
Amanat.id- Pelaksanaan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tak kunjung mendapat kepastian jadwal menimbulkan berbagai keluhan di kalangan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Rabu (16/9/2026).
Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II merupakan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa FTIK untuk memperoleh pengalaman langsung dalam praktik kependidikan di sekolah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa Tarbiyah sebelum terjun ke dunia pendidikan secara profesional.
Pada 27 Agustus 2026, tautan pendaftaran PLP II mulai beredar di kalangan mahasiswa. Dalam informasi tersebut tercantum bahwa pendaftaran dibuka pada 28 Agustus hingga 3 September 2026, dengan informasi pelaksanaan dijadwalkan pada 15 September hingga 30 Oktober 2026.
Namun, pada Kamis (10/9/2026), informasi mengenai perubahan jadwal mulai beredar di kalangan grup WhatsApp mahasiswa. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pelaksanaan PLP II mengalami perubahan jadwal karena Laboratorium Pendidikan (LabDik) belum siap, sementara mahasiswa diminta menunggu informasi lebih lanjut terkait jadwal pelaksanaan.
Perubahan tersebut kemudian menimbulkan keluhan di kalangan mahasiswa karena jadwal awal telah tercantum dalam informasi pendaftaran, sementara kepastian jadwal pengganti belum diinformasikan.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 7, Maurenza Nafidzul Haq Al-Ghiffari mengaku tidak ada informasi resmi dari birokrasi terkait kejelasan pelaksanaan PLP II.
“Saya mengetahui informasi perubahan jadwal PLP itu sekitar tiga hari sebelum jadwal yang pertama kali diumumkan, yaitu sekitar tanggal 12. Informasi tersebut juga bukan dari pihak fakultas, tetapi dari teman yang mendapatkan informasi dari teman mahasiswa yang dipercaya dari pihak fakultas,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan jadwal tersebut juga berpengaruh terhadap agenda akademik yang telah disusun, terutama penyelesaian proposal skripsi.
“Target saya di semester ini menyelesaikan tugas akhir. Sehingga rencananya saat pelaksanaan PLP bisa menyelesaikan proposal skripsi. Karena pelaksanaan PLP mundur, otomatis pengerjaan proposal saya juga ikut mundur,” tuturnya.
Ia menilai perubahan jadwal tersebut cukup berdampak karena mahasiswa semester 7 umumnya telah memiliki target akademik masing-masing. Selain penyelesaian proposal, perubahan jadwal juga dinilai dapat memengaruhi kegiatan mahasiswa setelah PLP.
“Lumayan berdampak besar karena saya sendiri punya ambisi untuk bisa lulus di semester 7. Karena kegiatan PLP ini mundur, secara tidak langsung memengaruhi kegiatan saya setelah PLP, terutama untuk tugas akhir dan penelitian,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi serupa turut dirasakan mahasiswa lain yang harus menyesuaikan kembali agenda dan waktu libur yang telah direncanakan.
“Sejujurnya teman-teman tarbiyah sangat menyayangkan dan kurang sepakat akan pengunduran jadwal PLP ini karena mahasiswa mempunyai rencana seperti timeline akademik dan waktu liburan bersama keluarga,” katanya.
Ia juga menyoroti penyebaran informasi mengenai perubahan jadwal PLP II yang dinilai belum berjalan secara optimal.
“Sekitar 80 persen informasi yang saya dapat itu datang terlebih dahulu dari mulut ke mulut, bukan dari surat resmi yang dikeluarkan dari prodi maupun fakultas. Jadi, fakultas perlu membenahi terkait penyebaran informasi yang lebih cepat dan aktual,” tuturnya.
Ia berharap pelaksanaan PLP berikutnya dapat direncanakan dengan lebih jelas mulai dari penjadwalan, mekanisme, hingga luaran yang harus dipenuhi mahasiswa.
“Menurut saya perlu ada pengoptimalan dan pemaksimalan, terutama terkait penjadwalan yang jelas, mekanisme yang runtut, dan juga apa saja luaran-luaran yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa selama PLP,” katanya.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) semester 7 lainnya, Auliya Syahda Al-Lathief mengatakan perubahan jadwal PLP juga membuatnya harus menyesuaikan kegiatan lain yang sebelumnya telah diatur.
“Saya mengajar les. Awalnya sudah mengatur jadwal les dan mencari pengganti, tetapi ternyata PLP masih diundur. Jadi, orang yang sudah diminta untuk menggantikan les juga ikut bingung karena harus menyesuaikan kembali jadwalnya,” tuturnya.
Ia mengatakan perubahan jadwal PLP II cukup berdampak bagi mahasiswa karena banyak yang telah menyusun agenda dan mengatur waktu berdasarkan jadwal pelaksanaan sebelumnya.
“Menurut saya, dampaknya cukup besar karena banyak dari kami yang merasa kecewa dengan perubahan waktu PLP yang mendadak ini,” katanya.
Auliya menuturkan, pihak jurusan baru menyampaikan bahwa PLP II mengalami perubahan jadwal tanpa memberikan tanggal pelaksanaan yang pasti. Sementara beberapa informasi mengenai tanggal justru beredar melalui grup WhatsApp.
“Sejauh ini informasi dari jurusan hanya mengatakan bahwa PLP mundur, tetapi belum ada kepastian tanggal. Ada beberapa rumor yang mengatakan tanggal tertentu di beberapa grup,” katanya.
Adapun mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) semester 7 lainnya, Mohammad Hirzi An-naeda menuturkan ketidakjelasan jadwal PLP II membuat mahasiswa kesulitan menentukan persiapan.
“Kalau jadwal diundur sebenarnya ada baiknya juga karena mahasiswa memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan. Namun, kalau timeline-nya kurang jelas seperti ini, kami menjadi bingung harus mulai mempersiapkan dari mana,” katanya.
Ia juga menyoroti belum adanya kepastian mengenai pembagian kelompok dan jadwal pelaksanaan PLP II. Informasi yang diterima mahasiswa menurut Hirzi, masih berkaitan dengan kesiapan Laboratorium Pendidikan (LabDik).
“Teman-teman di prodi saya juga menanyakan jadwal di grup, tetapi ketika menanyakan kepada Kepala Jurusan, pertanyaan tersebut diarahkan kembali ke lab. Seolah-olah persoalan ini masih menggantung karena tanggal pelaksanaan dan pembagian kelompoknya belum diketahui,” tuturnya.
Selain persiapan PLP, ketidakjelasan jadwal turut memengaruhi rencana setelah KKN. Seperti mahasiswa yang merantau menjadi ragu untuk pulang karena sebelumnya mendapat informasi bahwa PLP akan dilaksanakan pada 15 September 2026.
“Waktu itu ada informasi bahwa PLP akan dilaksanakan tanggal 15 September, mahasiswa yang merantau akhirnya mengurungkan niat untuk pulang terlebih dahulu karena jika mau pulang waktunya hanya sedikit,” ujarnya.
Ia berharap informasi mengenai jadwal PLP II dapat disampaikan lebih awal agar mahasiswa memiliki waktu yang cukup untuk melakukan persiapan.
“Kalau bisa, kami mengetahui jadwal PLP minimal dua minggu atau paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan,” titahnya.
Ia menilai pemberitahuan yang terlalu mendadak akan menyulitkan mahasiswa dalam menyesuaikan agenda yang telah disusun.
“Kalau tidak ada informasi mengenai timeline, kemudian tiba-tiba diberitahu bahwa PLP dilaksanakan minggu depan atau bahkan lusa, tentu akan memberatkan karena kami tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan,” pungkasnya.
Reporter : Dwi Khoiriyatun Nikmah


