By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Maraknya Kasus Kekerasan Seksual di UIN Walisongo, Pembentukan Satgas PPKS Masih Mandek
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
UIN Walisongo, Satgas PPKS, Pembentukan Satgas PPKS, Kekerasan Seksual, PSGA UIN Walisongo
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang mengalami kekerasan seksual, (Amanat/Fahita).
UIN WalisongoVaria Kampus

Maraknya Kasus Kekerasan Seksual di UIN Walisongo, Pembentukan Satgas PPKS Masih Mandek

Last updated: 16 September 2025 9:39 pm
Moehammad Alfarizy
Published: 17 September 2025
Share
SHARE
UIN Walisongo, Satgas PPKS, Pembentukan Satgas PPKS, Kekerasan Seksual, PSGA UIN Walisongo
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang mengalami kekerasan seksual, (Amanat/Fahita).

Amanat.id– Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo kembali ramai menjadi perbincangan setelah akun instagram @pesan_uinws mempublikasikan cerita dari salah seorang penyintas, Kamis (11/9/2025).

Dalam narasi yang diunggah, salah satu teman penyintas menyinggung minimnya peran dari Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) sebagai lembaga yang menangani kasus kekerasan seksual.

Pada Kamis (15/5) lalu, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo turut mendesak rektorat untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang hingga kini belum ada kejelasan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DEMA UIN Walisongo, Muhammad Mu’tasim Billah menyebut mangkraknya pembentukan Satgas PPKS karena PSGA masih belum independen.

“Terkadang mangkraknya pembentukan Satgas PPKS hari ini karena terikat organisasi atau dengan apapun lah teman dan lain lain sehingga itu menjadi ketidakprofesionalan,” ujarnya saat diwawancarai langsung, Jumat (12/9).

Menurutnya regulasi mengenai seleksi anggota Satgas PPKS harus melalui tahapan yang ketat.

“Aturan dari seleksi Satgas PPKS itu harus diperketat. Kalau mengacu dengan kampus lain, misalnya di Universitas Brawijaya (UB) itu 6 bulan,” terangnya.

Meskipun berbeda secara kelembagaan, Menurut Tasim pembentukan Satgas PPKS di UIN Walisongo memiliki koherensi regulasi antara Kementerian Agama (Kemenag) dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Regulasi soal pembentukan Satgas PPKS antara Kemenag dan Kemendikbudristek berbeda, tetapi setidaknya ada koherensi. Ada beberapa Prodi di UIN Walisongo yang di bawah naungan Kemendikbudristek dulu,” jelasnya.

Apabila Satgas PPKS tidak segera dibentuk, sambungnya, UIN Walisongo menyisakan pekerjaan yang belum selesai untuk kedepannya.

“Sah-sah saja untuk membentuk Satgas PPKS karena kelembagaan pendidikan. Prosesnya itu kalau tidak dibentuk hari ini landasan filosofisnya nanti akan menjadi PR kembali,” imbuhnya.

Tasim menekankan regulasi melalui Surat Keputusan (SK) Rektor mengenai pembentukan Satgas PPKS merupakan acuan utama.

“Regulasi yang dimaksud di sini adalah SK Rektor soal Satgas PPKS. Untuk prosedural soal teknis di lapangan akan melibatkan hasil konsolidasi dari PSGA se-PTKIN juga bisa,” katanya.

Menurutnya SK Rektor UIN Walisongo menjadi landasan hukum tertinggi dalam membentuk Satgas PPKS.

“Yang terpenting regulasinya adalah SK Rektor, karena kewenangan secara hukum di UIN Walisongo ini paling tinggi adalah itu,” ucap Tasim.

Ia menegaskan bahwa UIN Walisongo minim kesadaran mengenai isu gender.

“Kesadaran soal responsif gender juga harus bergerak. Melihat atensi tersebut hanya beberapa fakultas yang ikut konsolidasi,” tegasnya.

Tasim mengaku sudah beberapa kali mendesak rektorat untuk secara legal membuat regulasi.

“Kenapa kita kok secara legal tidak mendesak kampus? Kemarin sudah didesak tapi atensinya masih minim. Dari mahasiswa cuma 7 orang dari 3 fakultas,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Politik, Jolang Tejamanah mengaku kecewa dengan UIN Walisongo yang kurang responsif terhadap kasus kekerasan seksual.

“Menurut saya miris dan ironis buat UIN Walisongo yang katanya mendukung visi peradaban dan kemanusiaan namun secara lelet menanggapi permasalahan kasus kekerasan seksual yang kita sama-sama sepakati sebagai hal yang tidak bermoral,” ujarnya, Senin (15/9).

Menurutnya pembentukan Satgas PPKS menjadi penting mengingat maraknya kasus kekerasan seksual di UIN Walisongo.

“Maka pentinglah adanya Satgas PPKS. Tidak usah muluk-muluk tujuannya. Asal perlindungan, penanganan, penindaklanjutan tegas tentang adanya kekerasan seksual ini bisa terselesaikan dengan seharusnya,” ucap Jolang.

Mahasiswa Prodi Psikologi, Resha Fatih Khoirunissa mengaku pernah menjadi penyintas secara verbal.

“Saya cukup prihatin dengan keadaan seperti ini. Karena saya sendiri juga pernah menjadi korban cat calling. Saya yakin banyak sekali korban-korban yang pernah mengalami hal demikian, khususnya perempuan,” paparnya.

Senada dengan Jolang, mahasiswa yang akrab disapa Echa itu mengatakan pembentukan Satgas PPKS perlu ditindaklanjuti.

“Sangat urgent. Apalagi ada berita seperti ini. Harus segera ditindaklanjuti,” ucap Echa.

Menurutnya penyintas kasus kekerasan seksual memliki dampak yang besar bagi psikologis.

“Dampak psikologis pasti ada. Apalagi dari informasi yang saya baca, korban sampai potong rambutnya sendiri ya? Potong rambut tadi itu bagian dari self-harm, karena dia overstress dan bingung harus meluapkannya kemana,” tutupnya.

Reporter: Moehammad Alfarizy

Peringati Harlah, HMJ Biologi Gelar Biofest Dukung Program Green Campus
Kembali Raih Penghargaan ISPRIMA, PU Amanat: Kado untuk Ulang Tahun UIN Walisongo
Nota Keberatan Tak Direspon, Dema Pastikan Ada Aksi Massa Besar-besaran
PSHT UIN Walisongo Sabet 9 Medali Lomba Paku Bumi Open Asia Eropa
Forsida UIN Walisongo Gelar Dialog Interaktif Bersama Calon Ketua Dan Wakil DEMA-U Jelang Pemilwa 2025
TAGGED:kekerasan seksualpembentukan satgas ppkspsga uin walisongosatgas ppksuin walisongo
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Artikel

Jangan Jadikan Ramadan Sebagai Alasan Untuk Bermalas-malasan

Mohammad Iqbal Shukri
26 Mei 2019
Massa Aksi Gelar Teatrikal Kecam Tindakan Penembakan Siswa Oleh Aparat Kepolisian
Pagar Kantor Gubernur Roboh, Ganjar Akhirnya Bersedia Temui Massa
Perjodohan dan Rantai Kekerasan Seksual yang Tak Kunjung Usai
Berangkat Dari Hobi, Atlet FDK Sabet Dua Emas di Cabang Lomba Poster
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Maraknya Kasus Kekerasan Seksual di UIN Walisongo, Pembentukan Satgas PPKS Masih Mandek
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Maraknya Kasus Kekerasan Seksual di UIN Walisongo, Pembentukan Satgas PPKS Masih Mandek
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?