By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ambivert; Kepribadian atau Tuntutan?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Ilustrasi kepribadian ambivert
Ilustrasi kepribadian ambivert. (Sumber: Pixabay)
ArtikelOpini

Ambivert; Kepribadian atau Tuntutan?

Last updated: 4 Juli 2022 7:36 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 4 Juli 2022
Share
SHARE
Ilustrasi kepribadian ambivert
Ilustrasi kepribadian ambivert. (Sumber: Pixabay)

Merasa mampu menghadapi segala situasi baik saat sendiri maupun dalam keramaian merupakan hal yang melelahkan. Menjadi serba bisa tidak ada salahnya, tetapi hal itu menjadi kurang baik jika disertai tuntutan. Tanpa disadari, kita dituntut dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat berinteraksi dan sosialisasi antar sesama.

Seseorang yang dapat merasa nyaman dalam situasi sendiri maupun keramaian bisa disebut ambivert. Pada jurnal Psychological Science di laman akupintar.id, kepribadian ambivert yakni jika seorang lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, tetapi ia memiliki cara pandangnya sendiri. Selain itu, ia mampu menempatkan dirinya dalam situasi apapun.

Seperti yang kita tahu bahwa manusia diciptakan untuk saling membutuhkan. Ada kalanya kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan sendiri, tetapi tak jarang juga kita membutuhkan bantuan dari orang lain untuk menyelesaikannya. Semua harus berjalan selaras sesuai dengan kaidahnya.

Namun, bagaimana dengan manusia yang percaya tentang adanya kepribadian introver dan ekstrover?

Dilansir dari popbela.com, psikolog Carl Jung mengartikan introver ialah mereka yang cenderung mencari ketenangan dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan ekstrover ialah mereka yang tidak menyukai kesendirian.

Jika kita sepakat dan berjalan sesuai dengan pernyataan Jung, seakan-akan manusia memiliki dua kepribadian yang tidak bisa menyatu. Mereka hanya mampu menghadapi situasi sendiri atau sebaliknya, yakni ramai saja. Padahal, kita tidak bisa memberatkan salah satunya jika ingin hidup di lingkungan sosial.

Menurut Jung, ada sebesar 38% populasi ambivert di dunia, sedangkan sisanya introver dan ekstrover. Hal tersebut menunjukan ada sepertiga manusia di bumi yang memiliki kepribadian ambivert.

Jika kita artikan, manusia yang meyakini diri mereka hanya memiliki sifat ekstrover atau introver saja secara tidak langsung sudah membuat batasan atas diri mereka. Hal tersebut akan menyulitkan mereka sendiri sebab tuntutan sosial itu pasti adanya. Tuntutan sosial itu seperti sikap kita dalam menghadapi situasi ketika sendiri atau saat berada di lingkungan sosial.

Kepribadian ambivert seolah-olah menjadi tuntutan setiap insan. Namun, bisa jadi merupakan kepribadian yang memang sudah dimiliki seseorang. Ia yang memiliki kepribadian ambivert akan lebih mampu mengondisikan kehidupan. Sebab memiliki kepribadian ambivert sangat diperlukan dalam menjalani hidup sebagai makhluk sosial.

Penulis: Aida Saskia Cahyani

Berbagi Informasi Dengan Bijak Melalui Media Sosial
Mengenal Letkol Untung, Sosok yang Disebut Dalang Pemberontakan G30S/PKI
Wacana Living Books di Tengah Nomophobia
Mencari Kebenaran dalam Bongkahan Mitologi
Baikkah Spotlight Effect Melekat pada Diri Kita?
TAGGED:AmbivertArtikel psikologiPsikologi manusiaTipe Kepribadian
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Dua Mahasiswa FSH Diskors Satu Semester, Ada Apa?

Fajar Bahruddin Achmad
9 Maret 2017
Membunuh Masyarakat dengan Hoaks Corona
Mencari Kebenaran Agama di Media
Tabloid SKM Amanat Edisi 95 Tahun 2003
Peka Terhadap Sekitar, Wisudawan Terbaik FDK Usung Isu Masyarakat Marjinal
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ambivert; Kepribadian atau Tuntutan?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ambivert; Kepribadian atau Tuntutan?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?