
Amanat.id– Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang angkat suara mengenai kelanjutan atas meninggalnya 6 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) akibat laka di Sungai Genting, Jolinggo, Desa Getas, Kabupaten Kendal, Kamis (6/11/2025).
Ketua LP2M UIN Walisongo, Akhmad Arif Junaidi mengatakan kelanjutan dari mahasiswa KKN Posko 6 Desa Getas dinyatakan sah.
“KKN mereka kita nyatakan sah dan lulus,” ujarnya, Kamis (6/11).
Ia mengatakan Desa Getas akan dihindari sebagai lokasi KKN untuk sementara waktu.
“Desa Getas mungkin dihindari dulu, khawatir berdampak psikologis ke mahasiswa yang dikirim,”ujarnya.
Arif menuturkan desa di daerah Kabupaten Kendal lainnya masih dapat dijadikan lokasi KKN.
“Masih bisa, Desa Gabus pun masih, tergantung kesiapan psikologis dari mahasiswanya,” tuturnya.
Ia menegaskan akan ada evaluasi yang lebih spesifik setelah selesainya program KKN.
“Setiap selesai KKN pasti ada evaluasi, yang ini mungkin lebih spesifik,” tegasnya.
Arif juga memaparkan mahasiswa KKN yang wafat karena tengah melakukan program kerja pemberdayaan wisata Tubing.
“Mereka kan punya program pengembangan ekonomi masyarakat desa dengan cara memulihkan kembali wisata Tubing yang mulai redup,” katanya.
Lanjutnya, para mahasiswa turun ke sungai untuk mengambil rekaman gambar dan video.
“Mereka turun ke sungai Tubing untuk mengambil rekaman sebagai bahan promosi di media sosial. Tidak tahunya jadi petaka,” pungkasnya saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp.
Ia menuturkan 6 jenazah mahasiswa telah sampai di rumah duka.
“Semua jenazah sudah sampai di rumah,” tuturnya.
Arif menyampaikan semua mahasiswa KKN yang meninggal akibat laka air Sungai mendapatkan asuransi.
“Semua mahasiswa KKN yang meninggal diasuransikan. Kami baru mulai mengurusnya,” ujarnya.
Ia melanjutkan mahasiswa yang selamat telah kembali ke kampus untuk mendapatkan layanan psikologis.
“Enam mahasiswa ditangani oleh psikolog dan psikiater UIN Walisongo, yang 3 dijemput keluarga masing-masing,” tutupnya.
Reporter: Dwi Endang Setyorini
Editor: Moehammad Alfarizy



