
Amanat.id- Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo beramai-ramai menghadiri acara Seruan Solidaritas, Doa Bersama, dan Tabur Bunga atas insiden hanyutnya enam mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Getas, Kabupaten Kendal di Landmark Kampus 3, Rabu (05/11/2025).
Salah satu teman korban, Putri Wulan mengaku sempat tidak percaya tentang berita hilangnya beberapa mahasiswa KKN UIN Walisongo.
“Saya tidak percaya ketika menerima kabar hilangnya teman saya di jam 14.00 WIB. Akhirnya setelah lomba di Salatiga, saya dan teman-teman lainnya bergegas menuju daerah tersebut, tetapi sebelum sampai kami dikabari bahwa teman kami sudah tiada,” akunya.
Putri menceritakan ketika sampai di daerah Kendal, pihak kampus dan organisasi masyarakat sudah memulai proses pencarian dan perawatan korban.
“Sesampainya di Puskesmas setempat kami menemukan pihak Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan ada beberapa dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) membantu di sana,” tuturnya.
Ia berharap kedepannya mahasiswa KKN UIN Walisongo dapat lebih fokus pada program kerja (proker).
“Lebih baik menyelesaikan program kerja yang ada dan menunda kegiatan yang tidak penting,” ucap Putri.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI), Gibran turut merasa kehilangan.
“Meskipun kami tidak sedarah dan tidak saling kenal, tetapi mereka tetap sama seperti kita, yang ditunggu kepulangannya oleh keluarga,” ucap Gibran.
Menurutnya insiden tersebut tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pihak kampus.
“Kampus memang perlu bertanggung jawab atas kejadian ini, tetapi insiden ini juga terjadi karena kelalaian dari mahasiswa, serta cuaca yang tidak mendukung,” lanjutnya.
Mahasiswa Prodi Ilmu Politik, Faqih juga merasa terpukul setelah mendengar kabar meninggalnya enam mahasiswa UIN Walisongo.
“Saya dan teman-teman mahasiswa yang lain merasa kehilangan atas kejadian ini. Mendengar kabar buruk itu membuat kami merasa terpukul,” ujarnya.
Faqih berharap kejadian tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat luas.
“Saya berharap mereka dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, karena pada setiap kejadian pasti kita dapat memetik hikmahnya,” pesan Faqih.
Mahasiswa Prodi Sosiologi, Salma Fatima mengaku terkejut ketika pertama kali membaca berita meninggalnya beberapa mahasiswa UIN Walisongo saat sedang KKN.
“Saya terkejut ketika membaca berita ternyata yang menjadi korban adalah kakak kelas saya sendiri,” ujar Salma.
Menurutnya pihak kampus perlu melakukan tindakan belasungkawa seperti membantu keluarga korban.
“Sebagai bentuk bela sungkawa, kampus perlu membantu meringankan keluarga dan rekan-rekan korban, baik secara finansial maupun psikologi,’’ titah Salma.
Reporter: Ade Rizqi
Editor: Nijam



