
Amanat.id- Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Eky Adelia Sari meraih Wisudawan terbaik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) pada wisuda ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Mahasiswa asal Jepara tersebut mengangkat skripsi berjudul “The Impact of Parenting on Children’s Problematic Behavior: A Behavioristic Analysis of The Character Zain Al-Rafeea in The Film Capernaum“.
Eky memiliki hobi menonton film atau series, lalu menyatukan adegan film dengan teori yang ia pelajari.
“Cara belajar saya adalah menyatukan adegan film dengan teori, dengan menonton film atau series saya belajar banyak,” katanya.
Eky memulai terpikir untuk mengangkat film Capernaum menjadi tugas akhirnya bermula dari mata kuliah Penulisan dan Publikasi.
“Ketika dosen mata kuliah Penulisan dan Publikasi memberikan tugas membuat judul untuk tugas akhir, saya teringat film Capernaum yang mengisahkan tentang kerusakan perilaku anak yang disebabkan oleh pola asuh orang tuanya,” jelasnya.
Pada penelitiannya, Eky mengambil sudut pandang analisis behavioristik terhadap karakter Zain dalam film Capernaum yang menjelaskan bahwa perilaku problematik adalah bentuk pertahanan diri.
“Film Cepernaum membahas dampak pola asuh orang tua ke anak yang diakibatkan dari mekanisme Stimulus-Responds, imitasi dan negative reinforcement yang dialami Zain,” terangnya.
Eky memaparkan penelitiannya berfokus pada perilaku tokoh Zain yang digambarkan nakal hingga melakukan kekerasan fisik.
“Karakter Zain yang nakal bukanlah kesalahannya. Ia belajar, melihat, dan bertindak dari lingkungan yang tidak baik yaitu berasal dari pola asuh yang toxic. Itu cara mereka bertahan hidup,” papar Eky
Meskipun ia telah meneliti hubungan pola asuh dan perilaku anak pada karakter sebuah film, Eky mengaku masih memiliki celah yang dapat dikembangkan dalam penelitiannya.
“Ada keterbatasan dalam penelitian saya. Kita sudah melihat perilaku orang tua Zain, tapi kita belum membedah lebih dalam apakah faktor ekonomi, budaya, atau kondisi politik yang memengaruhi emosi mereka hingga bersikap demikian,” tuturnya.
Eky beranggapan bahwa gelar wisudawan terbaik bukanlah standar utama.
“Jika IPK menjadi standar, tentu saja saya yang pertama, tetapi jika standar wisudawan terbaik diubah selain IPK, bisa jadi saya yang terakhir,” ucapnya.
Ia mengaku tidak pernah mengikuti organisasi apa pun selama menempuh pendidikan di kampus.
“Saya tidak pernah mengikuti organisasi apa pun karena saya takut IPK saya turun, tetapi bagi teman-teman yang mengikuti organisasi pasti pengalaman akan menjadi penyeimbang angka IPK,” akunya.
Eky juga pernah ingin menyerah, yaitu ketika pandemi covid 19 yang mengharuskan ia merantau jauh dari keluarga.
“Pernah ada perasaan ingin menyerah ketika semester 1, yang di mana waktu pandemi saya sangat dekat dengan keluarga, tetapi tiba-tiba saya harus pergi jauh dari keluarga,” tuturnya.
Belajar dari pengerjaan tugas akhirnya, Eky berpesan untuk memulai suatu hal dari apa yang disenangi.
“Mulailah dari hal yang kita suka, dari situ kita akan menemukan motivasi,” tutupnya.
Reporter : Ade Rizqi
Editor : Azkiya Salsa Afiana


