
Amanat.id- Raut bahagia tampak terlihat dari wajah Merly Serla Marlena, seorang mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) yang berhasil meraih gelar wisudawan terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) pada wisuda ke-98 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Gedung Prof. TGK. Ismail Yakub Kampus 3, Sabtu (1/11/2025).
Awalnya Merly coba-coba memilih jurusan PMI dan tidak pernah meyangka akan mendapatkan gelar wisudawan terbaik FDK. Bahkan ia sempat berpikir jika temannya yang akan mendapat predikat wisudawan terbaik tersebut.
“Sangka tidak sangka sih dapat predikat ini, aku pikir teman ku yang dapet soalnya dia aktif organisasi, di kelas juga banyak tanya dan berpendapat,” tuturnya.
Meski tidak terpikirkan untuk menyandang predikat wisudawan terbaik FDK, Merly memang selalu memaksimalkan nilai mata kuliahnya selama kuliah.
“Aku tidak pernah mengejar buat jadi terbaik sih, tapi di mata kuliah yang ada potensi, di situ aku maksimalkan banget kalo bisa ‘A/B+’,” katanya.
Menurutnya tujuan kuliah adalah belajar lebih dalam, bukan hanya bersaing demi prestasi.
“Lagian kuliah memang tujuannya buat belajar, kalau sampai jadi yang terbaik berarti itu bonus,” jelasnya.
Selain itu, Merly juga memaksimalkan skripsinya dengan tidak mencampurkan dengan kegiatan lain.
“Aku pernah kerja, jualan di konser gitu. Tapi waktu mahasiswa akhir jadi berhenti, soalnya skripsi itu tidak bisa dibagi-bagi, kalau kerja terus capek malahan skripsinya tidak selesai-selesai,” katanya.
Dengan mindset tersebut, ia berhasil menyelesaikan skripsinya dengan serius hanya dalam waktu dua minggu. Namun, Merly harus membayarnya dengan berhenti dari pekerjaan dan mulia fokus untuk skripsinya.
“Mengerjakan skripsi itu gampang ya menurutku, aku sendiri cuma butuh 2 minggu buat serius untuk menyelesaikan skripsi. Intinya jangan dicampur kegiatan apapun. Walaupun udah enak kerja dapat uang aku tetap mutusin tidak kerja, karena aku yakin setelah skripsi selesai kalau buat kerjaan pasti ada jalannya,” terangnya.
Skripsi yang berjudul “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pemuda Pandan Wangi Junior (PWJ) melalui Program Pasar Djadoel di Desa Wonokerto Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi,” diteliti oleh Merly dengan tujuan memperkenalkan program tersebut ke masyarakat luas.
“Kegiatan bernuansa tradisional ini menjadi wadah bagi warga untuk berdagang sekaligus melestarikan budaya lokal dan aku ingin program Pasar Djadoel lebih dikenal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan kesulitan dalam mengerjakan skripsinya, seperti mahasiswa lainnya, yaitu bingung dengan metode penelitiannya.
“Biasanya yang buat susah itu kalau pilih metode penelitian itu asal-asalan, tidak mengerti bagaimana mengaplikasikannya. Aku sendiri diajarkan keduanya setelah materi kemudian diberikan praktek nya sehingga paham,” jelasnya.
Merly sendiri berminat untuk menjadi kepala desa. Menurutnya menjadi kepala desa sesuai dengan renjananya, yaitu terjun ke masyarakat untuk memberdaya dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam setiap pembangunannya.
“Aku pengen jadi kepala desa sih, soalnya sesuai sama passion ku, memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai islam dalam pembangunannya,” ceritanya.
Namun, impiannya tersebut harus ditahan sementara karena untuk syarat untuk menjadi kepala desa harus adalah harus memiliki batas usia sesuai aturan.
“Tapi masih ada kendala, karena buat jadi kepala desa ada batas usia tertentu, jadi harus nunggu dulu,” paparnya.
Reporter: Kholifatim Muallimah
Editor: Irbah Fatin



