
Amanat.id-Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mengadakan Forum Hearing dan Silaturahmi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) membahas rancangan awal kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di teater IsdB Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK), Kamis (2/7/2026).
Forum hearing tersebut memuat beberapa informasi serta rancangan yang ditawarkan oleh DEMA UIN Walisongo untuk PBAK 2026 di antaranya:
1. PBAK dilaksanakan tanggal 18-20 agustus 2026
2. Akan dibentuk panitia pengawas yang terdiri dari birokrasi dan DEMA UIN Walisongo untuk memantau berjalannya Expo UKM, mengantisipasi adanya kendala seperti tahun-tahun sebelumnya
3. Stand UKM dilaksanakan pada hari ke-1 dan ke-2 yang berlokasi di jalan menuju kampus 2
4. Stand akan dipindahkan di lokasi visit UKM pada hari ke-3
5. Durasi expo UKM selama 2 Jam dan visit UKM selama 1 Jam
6. Expo UKM dan Visit UKM terbagi menjadi dua tempat yaitu di Gedung Serba Guna (GSG) dan Auditorium 2 Kampus 3
7. DEMA UIN Walisongo menghimbau kepada UKM untuk tidak adanya penarikan biaya selama kegiatan PBAK berlangsung
8. Expo UKM Fakultas ditiadakan
Anggota UKM Pagar Nusa, Rifqi Fadhila Alaammusyaffa mengaku kurang sepakat dengan pelaksanaan expo UKM PBAK 2026 dilaksanakan di dua tempat.
“Saya pribadi lebih fair pelaksanaan expo dilaksanakan seperti tahun lalu di lapangan. Kalau dibagi di dua tempat, kami selaku UKM terasa menguras waktu dan energi karena harus tampil dua kali. Tapi plusnya maba jadi nyaman dan tidak panas,” ujarnya.
Menurut Rifqi, pelaksanaan visit UKM yang terbagi di dua tempat dinilai kurang efektif karena keterbatasan SDM tiap UKM.
“Juga pelaksanaan visit UKM yang terbagi dua tempat saya rasa kurang efektif dan perlu ditinjau ulang, mengingat sumber daya manusia anggota UKM yang kurang,” katanya.
Rifqi memberikan perumpamaan salah satu UKM terkait sumber daya manusia yang dikerahkan saat kegiatan PBAK berlangsung.
“Seperti UKM KSR yang harus stay saat PBAK berlangsung, tentu anggotanya akan semakin sedikit yang menghandle vist UKM. Kalau anggotanya sedikit siapa yang akan meramaikan?,” terangnya.
Dalam pertemuan tersebut, Rifqi mengaku belum ada solusi untuk teknis pelaksanaan vist UKM PBAK 2026 mendatang.
“Yang masih belum solutif adalah visit di dua tempat yang belum ada respon. Yang direspon hanya mengenai expo tampilan. Tapi kembali lagi, kegiatan ini audiensi awal. Semoga nanti ada audiensi berikutnya, utamanya membahas visit,” lanjutnya.
Serupa dengan Rifqi, anggota UKM Walisongo Sport Club (WSC), Marlisa Dwi Cahyani membandingkan kegiatan pelaksanaan PBAK tahun sebelumnya dengan tahun ini yang rencananya terdapat peniadaan biaya saat PBAK 2026 berlangsung.
“Tahun ini tidak ada pemungutan biaya secara langsung saat PBAK, sementara tahun sebelumnya selalu ada biaya sebesar Rp15.000,00,” titahnya.
Marlisa mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari adanya pembatasan biaya pada pelaksanaan PBAK 2026.
“Ketika tidak ada pemungutan biaya memang minat maba bisa jadi lebih banyak, tetapi minim kas untuk pemasukan UKM,” ujarnya.
Marlisa berharap tetap ada biaya pendaftaran ketika PBAK 2026 berlangsung dengan mengurangi nominal sebelumya.
“Kami dari UKM harapannya tetap diadakan namun dirubah dengan nominal yang lebih rendah, katakanlah minimal sepuluh ribu,” harapnya.
Reporter: Muhammad Geizka Arielta


