
Tren “silent walking” atau berjalan dalam kesunyian, sempat ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok. Tren ini bermula dari sebuah akun bernama Mady Maio yang membagikan pengalamannya melakukan silent walking.
Mady mengatakan bahwa semua bermula dari ahli gizinya yang memberikan saran agar mulai berjalan selama 30 menit sehari daripada melakukan kardio gila-gilaan seperti yang ia lakukan dulu. Kemudian pacarnya juga memberikan saran pada Mady untuk tidak mendengarkan podcast, musik, atau hal lainnya saat berjalan.
Awalnya ia menolak hal tersebut, tetapi akhirnya ia tetap mencobanya. Menurutnya, 2 menit pertama ia mengalami kekacauan yang sangat besar dalam dirinya. Anxiety-nya muncul. Namun, di menit selanjutnya justru ia merasa semuanya tenang. Ia bisa mendengar dirinya sendiri, yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Setelah 30 menit berjalan dengan kesunyian, ia merasa kabut dalam otaknya terangkat, ia bisa mendapat ide-ide yang sebelumnya tidak pernah didapatkan. Menurutnya, saat berjalan dengan mendengarkan podcast, musik, atau semacamnya, justru akan menghambat ide-ide masuk ke dalam otak.
Meskipun Mady Maio ini menjadi tonggak munculnya tren silent walking, sebenarnya konsep berjalan dalam kesunyian ini bukanlah hal baru. Penulis buku mindfulness “Vibrate Higher Daily” menyebutkan bahwa Biksu Zen telah lama berlatih silent walking. Namun dengan sebutan yang berbeda yaitu walking meditation.
Praktik Buddhisme ini pada intinya merupakan sebuah praktik yang bisa mengubah olahraga menjadi sesi meditasi pribadi.
Menurut Psikolog Klinis di New Rochelle, Juanita Guerra, silent walking adalah cara termudah untuk memutuskan hubungan dari semua kebisingan dan kekacauan yang merupakan bagian dari kesibukan dunia.
Silent walking adalah sebuah cara yang sangat baik untuk terhubung dengan inti diri kita. Sejalan dengan pernyataan tersebut, seorang Dokter dari Kedokteran Integrative bernama Suzanne Hackenmiller mengatakan bahwa aktivitas silent walking menjadi sangat populer karena lebih banyak orang mencoba untuk terhubung kembali dengan diri mereka sendiri.
Seorang professor dari Keck School of Medicine of University of Southern California, Rael Chan menjelaskan bahwa silent walking bekerja dengan mengeluarkan otak dari jaringan mode default. Istilah ini merujuk pada kemampuan otak untuk membayangkan masa depan, merenungkan pengalaman masa lalu atau, berkhayal.
Jaringan mode default otak ini tidak memungkinkan untuk seseorang sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi saat ini atau lingkungan mereka saat ini. Silent walking dapat membantu menghentikan otak dari aktivitas dan membuatnya hanya berbicara pada diri kita sendiri.
Menurut Chan, penelitian menunjukkan bahwa berjalan di malam hari dengan penuh kesadaran dapat memperbaiki gejala kecemasan dan depresi. Sama halnya dengan silent walking, meluangkan waktu untuk fokus pada momen tertentu juga dapat menurunkan tekanan darah atau meningkatkan kualitas tidur.
Chan juga menyebutkan bahwa olahraga adalah salah satu cara mudah bagi orang untuk keluar dari pikiran mereka, dan menyadari indranya sebagai gantinya. Praktik silent walking membuat kita lebih mudah untuk menikmati momen saat ini dan menerapkan mindfulness. Manfaatnya pun sangat besar ketika seseorang benar-benar memperhatikan yang dialaminya.
Intania Nurul


