
Amanat.id- Tim Planetarium dan Observatorium Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali mengadakan Rukyatul Hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriyah di Gedung Zubair Umar Al-Jailani, Selasa (17/2/2026).
Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Ahmad Syifaul Anam menjelaskan hilal tidak dapat disaksikan karena posisi bulan dan matahari belum mengalami konjungsi.
“Matahari sudah tenggelam, tetapi hilal bulan belum muncul, atau bahkan lebih dahulu tenggelam. Jadi memang tidak mungkin bisa disaksikan,” jelasnya.
Ia menegaskan Rukyatul Hilal tetap dilaksanakan untuk memastikan secara faktual bahwa hilal benar-benar tidak terlihat.
“Rukyat tetap dilakukan untuk membuktikan secara langsung bahwa hilal memang tidak terlihat, sehingga keyakinan tersebut tidak hanya berdasarkan perkiraan, melainkan melalui pengecekan dan konfirmasi di lapangan lewat Rukyatul Hilal,” tegasnya.
Syifauk Anam mengatakan Rukyatul Hilal tetap dilaksanakan karena bagian dari perintah Nabi untuk memastikan penetapan awal bulan secara benar.
“Pelaksanaan Rukyat merupakan bagian dari perintah Nabi dan termasuk bentuk ibadah untuk memastikan penetapan awal bulan secara benar,” imbuhnya.
Ia menyebutkan terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai kewajiban rukyat ketika hilal belum lahir.
“Ulama berbeda pendapat terkait kewajiban rukyat. Jika hilal belum berada di atas ufuk maka rukyat dinilai tidak wajib. Namun, akan menjadi fardu kifayah jika hilal telah berada di atas ufuk. Dalam kondisi hilal belum lahir, pelaksanaannya bersifat mubah meski dapat dilakukan,” paparnya.
Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indoesia (LDII) Semarang, Indarwanto menyebut pelaksanaan rukyat tetap penting dilakukan sebagai bentuk verifikasi langsung.
“Untuk memastikan saja ya, dengan teleskop atau dengan teropong itu. Walaupun tidak terlihat kita tetap mengadakan karena ini sudah rutin diadakan oleh UIN Walisongo setiap bulan,” tuturnya.
Ia menambahkan adanya perbedaan dalam menentukan awal Ramadan tidak perlu dipermasalahkan.
“Perbedaan penentuan awal Ramadan tidak perlu dipermasalahkan,” tutupnya.
Reporter: Ahmad Dawud Khairudin
Editor: Romaito


