
Amanat.id- Dalam insiden hilangnya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Sungai Genting, Jolinggo, Mahasiswa Walisongo Pencinta Alam (MAWAPALA) sempat ikut serta dalam proses pencarian bersama dengan Tim SAR gabungan, Rabu (6/11/2025).
Tim SAR gabungan tersebut melibatkan beberapa pihak, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), dan instansi relawan lainnya.
Kepala Divisi Tim SAR MAWAPALA UIN Walisongo, Syarif Mustofa Masyur menceritakan pengalamannya ketika ikut serta membantu mencari korban yang sempat hilang. Ia mengatakan dalam proses pencarian tim relawan di bagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU).
“Dari instansi relawan yang ada, kita di bagi menjadi empat titik dan di setiap titik terdapat Sru atau relawan yang bertugas,” katanya saat diwawancarai di Kantor Mawapal, Kamis (6/11).
Ia juga menjelaskan setiap SRU memiliki tugasnya masing-masing, seperti menyisir daerah hingga ke tengah sungai menggunakan perahu.
“Tugas Sru ini menyisiri daerah yang sudah ditentukan dan terdapat satu Sru Rafting yang tugasnya bukan di daratan tetapi di perairan menggunakan perahu,” jelasnya.
Gotri mengungkapkan dalam proses pencarian saat itu, tim SAR gabungan sempat terhambat karena beberapa kendala. Kondisi alam yang tidak menentu menyulitkan tim SAR gabungan sulit untuk terjun ke lapangan, ditambah juga minimnya penerangan.
“Hambatan utama itu medan karena terdapat beberapa titik yang tidak bisa kami lewati ditambah hujan yang membuat kita kesusahan juga. Kedua, kurangnya penerangan saat malam hari sehingga pencaharian malam hari kita hentikan,” ujarnya.
Selain itu, Gotri mengatakan tim SAR gabungan juga dibantu oleh warga sekitar, atas kerja sama seluruh pihak, korban terakhir, yaitu Nabila Yulian Dessi Pramesti dapat ditemukan di sekitar Jembatan Banyuringin yang berjarak 10 KM dari titik awal Nabila terbawa arus.
“Berawal dari inisiatif warga Desa Banyuringin untuk ikut terjun ke lokasi pencarian, akhirnya sekitar jam sepuluh malam salah satu warga melihat sesosok mayat mengapung di tengah sungai. Kemudian, warga melaporkan temuannya kepada tim SAR gabungan,” ujarnya.
Menurut Gotri, lokasi penemuan korban dengan lokasi hilangnya Nabila yang cukup jauh disebabkan adanya luapan air dari atas daerah Sumowono sehingga menyebabkan korban terbawa arus ke ujung sungai Jalinggo.
“Kenapa Nabila ini lebih jauh, karena di hari Rabu dan Selasa daerah Sumowono hujan sehingga luapan air inilah yang membawa Nabila sampai ujung,” tuturnya.
Ia mengatakan ditemukannya korban terakhir dari keenam mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang, tim SAR gabungan serta relawan lainnya menghentikan proses pencarian di Sungai Genting, Rabu (5/11) pukul 22.23 WIB.
“Setelah ditemukannya Nabila, pada saat itu pencarian enam korban hilang di sungai Jalinggo dinyatakan selesai,” pungkasnya.
Reporter: David Setiawan
Editor: Gojali



