebelumnya, pada Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) 2025, Kandidat Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo hanya terdapat calon tunggal, Selasa (23/12/2025).
Ketua Partai Kebangkitan Mahasiswa (PKM), Khoirullah Simbolon menegaskan bahwa keputusan tidak mengajukan pasangan calon DEMA UIN Walisongo merupakan sikap politik yang sadar akan ketidakadilan.
“PKM menolak untuk ikut serta dalam kontestasi yang sejak awal tidak diselenggarakan secara adil dan demokratis. Bagi kami, berpartisipasi dalam sistem yang cacat sama artinya dengan ikut melegitimasi ketidakadilan itu sendiri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tenggat waktu tahapan Pemilwa 2025 yang terlalu singkat.
“Saya menyoroti tenggat waktu tahapan Pemilwa yang sangat singkat, padat, dan tidak memberikan ruang yang wajar, sehingga PKM tidak bisa menjaring calon secara demokratis,” terang Irul.
Ia mengkritik waktu pelaksanaan yang dibuat oleh Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM), menurutnya rangkaian prosedur yang diberikan jauh dari unsur keadilan.
“Timeline yang disusun tidak mencerminkan asas keadilan prosedural dan secara tidak langsung menyaring peserta secara sistemik, sehingga hanya pihak-pihak tertentu yang mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut,” ungkapnya.
Serupa dengan Khoirullah, Ketua Partai Mahasiswa Berkemajuan (PMB), Hardiansyah Tri Bima menyampaikan bahwa keputusan tidak mengajukan calon adalah keputusan yang terbaik.
“Keputusan untuk tidak mengajukan calon ini merupakan langkah terbaik bagi kami, mengingat partai kami baru bisa ikut kontestasi lagi setelah sebelumnya hanya bisa menjadi penonton,” tutur Hardiansyah
Ia berpendapat bahwa calon tunggal pada Pemilwa berpotensi melahirkan kepemimpinan yang buruk.
“Calon tunggal berisiko mengurangi makna partisipasi mahasiswa, melemahkan fungsi kontrol, dan berpotensi melahirkan kepemimpinan yang kurang inklusif karena tidak teruji dalam kompetisi gagasan yang ketat,” tutupnya.
Ketua KPM UIN Walisongo, Akhmad Maskuri berpendapat munculnya pasangan calon tunggal pada DEMA UIN Walisongo disebabkan mahasiswa enggan menanggung beban sebagai ketua organisasi.
“Adanya paslon tunggal terjadi karena minat berorganisasi mahasiswa semakin menurun. Mereka tidak ingin mengemban amanah besar sebagai sosok pemimpin organisasi apalagi di tingkat universitas karena takut akan tanggung jawab yang besar,” ujarnya.
Meski hanya ada satu paslon, Maskuri menegaskan bahwa KPM telah membuka peluang besar bagi semua partai untuk masuk dalam proses kualifikasi.
“Kami membuka peluang besar dengan semua partai kami loloskan, lalu pemberkasan juga kita share terus melalui informasi di media dari KPM,” katanya.
Maskuri menjelaskan bahwa DEMA UIN Walisongo bukan hanya sebagai formalitas, tetapi juga menunjukkan eksistensinya dan menjaga persatuan.
“Harapan saya sederhana, semoga calon tunggal ini bisa menunjukkan bahwa DEMA-U hadir untuk mahasiswa dan dapat mempererat tanpa adanya kubu, bukan hanya sekadar formalitas atau pemanis di lingkup universitas,” terangnya.
Reporter: Ade Rizqi
Editor: Irbah Fatin



