
Ia berdiri di sudut ruang sunyi,
Menggenggam harapan yang patah
Tubuhnya memberi bahasa
Tanpa kata dan tanya…
Ada bekas goresan dikulitnya,
Tebal dan menganga,
Setiap sentuhan adalah tanda
Dokumen luka yang melara.
Ingatan masa lalu menghantui
Merekam lebih banyak sentuhan perih
Dengan atma yang hampir mati,
Bersama jeritan dan tangis dalam alunan sunyi..
Lengkara menyergap lara,
Terbangun dalam ingatan buta
Tak ku temukan serpihan cahaya,
Karena hanya ada duka dibalik kata murka…
Ini hanyalah sepenggal kisah
Penuh lara tanpa tawa
Aksa yang semakin hirap
Dalam alunan asmara tanpa rasa.
Semarang, 27 Januari 2026
Isna Khoirul Nikmah (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)


