By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Refleksi Hari Nyepi: Bagaimana “Me-Nyepi” Mempengaruhi Kesehatan Jiwa?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Refleksi Hari Nyepi: Bagaimana “Me-Nyepi” Mempengaruhi Kesehatan Jiwa?

Last updated: 7 Maret 2019 2:32 pm
Iin Endang Wariningsih
Published: 7 Maret 2019
Share
SHARE
Ritual hari raya nyepi (www.kabartoraja.com)

Tahun baru Saka menjadi awal kehidupan baru, yang perlu ditata lebih baik dari tahun sebelumnya bagi pemeluk agama Hindu. Mereka menyakini bahwa dengan menenangkan diri melalui Nyepi akan mendatangkan berbagai manfaat. Rangkaian upacara Nyepi bagi umat Hindu memiliki makna masing-masing.

Mulai pra Nyepi, tiga atau dua hari sebelum Hari Raya Nyepi umat Hindu akan melakukan penyucian diri dengan upacara Melasti. Upacara ini berupa mandi atau membersihkan diri di sumber air yang dekat dengan pura atau tempat yang dianggap suci. Pada intinya Nyepi terdiri dari empat pantangan atau larangan yang disebut catur brata penyepian, yaitu amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api atau cahaya), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak berkegiatan).

Saat melaksanakan empat pantangan ini umat Hindu akan merefleksikan dirinya selama satu tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Segala aktifitas selama 24 jam itu dicurahkan untuk memperbaiki dan menyiapkan diri di tahun yang baru.

Prinsip Nyepi juga dilaksanakan dalam ajaran Islam. Hal ini termuat dalam kewajiban salat lima waktu. Saat melaksanakan salat seseorang secara khusyuk akan berusaha meninggalkan perihal dunia. Kemudian dilanjutkan dengan berdzikir atau mengingat Allah. Pada akhir rangkaian salat dan dzikir biasanya diakhiri dengan memanjatkan do’a.

Salat menjadi sebuah jeda agar kita tidak terpaut secara 24 jam penuh dengan kehidupan dunia. Melainkan ada jeda untuk mengingat Tuhan pencipta manusia. Mengingat tujuan kita diciptakan di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada Nya. Jeda dalam memikirkan perkara dunia akan memberikan rasa tenang.

Setiap individu membutuhkan waktu sendiri. Hal ini berkaitan dengan ketenangan diri. Dilansir dari bbc.com menyendiri terkadang diperlukan seseorang agar bisa lebih introspektif, sadar diri dan sepenuhnya santai. Hiruk pikuk dan lingkaran kegiatan sehari-hari harus memiliki jeda. Hal ini yang akan memberikan ruang istirahat bagi otak dan emosi.

Salah satu unsur “me-nyepi” yang patut kita gunakan adalah unsur refleksi diri. Semua orang perlu merefleksikan diri. Hal ini bertujuan agar kita mampu mengenali diri kita, apa yang kita butuhkan, dan apa yang perlu kita perbaiki dalam kehidupan. Refleksi diri akan membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup.

Hasil penelitian Gregory Feist dari Clifornia San Jose State University mengungkapkan bahwa ada bahaya tersendiri bagi orang-orang yang tidak pernah sendirian. Diantaranya orang itu akan sulit untuk mawas diri, tingkat kesadarannya kurang, susah mengenali jati diri dan sering terlalu santai dalam menyelesaikan daadline pekerjaan. Hal inilah yang akan berdampak pada manajemen emosi seseorang.

Orang yang dapat menyediakan waktu untuk menyendiri akan lebih mudah menggapai kesuksesan. Sebab mereka lebih mengenali diri sendiri, tujuan hidup, hingga hal-hal kecil yang diinginkan agar hidupnya bahagia. Selanjutnya dari proses mengenali keinginan ini akan tersusun rencana untuk menggapai apa yang diinginkan.

Apabila dalam konteks penyelesaian masalah, jeda untuk berfikir akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Sebab dalam keadaan tenang seseorang akan lebih bisa melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Sehingga emosi sesaat tidak akan tersulut dan melebar ke persoalan yang lain.

Kita perlu sedikit mengambil langkah mundur dan sedikit menjauh. Perlu ada ruang sendiri sebelum kita akan memutuskan sesuatu yang nantinya akan berdampak pada orang disekitar atau masa depan. Sudahkah kita meluangkan waktu untuk merefleksikan diri dan mendekatkan diri pada Tuhan?

Penulis: Iin Endang Wariningsih

 

Dunia Me Generation; Sebuah Perayaan Atas Budaya Narsisisme
3 Tips Kendalikan Quarter Life Crisis
Menguak Rahasia CME Saat Gerhana Matahari Total
Menyoal Ketidaksiapan Wisuda Sistem Kuota
Mengembalikan Fungsi Teknologi
TAGGED:hari raya nyepirefleksi hari nyepitahun baru saka
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Menyelami Sejarah, Pameran Koran Langka, Pers dalam Lorong Waktu, Koran Semarang, Sejarah Koran Semarang
Features

Perjalanan Waktu Menyelami Sejarah

Earnest Sherin
30 Desember 2024
Terlambat Datang Visit UKM, Beberapa Ketua UKM-U Jemput Maba FSH ke Fakultas
Nizar Ali Sambut Maba UIN Walisongo, Tekankan Pentingnya Adaptasi di Lingkungan Kuliah
UIN Walisongo Konsisten Raih Penghargaan Badan Publik Informatif 4 Kali Berturut-turut
Abraham Samad: Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan dalam Pemberantasan Korupsi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Refleksi Hari Nyepi: Bagaimana “Me-Nyepi” Mempengaruhi Kesehatan Jiwa?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Refleksi Hari Nyepi: Bagaimana “Me-Nyepi” Mempengaruhi Kesehatan Jiwa?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?