
Amanat.id- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM-U) Teater Mimbar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo kembali menggelar Pentas Produksi ke-12 yang bertempat di Auditorium I Kampus 1, Rabu (3/9/2025).
Dalam pentasnya, Teater Mimbar mengangkat judul “Semar Mencari Raga” karya Ikun Sri Kuncoro yang menjadi salah satu pemenang kategori “Naskah Potensial” dalam acara Rawayan Awards Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2022 silam.
Pimpinan Produksi Pentas, Taufik Hidayat menjelaskan alasannya memilih naskah tersebut karena terdapat pesan cerita yang sesuai dengan kondisi negara dari zaman orba hingga sekarang.
“Karena pesan dalam cerita yang sangat relate sama kondisi negara ini, dari zaman orba hingga sekarang pola dari pemerintahan selalu sama ketika yang menyuarakan kebenaran akan selalu hilang, entah hilang orangnya atau hilang suara-suara kebenarannya,” jelasnya.
Taufik mengatakan butuh sekitar empat bulan untuk mempersiapkan pementasan.
“Persiapan kami untuk mengadakan pentas produksi kurang lebih sekitar 4 bulan,” katanya.
Saat semangat dalam tiap anggota berkurang, lanjutnya, menjadi kendala dalam proses latihan pementasan.
“Kendala yang sering terjadi pada proses latihan ini ketika api semangat anggota agak redup, kami semua harus saling menjaga agar tidak padam, karena jika sudah padam nyalainnya susah,” sambungnya.
Salah satu penonton Pentas Produksi, Muhammad Mu’tasim Billah mengatakan alasan menonton pementasan karena dirinya berasal dari daerah yang mengagungkan nilai kebudayaan.
“Berangkat dari daerah saya sendiri yang mengagungkan nilai-nilai kebudayaan. Terutama ketoprak, ludruk, ataupun jika di komunitas kawan-kawan gerakan yang ada di daerah saya juga sering mengadakan pementasan jikalau waktu liburan,” tuturnya.
Usai pementasan, Tasim menangkap beberapa pesan dari pementasan dan mengkomparasikan seorang mahasiswa yang kehilangan jati dirinya saat berproses.
“Terkadang seorang mahasiswa sering kehilangan jati dirinya ketika berproses, mungkin efek dari pergaulan, juga dampak globalisasi,” titahnya.
Selain itu, Tasim juga menjelaskan pesan dari pementasan tersebut berkaitan dengan fenomena politik saat ini.
“Dikorelasikan dengan geopolitik negara hari ini yang terkesan abai, kesenjangan melihat sudut pandang rakyat yang sangat tidak diperlihatkan, serta tokoh Semar yang merupakan seorang teladan. Hari ini kita melihat sosok Semar dari sudut pandang yang mana,” sambungnya.
Sejak dulu, sambungnya, kesenian adalah alat kritik negara dan bentuk ekspresi.
“Kesenian dari dulu menjadi alat bagaimana kita mengkritik negara, melihat situasi yang ada di negara, dan sebagai bentuk ekspresi,” ujarnya.
Ia mengaku menyukai jargon yang dikemukakan oleh Lurah Teater Mimbar saat sambutan.
“Saya suka kata-kata Mas Ucok waktu sambutan, hidup kesenian yang melawan,” akunya.
Dirinya juga memberikan pesan kepada anggota Teater Mimbar agar tetap menjaga soliditas.
“Pesan dan tantangan kedepannya terkait kelembagaan di lingkup teater juga panjang, mohon jaga soliditas tetap berkreasi tetap berimprovisasi di era sekarang,” sambungnya.
Pengunjung lain, Lula mengatakan alasan menonton pentas karena bentuk dukungan dan tradisi sesama anak teater.
“Karena sama-sama anak teater, saling support. Jika ada pentas udah jadi tradisi,” katanya.
Selain itu, sambung Lula, tajuk pementasan yang mengangkat pewayangan membuatnya penasaran untuk ikut menonton.
“Judulnya menarik dan mengangkat pewayangan. sebelumnya belum pernah nonton soal wayang jadi ingin cari tahu,” terangnya.
Dirinya memberikan apresiasi kepada Teater Mimbar atas pementasannya.
“Terima kasih telah menyuguhkan penampilan yang sangat memanjakan mata kita, dimulai dari lighting, sound, aktor, akting, propertinya,” paparnya.
Anang Maulana juga menonton pementasan sebagai bentuk dukungan untuk teman-teman yang menjadi talent.
“Tertarik karena teman yang tampil, acaranya juga menarik, worth it untuk ditonton,” katanya.
Anang tidak menyangka jika kualitas suara dalang sangat bagus, hal itu menjadi nilai positif pementasan kali ini.
“Jujur agak kaget dan tidak nyangka kalo ternyata dalangnya bagus suaranya hal itu jadi nilai positif dari pementasan malam ini. Menurut saya pementasan yang ditampilkan ngga setengah-setengah,” ucapnya.
Ia berpesan untuk Teater Mimbar agar mengadakan pementasan setahun sekali dan bisa berkolaborasi dengan komunitas teater lain.
“Perbanyak lagi acara seperti ini, mungkin setahun sekali harus ada. Kalo bisa kolaborasi sama teater lain,” tutupnya.
Reporter : Lutfi Ardiansyah
Editor: Azkiya Salsa Afiana


