
Amanat.id- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menerapkan larangan berjualan di area sekitar Kampus 3 pada pelaksanaan Wisuda ke-100 lalu, Sabtu (23/5/2026).
Kepala Badan Pengembangan Usaha (BPU) UIN Walisongo, Sahidin Damar menjelaskan kebijakan tersebut merupakan kesepakatan hasil rapat panitia wisuda.
“Larangan tersebut adalah hasil rapat dan sudah berjalan dua kali ini, namun dikoordinasikan oleh BPU,” katanya saat diwawancarai Tim Amanat.id secara langsung, Senin (25/5).
Sahidin mengatakan pada awalnya himbauan tersebut muncul karena ketidaksanggupan untuk mengatur para pedagang.
“Memang pada awalnya kami kesulitan menertibkan, dari BPU tidak menyanggupi. apalagi ada pedagang-pedagang liar. Meski ada lembaga yang mengatur di lapangan, keputusan panitia seperti itu, kami tidak bisa menolak,” titahnya.
Menurutnya, dengan tidak diperbolehkannya berjualan di sekitar lokasi acara wisuda, BPU merasa mengalami kerugian.
“Kalau dari BPU merasa rugi, justru karena disitu banyak kerumunan sehingga potensi bisnis pasti ada,” ujarnya.
Meski begitu, ke depannya Sahidin ingin agar tetap bisa berkolaborasi dengan pedagang dari luar.
“Kedepannya, BPU tetap ingin membuka peluang bagi penjual-penjual dari luar,” tuturnya.
Sahidin berencana jika depannya UIN Walisongo menyediakan tempat bagi para pedagang.
“Saya pikir sudah saatnya UIN menyediakan venue yang memang nyaman, apalagi kalau ditata dengan bagus dan indah. Namun, untuk yang kemarin dan sebelumnya, saya memang punya kesan kumuh dan menghasilkan sampah yang luar biasa,” jelasnya.
Meski imbauan larangan telah disampaikan melalui akun Instagram @uinwalisongosemarang dan petugas keamanan berusaha mencegah pedagang masuk dari gerbang depan Kampus 3, sejumlah pedagang tetap nekat berjualan.
“Banyak yang nyolong-nyolong masuk. Ada yang lompat, ada juga yang lewat pintu-pintu perumahan,” kata Sulkhan, salah satu satpam UIN Walisongo.
Ia menilai keberadaan pedagang di sepanjang jalan Kampus 3 cukup mengganggu kondusivitas lalu lintas dan membuat area kampus terlihat kurang rapi.
“Menurut saya cukup mengganggu. Selain terlihat tidak rapi, juga menghambat kendaraan yang keluar masuk,” terangnya.
Bagi Sulkhan, solusi yang ia lakukan dengan meghimbau pedagang untuk mencari lokasi lain yang diperbolehkan untuk berjualan.
“Solusinya ya coba cari tempat lain yang memang boleh digunakan untuk jualan,” ujarnya.
Sementara itu, Edu sebagai salah satu penjual buket bunga segar mengaku sudah datang sejak pagi meski baru membuka lapak saat prosesi wisuda hampir selesai.
“Yang penting berangkat dari rumah niat buat cari rezeki. Memang aturannya nggak boleh, ya memang kita maksa-maksa juga ya. Cuma tadi jualannya pas menit-menit terakhir,” katanya.
Edu mengaku lokasi tempatnya berjualan dinilai tidak mengganggu jalannya acara maupun lalu lintas.
“Imbasnya jadi kena semua. Padahal pedagang yang benar-benar mengganggu itu yang di depan auditorium atau depan perpustakaan,” jelasnya.
Edu yang juga bercerita pada tahun-tahun sebelumnya pihak UIN Walisongo sempat menyediakan stand khusus bagi pedagang.
“Dulu dikelola Badan Pengembangan Bisnis, jadi dibuatkan stand untuk pedagang. Tapi yang ikut resmi juga kena imbas dari pedagang liar yang tidak tertib,” terangnya.
Hal serupa disampaikan Tri Hastuti, penjual es teh yang biasa berpindah dari satu acara ke acara lain. Ia mengaku merasa dirugikan oleh kebijakan tersebut.
“Bagi kami yang biasa cari nafkah dari acara seperti wisuda tentu merasa dirugikan, apalagi ada anak dan saudara kami juga yang kuliah di UIN,” ujarnya.
Menurutnya, pendapatan yang diperoleh kali ini menurun drastis dibanding wisuda sebelumnya karena baru bisa mulai berjualan menjelang siang.
“Kalau jualan dari pagi biasanya pendapatan bersih bisa sampai 700 ribu. Tapi sekarang karena baru mulai siang, paling sekitar 300 ribuan,” keluhnya.
Karin (bukan nama sebenarnya), pedagang sosis biasa berjualan saat wisuda, juga mengaku keberatan dengan aturan tersebut.
“Saya merasa keberatan karena memang sering jualan di sini. Akhir-akhir ini lebih ketat, nggak boleh masuk dan nggak boleh jualan,” tuturnya.
Ia mengaku sempat dilarang masuk sebelum akhirnya diperbolehkan berjualan setelah acara selesai.
“Saya sampai sini sekitar jam setengah dua belas. Bukanya siang karena tadi sempat diusir dan nggak boleh jualan. Akhirnya baru bisa masuk setelah acara selesai,” katanya.
Ia berharap pihak kampus tetap memberikan ruang bagi pedagang untuk berjualan, meski harus dikenai biaya kebersihan.
“Kalau dimintai uang kebersihan nggak apa-apa, yang penting bisa jualan normal seperti dulu lagi,” ujarnya.
Ia juga mengeluhkan pendapatan yang diperoleh kali ini jauh menurun dibanding biasanya.
“Biasanya bisa dapat lebih dari 500 ribu, sekarang belum sampai segitu,” tutupnya.
Reporter: Irbah Fatin


