
Aku berdiri di tepi waktu
Ditemani ratapan pilu yang merenyai-renyai
Gejolak sendu mengungkung tiap hari
Risau yang tak bernama selalu menyapa
Layak laut dan ombaknya
Setiap detak terasa asing
Hembusan nafas semakin tak berirama.
Aku ingin beranjak dari belenggu ini
Menyeka segala lara tak bernama
Namun aku tak mengerti
Siapa pencipta risau
Dindingku terlalu lemah untuk menahan rasa gundah
Aku lelah menaruh harap
Pergulatan asing yang tiada habisnya
Alur yang kehilangan arahnya
Dan aku yang berdiri dengan tenangnya
Kota Atlas, 17 Agustus 2025
Luthfi Ardiansyah (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)


