
Amanat.id– Informasi iuran tasyakuran wisuda Fakultas Sains dan Teknologi (FST) periode Februari 2026 yang dikoordinasikan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA)-F Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo memunculkan beragam tanggapan dari calon wisudawan, Rabu (04/02/2026).
Iuran tasyakuran tersebut bersifat wajib melalui rapat koordinasi secara daring pada 20 Januari lalu. Namun, tidak ada pembaruan informasi mengenai rincian penggunaan anggaran setelahnya.
Calon wisudawan Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia, Rani (bukan nama sebenarnya) mengatakan pembahasan iuran dilakukan dalam forum rapat daring.
“Sebelumnya dari panitia mengadakan rapat koordinasi melalui zoom meeting antara panitia, perwakilan DEMA FST, dosen penanggung jawab, serta calon wisudawan,” jelasnya.
Rani mengatakan jika dalam rapat tersebut para calon wisudawan diberikan beberapa opsi terkait pelaksanaan pelepasan wisuda.
“Kita diberi dua pilihan untuk lokasi wisuda, pertama di auditorium kampus 1 sekitar Rp180.000-an dan pilihan kedua di hotel dengan iuran sebesar Rp 223.000. Namun, setelah koordinasi lagi terkait biaya, iuran ditetapkan sebesar Rp215.000,” lanjutnya.
Calon wisudawan Prodi Pendidikan Matematika, Nabila (bukan nama sebenarnya) menyebutkan iuran dan prosesi pelepasan wisuda ini bersifat wajib bagi seluruh wisudawan FST saja.
“Iuran tersebut wajib bagi semua prodi di FST dan semua calon wisudawan FST juga wajib mengikuti pelepasan wisuda. Untuk kebijakan iuran wisuda fakultas itu tergantung fakultasnya masing-masing,” katanya.
Ia menjelaskan terdapat usulan dari para calon wisudawan agar nominalnya dapat dikurangi.
“Sempat terjadi perubahan nominal iuran karena dari wisudawan ada yang mengusulkan pengurangan alokasi dana agar memperkecil nominal iuran. Dari hasil rapat, para wisudawan sepakat untuk meniadakan live streaming dan meminta agar harga samir dan vandel lebih ditekankan,” lanjutnya.
Calon wisudawan Prodi Kimia, Satria (bukan nama sebenarnya) mengatakan tidak ada pembaruan informasi mengenai rincian penggunaan anggaran setelah rapat koordinasi berlangsung.
“Sebenarnya saat rapat online alokasinya sudah disampaikan untuk apa saja. Namun, setelah terjadi perubahan tempat, vandel, dan penghapusan live YouTube berdasarkan polling. tidak ada lagi penjelasan rinci soal penggunaan anggaran,” tuturnya.
Ia menegaskan perlunya pembaruan dan pelaporan karena dana berasal dari wisudawan.
“Seharusnya terdapat pembaruan dan pelaporan penggunaan anggaran karena dana berasal dari wisudawan,” sambungnya.
Calon wisudawan, Aril (bukan nama sebenarnya) mengaku ia merasa nominal iuran tersebut cukup membebani.
“Secara pribadi, aku keberatan. Bukan karena menolak kegiatannya, tapi lebih nominalnya. Karena kondisi keuangan tiap mahasiswa berbeda-beda dan tidak semua bisa mengeluarkan biaya tambahan dengan mudah,” ujarnya.
Aril mengatakan perlu disampaikan pelaporan secara rinci dan transparansi dana dari iuran tasyakuran wisuda tersebut.
“Harusnya setelah kegiatan ada pelaporan rinci beserta bukti pembayaran alokasi pemakaian anggarannya sebagai pertanggungan jawaban saja, biar wisudawan tau uangnya dipakai semua atau ada pihak yang ambil untung,” tutupnya.
Reporter: Friciliya Lutfiah Zulva Romadhoni
Editor: Romaito


