
Amanat.id– Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang terus menjadi pusat perhatian akibat keluhan beberapa santri mengenai keamanan barang, fasilitas asrama, dan administrasi, Rabu (3/9/2025).
Pada Jumat (22/8) lalu, Aliansi Mahasiswa Walisongo (AMW) menggelar aksi di depan Gedung Rektorat UIN Walisongo sebagai bentuk protes terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di ma’had.
Kepala Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo, Muthahar mengakui adanya kasus pencurian di asrama.
“Kalau akhir akhir ini tidak ada. Hanya diawal kemarin dan sudah kami laporkan ke pimpinan dan prosedurnya sudah kami proses,” ucapnya saat diwawancarai langsung, Rabu (3/9) .
Muthahar menjelaskan bahwa kasus pencurian di Ma’had UIN Walisongo sudah dilaporkan ke pihak berwajib.
“Kasus ini sudah kami laporkan ke polisi. Yang sebelumnya juga sudah dilaporkan, sementara yang baru masih dalam proses,” jelasnya.
Ia menegaskan pihaknya telah melakukan upaya pencegahan kasus termasuk memasang CCTV.
“Preventif yang sudah kita lakukan antara lain memasang CCTV di seluruh koridor dan menempatkan satpam di gedung lama maupun baru. Santri juga harus memahami pentingnya menjaga barang-barang pribadi,” jelasnya.
Muthahar mengaku fasilitas Ma’had UIN Walisongo masih belum memadai. .
“Saya akui ada kekurangan, terutama loker. Sebagian kuncinya hilang sejak santri sebelumnya sehingga sering berganti loker, dan itu jadi masalah,” ujarnya.
Terkait fasilitas lain, ia menyebut pengadaannya dilakukan secara bertahap.
“Pergantian santri membuat matras dibawa pulang oleh yang lama, lalu diganti santri baru. Prosesnya tidak bisa instan, tidak mungkin sekali pesan langsung seribu datang semua,” jelasnya.
Menanggapi isu kekerasan seksual, Muthahar menegaskan tidak pernah ada laporan dari para santri.
“Kekerasan seksual, setahu saya tidak pernah ada laporan. Dari santri dulu juga tidak ada, termasuk angkatan 2025 ini karena memang tidak ada laporan,” ujarnya.
Ia menyebut pernah ada satu kasus pelecehan, namun langsung ditindak tegas.
“Pernah ada dulu sekali, ada laporan pelecehan, bukan kekerasan. Orangnya langsung dipecat setelah saya lapor ke WR II dan Biro,” jelasnya.
Ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap tindakan tersebut.
“Saat ini tidak ada toleransi, bahkan untuk mem-bully saja tidak ada toleransi,” tegasnya.
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) 2024, Laksono Jiyanda Gandhy mengaku keamanan Ma’had UIN Walisongo sangat buruk.
“Untuk tempat itu lumayan nyaman tapi kalau keamanannya sangat buruk,” katanya.
Ia mengeluhkan kasus laptopnya yang dicuri ketika masa liburan.
“Saat libur Idul Adha saya buru-buru pulang karena ditelpon orang tua. Biasanya laptop saya bawa, tapi kali itu tertinggal di lemari yang tidak bisa dikunci,” jelasnya.
Ghandy mengkritik lambatnya respon dari musyrif Ma’had UIN Walisongo.
“Musyrif itu slow respon, pemasangan CCTV juga kurang tepat harusnya lebih di lorong ini malah di depan lift saja,” katanya.
Ia menyebut CCTV juga sulit diakses untuk santri ma’had.
“Akses CCTV sangat terbatas dan tidak jelas siapa yang diperbolehkan melihat,” tambahnya.
Ia berharap ada tindakan pasti dari pihak yang berwenang.
“Saya cuma ingin barang aman dan ada tindak lanjut jelas,” imbuhnya.
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) 2024, Yoga Sinatria mengeluhkan jadwal kuliah yang terblokir meski telah membayar uang catering.
“Saya kaget saat membuka jadwal kuliah tidak bisa diakses karena tercatat belum membayar catering, padahal sudah bayar,” ujarnya.
Ia mengatakan bukti pelunasan pembayaran sudah tertera dengan jelas.
“Awalnya saya diminta mengirim bukti transfer, sudah saya kirim. Tapi kemudian masih dibilang belum bayar. Padahal jelas-jelas sudah ada bukti pembayaran,” keluhnya.
Ia mengaku hingga saat ini akun Walisiadik miliknya belum bisa diakses.
“Kalau memang belum bayar itu wajar. Tapi kalau sudah bayar lalu masih di hold, itu yang jadi masalah,” tutupnya.
Reporter: Romaito
Editor: Moehammad Alfarizy


