
Tiga tahun lalu, atau tepatnya 7 Oktober 2023 babak baru dalam eskalasi konflik di Timur Tengah terjadi. Operasi militer bertajuk Thufan Al-Aqsa atau badai Al Aqsa diluncurkan sebagai respon atas pembatasan yang berkepanjangan di Gaza. Menandai eskalasi konflik terbuka semenjak Perang Yom Kippur 1973.
Kisah Rajab, seorang gadis kecil yang meminta pertolongan dari mobil yang disergap berondongan peluru. Anas al-Sharif, seorang jurnalis yang tewas menjadi korban saat melakukan peliputan. Kisah tersebut hanya dua dari 74.254 warga Palestina yang tewas selama konflik berkepanjangan di Gaza.
Lumpuhnya hukum internasional di bawah kendali forum Dewan Keamanan PBB memperlihatkan forum perdamaian yang tersandera atas regulasinya sendiri. Gagasan yang menuntut perdamaian universal telah runtuh ketika berhadapan pada struktur kelembagaan. Suara dari negara pemegang hak veto dapat mengubah resolusi kemanusiaan yang mendesak untuk segera dilaksanakan.
Harapan gencatan senjata seringkali gagal akibat hak veto yang selalu dikeluarkan oleh Amerika Serikat (AS). Secara keseluruhan, AS berulang kali menggunakan hak veto atau menolak draf resolusi yang menuntut penghentian perang tanpa syarat di Gaza. Dampaknya, Dewan Keamanan PBB tidak dapat memaksa penghentian operasi militer yang terjadi.
Ketidakberdayaan semakin terlihat ketika Mahkamah Internasional (ICJ) yang kehilangan taringnya setelah putusan penghentian perang dilanggar. Operasi militer berskala besar terjadi di Rafah pada Mei 2024 dengan menerobos batasan yang telah ditentukan oleh ICJ. Rafah yang semasa konflik menjadi wilayah yang menampung lebih dari 1,4 juta jiwa yang mengungsi berubah menjadi medan serangan.
Penutupan total akses distribusi bantuan makanan dan medis memicu kelaparan parah di kamp kamp para pengungsi. Semakin menyayat hati ketika pada akhir 2024 dalam peristiwa yang dikenal dengan tragedi Tel Al Sultan. Serangan udara menghantam kamp kamp pengungsi, dimana dalam kesepakatan sebelumnya telah dinyatakan sebagai zona aman. Meluluhlantakkan Rafah dalam kengerian dan memaksa korban selamat yang lebih dari 1 juta jiwa untuk berpindah mencari tempat yang lebih aman di pesisir Al-Mawashi.
Dunia internasional mendesak untuk penderitaan yang terus berlarut larut. Tagar “All Eye On Rafah” bergema di media sosial, jutaan orang membagikan dan menaruh simpati terhadap korban. PBB melalui Dewan Keamanan bertindak dengan menyepakati Resolusi 2735 yang mengadopsi proposal gencatan senjata.
Kesepakatan sempat goyah ketika eskalasi konflik meluas ke front regional. Iran dan pasukan Hizbullah terlibat setelah pemimpin mereka menjadi korban atas serangan Israel. Pergeseran konstelasi politik serta militer tersebut, digunakan sebagai awal pembuka tawaran untuk menekan kembali opsi meja perundingan. Hingga pada 10 Oktober 2025 kompromi untuk gencatan senjata dapat kembali dicapai.
Belum Akhir Penderitaan
Setahun setelahnya, nyatanya serangan masih terus terjadi. Komunitas Islamic Relief menyatakan setiap 90 menit dapat ditemukan warga Palestina yang mengalami luka atau tewas akibat serangan. Selama tahun 2026, setidaknya terdapat 5.000 orang terluka dan 1.454 meregang nyawa.
Gencatan senjata memang menghentikan pengeboman, tetapi pasukan Israel masih melakukan serangan di setiap harinya. Mereka beralasan serangan tersebut bertujuan menyasar pasukan Hamas. Namun yang terjadi di lapangan berbanding terbalik. Korban yang berjatuhan adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak kecil.
Bagi mereka yang masih bertahan hidup, gencatan senjata dan berakhirnya pertempuran belum benar benar mengembalikan kehidupan damai. Mereka harus masih bertahan dalam tenda tenda di daerah pesisir pantai. Bekas lahan pertanian berubah menjadi kamp pengungsian yang dipadati tenda tenda.
Hujan serangan udara yang berlangsung lama telah meratakan kehidupan dan tempat hidup masyarakat Palestina. Kota-kota besar kini sudah tinggal reruntuhan yang rata dengan tanah. PBB memperkirakan 83% dari semua bangunan dan pemukiman di Kota Gaza telah hancur. Menyebabkan banyak orang kehilangan hunian yang layak.
Hampir seluruh rumah sakit dan klinik kesehatan tidak dapat beroperasi. Begitu Pula bangunan pendidikan, menurut laporan dari UNICEF, 98% ruang sekolah telah hancur dan 93% perlu adanya rekonstruksi total.
Rekonstruksi hunian yang dijanjikan melalui kesepakatan belum juga dapat terealisasikan. Pasukan Israel masih melarang bahan bangunan yang akan masuk ke Gaza.
Bertahan dalam tenda pengungsian juga tidak mudah. Semua akses keperluan sehari hari terbatas. Bantuan kemanusiaan masih belum dapat terdistribusi dengan baik. Padahal, dari bantuan internasional tersebut mereka selama ini bertahan.
Laporan dari PBB yang dirilis pada 24 september 2026, sekitar 92% ekonomi hancur sejak Oktober 2023. Konflik berkepanjangan tersebut telah menghancurkan ribuan usaha dan menghilangkan lapangan pekerjaan. Terdapat kurang lebih 78% orang di Gaza yang menganggur dan 90% anak muda yang tidak memiliki pekerjaan. Lahan produksi yang masih dapat dimanfaatkan dan tidak berkisar kurang dari 1,5%.
Penulis: Hikam

