
Amanat.id– Aliansi Mahasiswa Walisongo (AMW) menggelar aksi solidaritas dan mimbar bebas sebagai respon kecelakaan truk bermuatan besar Silayur di depan Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Selasa (14/4/2026).
Dalam aksi tersebut, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, Muhammad As’ad Hasanudin menyampaikan tiga tuntutan utama sebagai berikut:
1. Menuntut keterbukaan terkait adanya truk besar tiga sumbu yang melewati Jalan Prof. Hamka karena adanya dugaan praktik upeti yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang
2. Menuntut solusi jangka pendek dengan dibangunnya portal pertigaan lampu merah Jerakah dan BSB
3. Menuntut pembangunan jalan lingkar antara BSB hingga Mangkang
As’ad mengatakan aksi solidaritas tersebut digelar untuk mewakili keresahan masyarakat akibat laka lantas Silayur yang terjadi.
“Melihat rentetan kecelakaan dari tahun 2020 hingga kemarin, banyak keresahan datang dari masyarakat terkait respon Pemkot Semarang,” tuturnya.
As’ad menjelaskan bahwa pihaknya telah mengundang para pemangku kebijakan untuk turut hadir dalam aksi solidaritas.
“Kami telah mengirimkan surat undangan kepada Walikota, Ketua DPRD, Kasatlantas Polrestabes, Kadishub Kota Semarang sejak Senin, tetapi hingga saat ini belum ada respon jelas dari pihaknya,” paparnya.
Ia juga memastikan akan terus mengawal isu tersebut dengan aksi lanjutan sampai mendapatkan respon dari pihak berwenang.
”Kami akan terus mengawal solusi isu ini dalam seminggu ke depan. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga masa depan masyarakat sekitar,” ucapnya.
Koordinator Lapangan (Korlap), Muhammad Yusrul Rizanul Muna mendesak Pemangku kebijakan untuk memastikan langkah konkret seperti pembangunan jalur penyelamat dan pengaturan portal sesuai jam operasional.
”Setelah kejadian, Dishub sudah melakukan pengawasan area sekitar BSB dan Ngaliyan, tetapi kami menginginkan solusi konkrit seperti jalur penyelamat, portal yang disesuaikan dengan jam operasional, serta pengawasan total,” jelasnya.
Ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang yang memberikan tanggapan setelah diajukannya somasi.
”Saya memberikan cukup apresiasi kepada Pemkot Semarang atas tanggapan mengenai tuntutan kami setelah dilakukannya somasi,” tuturnya.
Mahasiswi PGSD UNNES, Bilqis turut menyuarakan aspirasinya sebagai perempuan dalam aksi solidaritas.
”Disini saya sebagai Aliansi Mahasiswa Ngaliyan ikut menyuarakan terkait kenyamanan dan keamanan perempuan yang belum terjamin ketika berkuliah di Ngaliyan, terutama di jalan sekitar Prof Hamka,” terangnya.
Ia berharap pemerintah bisa memberikan ruang aman untuk masyarakat dengan mengevaluasi dan tindak tegas di setiap permasalahan.
”Mahasiswa harus lebih berani. Perlu menyuarakan aspirasi dalam diri kita yang dirasa janggal. Semoga ada tindakan dan evaluasi tegas yang memberikan dampak luas bagi masyarakat sekitar Ngaliyan, supaya tercipta ruang aman dan nyaman,” tutupnya.
Reporter: Adhilni Mizaniyatul Ilmi
Editor: Irbah Fatin


