By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Simulakra dan Cermin Kejahatan Anak
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
simulakra dunia fantasi
Sumber Ilustrasi: Monitorulcj.com
Artikel

Simulakra dan Cermin Kejahatan Anak

Last updated: 10 April 2020 5:30 pm
Ibnu A
Published: 9 April 2020
Share
SHARE
simulakra dunia fantasi
Sumber Ilustrasi: Monitorulcj.com

Di Pertengahan Maret  2020 lalu seolah dibuka dengan beberapa fenomena tak manusiawi. Yakni terjadinya beberapa kasus kekerasan pada anak. Februari lalu misalnya kasus di SMP Muhammadiyah Purworejo, di mana tiga anak yang masih di bawah umur melakukan penganiyaan terhadap teman sekelasnya. Meskipun tidak sampai mengakibatkan hilangnya jiwa, namun hal ini menjadi gambaran miris dengan kondisi anak indonesia.

Tak genap sebulan, hati nurani kita dibuat terbelalak dengan kemunculan kasus pembunuhan terhadap anak yang berusia 5 tahun di Karang Anyar, Sawah Besar Jakarta Pusat pada 5 Maret. Ironisnya, sang pelaku adalah seorang gadis yang masih berusia 15 tahun. Sontak kejadian tersebut membuat geger di dunia maya ataupun dunia nyata.

Bagaimana tidak, kasus yang terjadi pada seorang yang masih belum matang dalam berfikir mampu melakukakn perencanaan pembunuhan yang sulit dinalar. Ia sempat menggambarkan sketsa rancangan pembunuhanya dengan detail. Korban balita itu ditenggelamkan kedalam bak mandi kemudian dicekik, setelah korban tak bernyawa lantas ia menyembunyikan mayat tersebut di almari tempat ia menyimpan baju.

Kejadian tersebut terungkap setelah ia melaporkan diri telah membunuh tetangganya. Bahkan ketika ditanya aparat kepolisian ia tak merasakan penyesalan sedikitpun.

Setelah kasus ini didalami muncul beberapa faktor yang melatar belakangi tindakan sadis ini. Dalam penyelidikan polisi ia terinspirasi dari Fillm Chucky dan The Slinder Man adalah film favorit yang disukai.

Film yang disukai pelaku diketahui sarat dengan aksi pembunuhan dan sadisme, mana kita tahu film Chuucky atau boneka chuky adalah film yang menceritakan sebuah boneka yang bisa hidup dan gemar melakukan pembunuhan. Sedang The Slinder Man adalah karakter fiksi lelaki yang diceritakan sebagi sosok tanpa wajah dengan tentakel yang suka menculik dan melukai orang, terutama anak-anak.

Realitas Buatan

Praktik tindak pembunuhan sadis yang dilakukan anak di Jakarta Pusat ini barang kali ini termasuk implikasi dari perkembangan dunia fantasi yang dibentuk dalamnya.

Jean Baudrilllard menggambarkan manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra—sebuah gambar dan citra semata—. Manusia saat ini hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi dan fantasi, hampir tidak ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru (Simulacra and Simulation: 1981).

Ragam tampilan bercitra indah tersebut dihadirkan seolah nyata tetapi sejatinya sarat rekayasa. Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulacra, yaitu konsep daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya.

Baudrillard mencontohkan media lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tidak lagi mencermirkan realitas tapi mendramatisasi peristiwa. Dia menyebutnya sebagai “cyberblitz“.

Di era masyarakat digital, kehadiran teknologi informasi dan internet memang menawarkan berbagai informasi baru. Dunia maya yang tanpa batas ini, sering kali menawarkan pengaruh buruk tindak kekerasan yang mudah ditiru anak jika tidak ada edukasi yang benar dan monitoring secara intens.

Hingga kemudian tak kaget jika ada seorang anak yang setiap hari mengakses dan mengonsumsi video atau film yang sarat dengan konten kekerasan, cepat atau lambat, niscaya akan terpengaruh. Kemungkinan terburuknya bagi anak-anak yang secara psikologis bermasalah, bukan tidak mungkin mereka kemudian mempraktikkan apa yang dilihat sebagai raealiats buatan itu pada dunia nyata.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap data pengguna internet terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, pengguna terbanyak kedua berada pada umur 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun pun juga menggunakan internet, bahkan mencapai 25,2 persen dari keseluruh sampel yang berada pada umur tersebut.

Hal ini menunjukan para pengguna, khususnya anak paling berpotensi meniru apa yang ia konsumsi sehari-hari. Khususnya jika akses internet sudah masuk dalam kategori candu bagi sang anak. Tanpa disertai dengan pengawasan dan pemahaman khususnya akses internet era digital ini.

Peran penting keluarga sangat dibutuhkan sebab mereka yang sebenarnya lebih dekat dengan sang anak. Kiranya hal itu sesuai dengan ungkapan yang tidak asing di telinga kita “Tidak ada anak yang salah, yang salah adalah orangtua abai”.

Penulis : Ibnu A.

Pahami Self Love Agar Tak Hanyut pada Standar Orang Lain
Laksanakan Wisuda 1 Sesi, UIN Walisongo Luluskan 629 Wisudawan Periode November 2023
Yuk Cek Akreditasi Terbaru 6 Prodi S1 FITK UIN Walisongo di Sini!
Ahmad Ismail Tekankan 2 Hal Penting bagi Para Guru Profesional
Akhiri PBAK 2024, Mahasiswa Baru UIN Walisongo Penuhi Landmark Sambil Nyanyikan Yel-yel
TAGGED:dunia simulacrafantasijean baudrillardkejahatan anakremaja 15 tahunuin walisongo
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Artikel

Perebutan Ruang Publik dan Posisi Mahasiswa

Sigit A.F
23 Desember 2018
Pentas Teater Koin FEBI UIN Walisongo “Mantep”: Kisah Kelam Dispensasi Nikah
Membentuk Karakter Berbahankan Sampah Manusia
Stadium General BAZNAS, Peran Penyuluh Agama dalam Meminimalisir Bencana
Nizar Ali; Guru Profesional Harus Tetap Belajar dan Berkontribusi dalam Pendidikan
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Simulakra dan Cermin Kejahatan Anak
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Simulakra dan Cermin Kejahatan Anak
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?