By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Alegori Kehidupan yang Absurd
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Esai

Alegori Kehidupan yang Absurd

Last updated: 8 Januari 2025 7:03 pm
Moehammad Alfarizy
Published: 8 Januari 2025
Share
SHARE
Ilustrasi seseorang menemukan makna kehidupan (istockphoto.com)
Ilustrasi seseorang menemukan makna kehidupan (istockphoto.com).

Suatu hari, seorang buruh pabrik sedang menyeruput kopi dan menikmati rokoknya. Sejenak, ia bertanya kepada dirinya siapa aku? Tentu saja ia adalah seorang buruh pabrik, namun pikirannya menyangkal dan mengatakan ia adalah seorang manusia. Apa itu manusia? Siapakah manusia itu? Selama ini ia tidak mengerti bahwa dirinya belum sepenuhnya memahami tentang siapakah ia sebenarnya.

Manusia hidup untuk bekerja, mencari uang, mendapatkan kekayaan, dan membeli semua yang dinginkan. Apakah hidup hanya untuk kekayaan? Atau hanya untuk sebuah ketenaran?. Seringkali, manusia secara sadar dilema mempertanyakan eksistensi bahwa secara hakikat jauh daripada itu. Eksitensialisme ibarat, lentera yang menerangi jalan hidup manusia di tengah gemerlapnya hutan rimba.

Pertarungan moralitas

Bohemian Rhapsody merupakan lagu rilisan band legendaris Queen pada tahun 1975. Lagu tersebut secara tersirat menggambarkan Freddie Mercury sebagai seorang yang eksistensialis dan memandang dunia sebagai sebuah absurditas.

Is this the real life? Is this just fantasy?

Baris kedua pada bait pertama lirik lagu, ia seakan menjawab pertanyaan atas keraguan dan kesengsaraan hidup, tetapi bukan jawaban optimis melainkan dengan analogi yang pesimis. Ia menganalogikan hidupnya seperti terperangkap dalam tanah longsor sehingga tak dapat lari dari keyataan yang dihadapi.

Caught in a landslide
No Escape from reality

Freddie mulai menunjukkan diri sebagai seorang eksistensialis ketika ia menceritakan dirinya adalah seorang Gipsy yang miskin dan berkehidupan nomaden. Istilah “Gipsy” dalam lirik lagu hanya bersifat simbolik bagi kebebasannya agar selalu bertahan dari kesengsaraan hidup.

I’m just a poor boy, I need no sympathy
Because I’m easy come, easy go, little high, little low
Any way the wind blows doesn’t really matter to me

Pada bait kedua, Freddie menceritakan bahwa dirinya telah membunuh seorang laki-laki. Pergulatan tentang moralitas yang disinggungnya melalui lirik ini sebagai representasi atau manifestasi dari kemalangan dan kesengsaraan hidup.

Mama, just killed a man
Put a gun against his head, pulled my trigger, now he’s dead

Mama, life had just begun
But now I’ve gone and thrown it all away

Membunuh seorang pria merupakan salah satu tindakan keji yang merenggut nyawa seseorang. Secara hukum di zaman modern, membunuh merupakan tindakan kriminal yang melanggar undang-undang. Selain menghilangkan nyawa seseorang, membunuh juga merenggut hak dan kebebasan seseorang untuk menjalani hidup. Selain itu, masyarakat memandang bahwa membunuh bagian dari pelanggaran etika terhadap hak manusia.

Etika secara kritis merupakan pembongkaran terhadap ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Peyimpangan mengenai paham etika dan moralitas tak dapat disamakan secara definisi dan konsep. Moralitas merupakan sebuah ajaran tentang bagaimana seorang manusia harus bertindak, sedangkan etika secara lebih khusus mempertanyakan kenapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu.

Hal itu sering kali bertentangan dengan eksistensialisme yang secara universal menekankan pada kebebasan manusia. Setiap tindakan yang dilakukan seorang manusia juga terdapat konsekuensi yang akan ditanggungnya. “Manusia dikutuk untuk bebas”, begitulah cara Jean-Paul Sartre menjelaskan eksistensialisme secara sederhana.

Menurutnya, ekistensialisme merupakan sebuah “doktrin” yang mengajarkan bahwa kebenaran dan setiap tindakan melibatkan lingkungan dan diri manusia. Ironinya, tindakan dan pikiran manusia selalu bertentangan dengan norma-norma masyarakat sehingga mengekang kebebasannya.

Ketersinggungan individu dengan norma sosial merupakan penghambat untuk menemukan otentikasi jati diri sebagai seorang manusia, sehingga menimbulkan absurditas.

Dalam bukunya Mite Sisifus, Albert Camus memandang absurditas disebabkan oleh pertentangan beberapa hal. Salah satunya disebabkan oleh nalar yang tidak dapat mengkonstruksi hal-hal tersebut menjadi satu pemahaman yang logis.

Absurditas lahir karena akal terus melakukan rasionalisasi terhadap fenomena yang terjadi pada manusia. Seringkali, manusia mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya, Contohnya ketika Freddie mengalami dilema setelah membunuh seorang pria.

Norma membunuh yang dianut masyarakat dan eksistensialis Freddie Mercury menyebabkan pertentangan dan menciptakan absurditas kehidupan. Menurut Camus, absurditas tidak akan tercipta jika salah satu komponen itu tidak ada. Namun, absurditas bersifat abadi selagi manusia terus membenturkan nilai-nilai individu dengan norma-norma yang dianut masyarakat.

Seorang buruh pabrik kembali mengisap rokok tetapi dengan pikiran yang penuh dengan kepercayaan, setelah menjadi inisiator gerakan mogok kerja di pabriknya. Puluhan halaman karya Karl Marx dibaca sehingga menjadi inspirasi baginya untuk menciptakan kesetaraan hak antar sesama manusia dan masyarakat tanpa kelas.

Beberapa saat, ia menyadari untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas perlu adanya pertumpahan darah. Apa yang dipikirkannya tentang masyarakat baru yang lebih adil ternyata hanyalah sebuah khayalan.

Meskipun masyarakat di tempat tinggalnya merupakan masyarakat yang memiliki kompetensi yang rendah sehingga sukar memahami masalah sosial.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak melakukan apapun dan kembali ke pabrik untuk bekerja. Ia berpikir, bahwa tidak ada yang harus dilakukan lagi selain menjalani hidup tanpa mengetahui apa makna sesungguhnya.

Penulis: Moehammad Alfarizy

Editor: Khasan Sumarhadi

Harmoni Cinta dalam Pendidikan
Dualisme Keinginan Hidup Normal
Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Seberkas Cahaya Cinta Isyraqi
Bahaya Flexing di Media Sosial
TAGGED:absurditas kehidupanalegori kehidupanbohemian rhapsodyetika dan moralitas kehidupanmakna bohemian rhapsodyMakna kehidupan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Nurla, Wisudawan Terbaik FITK, Wisuda UIN Walisongo, Wisuda 2025, Rintangan Kuliah
SosokUIN WalisongoWisuda

Hadapi Rintangan Sejak Awal Kuliah Tidak Halangi Nurla Raih Wisudawan Terbaik FITK

Dwi Khoiriyatun
25 Mei 2025
Teliti Karakter Zain dalam Film Capernaum, Eky Adelia Sari Jadi Wisudawan Terbaik FTIK
KKN UIN Walisongo dan Universitas Ngudi Waluyo Meriahkan Acara HUT RI Desa Rejosari
Penyair Liar
Dari Muna Untuk Kedua Orang Tua
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Alegori Kehidupan yang Absurd
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Alegori Kehidupan yang Absurd
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?